
Saya
tidak tahu, pulau apa namanya, beberapa hali yang lalu saya hanya bisa menatap
dari seberang, tidak ada perahu yang membawaku kesana, jembatanpun masih
tertutup untuk umum, truk material dan pekerja proyek yang lalu lalang yang
berpeluh menata surga kecil diseberang. Beberapa kali saya kesini, namun belum
ada kesempatan menikmati Indahnya Pulau Bidadari ini meski terlihat kering
menahan gejolak kemarau, bunga bunga tropis masih memancarkan pesona wangi,
rumput liar masih terlihat ranum, mengingatkanku pada masa kecil dimana harus
menggembalakan kerbau selepas sekolah.
Sisi
kanan pulau disiapkan pentas kecil dimana pertunjukan dapat dinikmati dengan
anggun, berbeda dengan hamparan pasir diseberang dimana dapat dilaksanakan
drama kolosal dengan lebih dari seribu gandrung, di Pulau Kecil ini sepertinya
hanya untuk tidak lebih dari seribu orang penonton. Meskipun juga dapat
dinikmati dari seberang dimana pentas ini tepat dibibir pulau sehingga semilir
sepoi laut dengan bebas dinikmati. Perahu pedagang dari pulau pulau kecil
Sekitar pulau Sulawesi berlabuh di Pulau utama untuk menurunkan dagangannya,
dua hari dua malam perjalanan laut tidak membuat mereka mabuk perjalanan, bagi
mereka perahu perahu itu telah menjadi tempat tinggalnya.
Saya
bertanya pada seorang pekerja yang kebetulan melintas tentang nama Pulau ini,
namun mereka juga tidak tahu nama dari pulau tersebut. Ya sudahlah apa arti
sebuah nama, meskipun penasaran itu akan saya bawa pulang dan akan terobati
ketika suatu saat nanti saya sudah menemukan informasi nama pulau ini. Biarlah
saya menyebutnya dengan Pulau Bidadari, sebagaimana pagi ini saya ditemani
perempuan cantik menyusuri lekuk tubuh pulau tanpa lelah.
Gedung
dengan bangunan segitiga kokoh menghadap laut, sepertinya sebuah gedung
pertemuan, disampingnya ada bangunan kecil yang juga berbentuk segitiga hanya
berisi beberapa kursi saja. Saya tidak tahu mengapa bangunan ini berbentuk
segitiga. Mungkin ketika hujan air dengan mudah mengalir, atau ada filosofi
lain yang saya tidak tahu dengan makna dari segitiga tersebut, mungkin segitiga
dianggap paling aman sebbagaimana saya juga menggunakannya.
Konon jembatan ponton bukan untuk cadik nelayan, namun untuk scocy dengan kecepatan tinggi yang dengan cepat menghubungkan Pulau Jawa dengan Pulau Bali. Dermaga kecil itu terlihat Indah dengan beberapa ponton dan jalan mengapung diatas air jernih dimana beberapa ikan dengan bebas beraktifitas. Meskipun panas mulai menyengat, perempuan cantik yang menamaniku pagi itu tetap semangat mengantarku menyusuri beberapa sudut pulau yang sudah tidak terlihat liar. Beberapa bangunan baru berdiri ditengah pulau yang sepertinya beberapa saat lagi dapat dengan resmi dikunjungi. Saya tidak tahu apakah rumput rumput liar ini akan masih dapat tumbuh bebas ketika banyak tangan yang membelainya.
Konon jembatan ponton bukan untuk cadik nelayan, namun untuk scocy dengan kecepatan tinggi yang dengan cepat menghubungkan Pulau Jawa dengan Pulau Bali. Dermaga kecil itu terlihat Indah dengan beberapa ponton dan jalan mengapung diatas air jernih dimana beberapa ikan dengan bebas beraktifitas. Meskipun panas mulai menyengat, perempuan cantik yang menamaniku pagi itu tetap semangat mengantarku menyusuri beberapa sudut pulau yang sudah tidak terlihat liar. Beberapa bangunan baru berdiri ditengah pulau yang sepertinya beberapa saat lagi dapat dengan resmi dikunjungi. Saya tidak tahu apakah rumput rumput liar ini akan masih dapat tumbuh bebas ketika banyak tangan yang membelainya.

Akhirnya
saya harus rela meninggalkan pulau bidadari ini, biarkan waktu yang akan
menjawabnya, apakah pulau ini masih tetap dinamakan Pulau, ataukah sudah
dianggap menjadi satu dengan Pulau Jawa dengan Jembatan mirip kepompiong yang
menghubungkannya, entahlah. Mungkin beberapa bulan lagi saya harus ke Pulau ini untuk memastikannya. (Pantai Boom,
Minggu 15 September 2019)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Jaga kesopanan dalam komentar