Pages

Tradisi Kebo-keboan Alasmalang Banyuwangi, Kearifan Lokal yang Tak Tergerus Zaman

BANYUWANGI - Ritual adat Kebo-keboan Alasmalang yang digelar masyarakat Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi, Minggu (28/6/2026), berlangsung meriah. Ribuan orang memadati lokasi digelarnya tradisi yang menjadi ungkapan rasa syukur sekaligus doa bersama untuk tanah yang subur dan hasil panen berlimpah.

Ritual ini dimulai dengan kenduri desa atau makan bersama dengan hidangan tumpeng dan lauk khas tradisional Pecel Pithik.

Ritual dilanjutkan dengan "ider bumi". Dimana puluhan "kerbau" mengelilingi desa dengan arah empat penjuru arah mata angin.

"Kerbau" yang dimaksud bukanlah hewan ternak, melainkan warga desa yang menyerupai kerbau. Badannya dilumuri jelaga hingga hitam pekat seperti kerbau, di kepalanya juga mengenakan asesoris berbentuk tanduk dan gelang kerincing di tangan dan kakinya. 


Bupati Banyuwangi Ipuk mengatakan tradisi Kebo keboan menjadi bagian dari kultur warga agraris yang kuat. Tradisi yang masih lestari ini menunjukkan komitmen warga dalam menjaga kearifan lokal.

"Tradisi ini telah berlangsung ratusan tahun. Warga melestarikannya dengan melaksanakannya secara turun temurun. Saya sampaikan apresiasi kepada sesepuh adat, budayawan, pemuda Alasmalang dan semua yang menjaga nyala tradisi tetap hidup," kata Ipuk saat menyampaikan sambutannya


Ipuk melanjutkan tradisi Kebo-keboan bukan hanya sekedar tradisi tapi budaya yang membangun karakter. Dalam tradisi ini terkandung nilai kerja keras gotong royong dan disiplin dari masyarakat agraris.

"Nilai ini sesuai dengan semangat Banyuwangi "tandang bareng" kerja bersama, tumbuh bersama. Dimana semua capaian prestasi dan hasil kinerja Banyuwangi hasil gotong royong seluruh masyarakat," ujarnya.

Trafisi Kebo-keboan berlangsung dengan cara "kerbau" diarak keliling penjuru desa. Mereka berjalan seperti kerbau yang sedang membajak sawah, berkubang, bergumul di lumpur, dan bergulung-gulung di sepanjang jalan yang dilewati. Saat berjalan di perut mereka ditali seperti kerbau. 

Tradisi ini menarik wisatawan asing, Tara, dari Amerika Serikat. Ia nampak kagum dan takjub melihat arak arakan kebo keboan. 

"Ini sangat unik. Saya belum pernah melihat hal seperti ini sebelumnya. Menakjubkan," ujar Lara, sebelumnya ia juga yelah mendaki ke Gunung Ijen.

Sementara itu ritual adat Kebo-keboan juga menjadi berkah bagi warga sekitar. Salah satunya Siti yang memiliki warung disekitar area acara. Ia mengaku senang setiap berlangsungnya acara selalu menyedot banyak pengunjung.

"Mulai minuman, camilan, semuanya laris, Alhamdulillah," ujarnya.

Tradisi Kebo-keboan sudah ada sejak abad ke-18 Masehi dan berasal dari kisah Buyut Karti, yang mendapat wangsit untuk menggelar upacara bersih desa dengan cara menjelma menjadi kerbau. Kebo-keboan ini juga dilaksanakan di Desa Aliyan, Rogojampi. (*)

Usai Supercross Lanjut Kejurnas, Sirkuit BMX Banyuwangi Bawa Berkah Bagi Ekonomi Warga

BANYUWANG - Sirkuit BMX Banyuwangi membawa berkah bagi ekonomi warga lokal Banyuwang. Usai gelaran Banyuwangi BMX Supercross, yang baru saja usai digelar, 27-28 Juni, Indonesia Cyxling Federation (ICF) menjadikan Banyuwangi sebagai tuan rumah Kejuaraan Nasional (Kejurnas) BMX, Sabtu-Minggu (4-5 Juli), 

Kejuaraan yang akan diikuti para atlet BMX dari berbagai daerah di Indonesia ini, membuat perputaran ekonomi warga lokal berlanjut. Banyak pembalap yang mengikuti Supercross, memilih untuk menambah waktu stay mereka di Banyuwangi, sambil menunggu Kejurnas yang juga akan digelar di sirkuit berstandart Olimpiade tersebut. 

"Banyak pembalap yang mengikuti Supercross, tinggal di Banyuwangi untuk mengikuti Kejurnas. Ini menjadi perputaran ekonomi bagi warga lokal," kata Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat ICF, Jadi Rajagukguk. 


Sebelumnya Banyuwangi BMX Suoercross diikuti 343 peserta dari berbagai provinsi di Indoesia serta mancanegara. Mereka semua membawa rombongan tim official, hingga keluarga yang mendampingi selama acara. Bahkan diantaranya banyak yang datang jauh hari sebelum kompetisi dimulai untuk berlatih intensif. Warga sekitar turut mendapatkan manfaat ekonomi dari keberadaan mereka.

"Kejurnas juga akan diikuti oleh ratusan pembalap dari berbagai daerah di Indonesia. Ini juga akan menjadi perputaran ekonomi bagi warga lokal," tambah Jadi. 

Salah satu warga Yuli (50), pemiliki warung makanan dan minuman yang berada di pinggir jalan masuk menuju sirkuit bersyukur kembali digelar kejuaraan. . 

Yuli menceritakan sebelum ada sirkuit BMX, area tempat tinggalnya merupakan tanah persil perkebunan yang sangat sepi. Namun sejak ada sirkuit dan sering digelar kompetisi, wilayahnya menjadi ramai. Warga pun memanfaatkannya dengan membuka aneka usaha.

“Dulu disini sepi, tapi sejak ada sirkuit jadi ramai, warga disini semuanya bersyukur ada sirkuit karena mereka jadi bisa buka usaha. Apalagi kalau ada lomba seperti sekarang warung saya tambah ramai, omset naik drastis,” ujar Yuli.

Tidak hanya mendapat penghasilan dari membuka warung makanan dan minuman, Yuli juga sampai membangun rumah untuk disewakan sebagai tempat tinggal peserta kompetisi BMX, karena banyak permintaan. Seperti sekarang rumahnya disewa selama sepuluh hari oleh tim dari luar daerah. 

“Alhamdulillah penghasilannya jadi double kalau ada lomba di sirkuit dari warung dan penyewaan rumah. Harapan saya bisa sering diadakan lomba disini,” ujar Yuli.

Warga lainnya Tumini, yang rumahnya berada persis di samping sirkuit membuka usaha warung, penyewaan kendaraan, dan toilet umum.

Dia bersyukur di desanya dibangun sirkuit BMX berstandar internasional, yang kerap dijadikan venue kompetisi bergengsi yang diikuti ratusan atlet dari berbagai daerah, bahkan mancanegara.

“Sirkuit BMX ini sangat menguntungkan. Karena sering ada lomba, kami ikut kecipratan rezeki dengan berjualan makanan, menyewakan kendaraan, dan toilet umum,” ujarnya.

Hal yang sama diutarakan Dewi yang menjadi pedagang makanan dadakan setiap kali ada kegiatan lomba di Sirkuit BMX Muncar Banyuwangi. Bahkan, dia mengaku bisa berjualan sejak seminggu sebelum lomba digelar karena biasanya para atlet sudah banyak yang berdatangan untuk berlatih di sirkuit.

“Senang banget. Setiap ada lomba, kami bisa berjualan. Bisa menambah penghasilan keluarga. Kami inginnya sering-sering ada lomba” ujarnya. (*)

Taklukkan Juara Asia, Timnas Indonesia Kawinkan Gelar Juara Banyuwangi BMX Supercross 2026

BANYUWANGI (Warta Blambangaan)  Banyuwangi BMX Supercross 2026 hari kedua, yang digelar di Sirkuit BMX Banyuwangi, Minggu (28/6/2026), berlangsung sengit. Pembalap tim nasional Indonesia, Rio Akbar, berhasil merebut gelar juara kategori men elite dari juara Asia rider asal Timbas Thailand, Komet Sukprasert. 


Keberhasilan Rio membuat Timnas Indonesia berhasil mengawinkan gelar juara setelah di kategori women elite pembalap Timnas lainnya, Amellya Nur Sifa, berhasil mempertahankan gelar juara. 

Rio membalas hasil hari pertama yang hanya finis di posisi kelima, Sabtu (27/6/2026). Pada final hari kedua ini, salah satu pembalap senior Indonesia itu tampil konsisten hingga mencatatkan waktu tercepat 43,110 detik, unggul tipis atas Komet Sukprasert yang membukukan waktu 43,304 detik.

Persaingan berlangsung ketat sejak start. Posisi ketiga dan keempat ditempati pembalap Indonesia Firman Chandra Alim serta Yussi Wakhidur Rizal yang turut menguasai papan atas kategori bergengsi tersebut.

"Alhamdulillah, saya sangat bersyukur bisa meraih hasil terbaik. Persaingannya sangat ketat karena semua pembalap sangat cepat, terutama Komet yang merupakan juara Asia. Kunci kemenangan hari ini adalah menjaga ritme balapan sejak awal hingga finis," kata Rio.

Menurut Rio, sirkuit BMX Banyuwangi yang menjadi trek terpanjang di dunia ini, menjadi tantangan tersendiri karena tidak hanya membutuhkan teknik, tetapi juga strategi mengatur stamina selama balapan.

"Jadi, strateginya mengatur waktu istirahat setelah moto dan memaksimalkan recovery. Kami juga menjaga asupan karbohidrat agar tenaga tetap terjaga. Trek Banyuwangi sangat panjang dan menantang. Sedikit saja melakukan kesalahan bisa berakibat fatal karena di sini bukan hanya soal skill, tetapi juga bagaimana menyimpan tenaga sampai finis," ujarnya.

Rio mengaku hampir tidak pernah absen mengikuti Banyuwangi BMX Supercross. Ia mengatakan kualitas penyelenggaraan maupun kemampuan para rider nasional terus meningkat dari tahun ke tahun.

"Dari tahun ke tahun kualitas trek semakin baik dan kemampuan para pembalap Indonesia juga terus berkembang. Semoga adik-adik pembalap tetap semangat berlatih dan terus berproses menjadi lebih baik," ucapnya.

Sementara Komet Sukprasert mengakui gagal mempertahankan gelar setelah mengalami kelelahan menjelang babak final. Meski demikian, juara SEA Games 2025 sekaligus ASEAN BMX Racing Cup 2026 tersebut tetap puas bisa mengakhiri lomba di podium.

"Sedikit kecewa karena kemarin saya menang, tetapi hari ini merasa cukup lelah sebelum final. Meski begitu saya senang masih bisa naik podium. Trek Banyuwangi sangat bagus, panjang, dan menantang. Saya harus berlatih lebih keras lagi agar lebih kuat saat kembali berlomba di sini," kata Komet.

Di kategori women elite, Amellya Nur Sifa menjadi yang tercepat setelah mengungguli rider Thailand, Chutikan Kitwanitsathian. Hasil tersebut menjadi modal sebelum Amellya tampil pada UCI BMX Racing World Championships di Brisbane, Australia.

"Saya senang bisa meraih hasil terbaik di Banyuwangi. Trek ini mengajarkan saya untuk terus belajar mengatur tenaga karena lawan terberat sebenarnya adalah diri sendiri. Setelah ini saya fokus mempersiapkan diri menghadapi UCI BMX Racing World Championships di Brisbane," ujar Amellya.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengucapkan selamat kepada para pemenang. Ipuk berharap dengan keberadaan sirkuit yang telah berstandar Olimpiade ini, tidak hanya memperkuat sport tourism, tetapi juga menjadi wadah pembinaan atlet balap sepeda Indonesia.

"Kami ingin Banyuwangi BMX Supercross menjadi tempat lahirnya atlet-atlet berprestasi. Dengan hadirnya pembalap dari berbagai negara, atlet Indonesia mendapat pengalaman bertanding di level internasional tanpa harus ke luar negeri. Ini sekaligus memperkuat Banyuwangi sebagai destinasi sport tourism bertaraf dunia," kata Ipuk. 

Balapan hari terakhir berlangsung dalam tensi tinggi. Final nomor Men Elite diwarnai insiden crash yang menyebabkan salah seorang pembalap terjatuh, namun perlombaan tetap berlanjut hingga garis finis. (*)

Berikut Hasil Banyuwangi BMX Supercross 2026 

Men Elite 

1. Rio Akbar (Indonesia)

2. Komet Sukprasert (Thailand)

3. Firman Chandra Alim (Indonesia)

4. Yussi Wakhidur Rizal (Indonesia)

5. Muhammad Fattahillah (Indonesia)


Women Elite

1. Amellya Nur Sifa (Indonesia)

2. Chutikan Kitwanitsathian (Thailand)


Men Junior

1. Muhammad Firmandhika Alhamzah (Indonesia)

2. Muhammad Bagus Refansha (Indonesia)

3. Fernando Van Persie Augusta (Indonesia).


Women Junior 

1. Balqis Humairah Aji Khairunnisa (Indonesia)

2. Tara Alayna Weilin Bte Muhammad Khalid (Singapore)

3. Karisya Milda (Indonesia).

YSAI Lanjutkan Pendampingan Petambak Tradisional Melalui Pelatihan Budidaya Udang Berkelanjutan

Banyuwangi – Yayasan Sinergi Aquaculture Indonesia (YSAI) bersama Serikat Nelayan Nahdlatul Ulama (SNNU) Kabupaten Banyuwangi, Shrimp Club Indonesia, dan Konservasi Indonesia kembali memperkuat pendampingan bagi petambak tradisional melalui Pelatihan Budidaya Udang Sistem Tradisional Plus dan Natural Habitat. Kegiatan bertema "Meningkatkan Produktivitas Tambak Tradisional yang Berkelanjutan" tersebut berlangsung pada Senin (29/6/2026) di Aula Welas Asih, Muncar, Banyuwangi.

Pelatihan diikuti para petambak tradisional dari berbagai wilayah Banyuwangi sebagai bagian dari upaya meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di sektor budidaya udang. Materi yang disampaikan tidak hanya membahas teknik budidaya, tetapi juga strategi pengelolaan tambak yang produktif, adaptif, dan berkelanjutan.

Perwakilan YSAI, Deddy Poerba, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan kelanjutan dari program pendampingan yang telah dilaksanakan sebelumnya. Menurutnya, pelatihan tersebut memang dirancang untuk menjawab kebutuhan para petambak tradisional agar mampu meningkatkan hasil budidaya melalui penerapan teknologi yang sesuai dengan kondisi tambak.

"Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari pelatihan sebelumnya yang memang difokuskan kepada petambak tradisional. Harapannya, para peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga mampu menerapkannya di lapangan sehingga produktivitas tambak meningkat dan keberlanjutan lingkungan tetap terjaga," ungkap Deddy.

Sementara itu, narasumber utama Ir. Hardi Pitoyo, yang juga Ketua SNNU Kabupaten Banyuwangi, memaparkan berbagai tantangan yang dihadapi tambak di Banyuwangi bagian selatan. Ia menjelaskan bahwa sebagian besar merupakan bekas tambak udang windu intensif yang kini mengalami pendangkalan saluran tambak dan dasar kolam, kerusakan pematang, serta menurunnya kualitas saluran air.

Hardi juga mengulas perkembangan budidaya udang dari masa ke masa, termasuk ancaman penyakit yang pernah menjadi penyebab turunnya produktivitas. Pada era budidaya udang windu, penyakit seperti LV dan MBV menjadi kendala utama. Sementara pada era budidaya vaname berkembang penyakit WSSV, TSV, IHHNV, WFD, hingga AHPND yang memberikan dampak besar terhadap keberhasilan usaha tambak.

Dalam paparannya, Hardi menegaskan bahwa keberhasilan budidaya tambak tradisional sangat ditentukan oleh kelimpahan dan kualitas sumber air, kondisi pematang dan pintu air, kemampuan mempertahankan tinggi muka air kolam, pengendalian hama, mutu benih, ketersediaan pakan alami, serta keamanan tambak.

Ia juga menjelaskan perbedaan karakter antara udang windu dan udang vaname. Udang windu cenderung hidup di dasar kolam, menyukai substrat tanah, lebih tahan terhadap kondisi air dangkal, dan lebih responsif terhadap pakan segar seperti ikan rucah. Sebaliknya, udang vaname lebih aktif berenang di kolom air, membutuhkan pengelolaan kualitas air yang lebih stabil, kurang responsif terhadap pakan segar, serta menggunakan benih dari induk hasil pemuliaan.

Melalui kolaborasi antara YSAI, SNNU Kabupaten Banyuwangi, Shrimp Club Indonesia, dan Konservasi Indonesia, pelatihan ini diharapkan mampu memperkuat kapasitas petambak tradisional dalam menerapkan sistem tradisional plus dan natural habitat. Pendekatan tersebut diyakini dapat meningkatkan produktivitas tambak sekaligus menjaga kelestarian ekosistem pesisir sebagai fondasi keberlanjutan usaha budidaya udang di Banyuwangi.(KAF)

PORSADIN III FKDT Banyuwangi Resmi Bergulir, Jadi Panggung Lahirnya Santri Berprestasi dan Berkarakter

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Semangat kompetisi, nilai keislaman, dan gairah pembinaan santri berpadu dalam pembukaan Pekan Olahraga dan Seni Antar Madrasah Diniyah Takmiliyah (PORSADIN) Ke-3 Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT) Kabupaten Banyuwangi, Minggu (28/6/2026). Kegiatan bergengsi yang digelar di Kampus Universitas Islam Cordoba dan Pondok Pesantren Mabadiul Ihsan itu secara resmi dibuka oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Dr. H. Chaironi Hidayat, S.Ag., M.M., dengan pengawalan ketat dewan juri dari kalangan akademisi, praktisi Al-Qur’an, dan pegiat sastra.


PORSADIN tahun ini bukan sekadar ajang perlombaan biasa. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi panggung besar bagi para santri Madrasah Diniyah Takmiliyah se-Banyuwangi untuk menunjukkan kemampuan terbaik, mengukir prestasi, sekaligus meneguhkan jati diri sebagai generasi Islam yang tangguh, cerdas, dan berakhlakul karimah.

Dalam sambutannya, Dr. Chaironi Hidayat menegaskan bahwa Madrasah Diniyah Takmiliyah merupakan benteng penting dalam membangun karakter generasi muda. Menurutnya, di tengah derasnya arus perubahan zaman, santri harus memiliki fondasi akhlak yang kokoh, disiplin yang kuat, dan tanggung jawab yang tinggi.

“PORSADIN adalah ruang lahirnya bibit-bibit unggul. Di sini bukan hanya kemampuan yang diuji, tetapi juga mental, sportivitas, dan integritas,” tegasnya.

Ia juga memberikan apresiasi tinggi kepada FKDT Banyuwangi yang dinilai istiqamah menjaga tradisi pembinaan santri melalui kegiatan kompetitif yang sarat nilai edukatif dan spiritual.

Ketua DPC FKDT Banyuwangi, Ahmad Masruhan Hamidi, S.E.I., menegaskan bahwa seluruh cabang lomba berjalan berdasarkan petunjuk teknis yang telah disusun secara matang. Ia memastikan proses penjurian dilakukan secara objektif, transparan, dan profesional demi menghasilkan juara-juara terbaik.

“Setiap peserta dinilai murni berdasarkan kemampuan. Tidak ada ruang bagi subjektivitas. Semua dilakukan dengan penuh tanggung jawab,” ujarnya.

Untuk menjaga marwah dan kualitas kompetisi, panitia menghadirkan dewan hakim berkompeten. Pada cabang Al-Qur’an, penilaian dilakukan oleh Hj. Eva Suudah, S.Ag., Pengawas RA sekaligus Pembina LPTQ Banyuwangi, bersama Moh. Fauzan Anshori, S.H.I., M.M., Penghulu KUA Kecamatan Srono dan pengurus LKKNU Banyuwangi.


Sementara pada cabang Puisi Islami, dewan juri diperkuat oleh Syafaat, S.H., M.H.I., Ketua Lentera Sastra Banyuwangi dan pengurus Dewan Kesenian Belambangan, didampingi Siti Elok Faiqoh, jawara Liga Puisi Jawa Pos Radar Banyuwangi 2023, serta Firman Yunus, S.Pd., guru dan pegiat sastra dari SD Islam Darussalam Blokagung.

Dalam penilaian puisi, para juri menitikberatkan pada kekuatan penghayatan, ketepatan artikulasi, intonasi, ekspresi, penampilan, hingga adab peserta—menjadikan lomba ini bukan hanya soal suara, tetapi juga soal jiwa.

Mengusung tema “Berkhidmah Bersama Madrasah Diniyah Membangun Karakter Bangsa”, PORSADIN III mempertandingkan tujuh cabang lomba, yaitu Tahfidz Juz Amma, Pidato Bahasa Indonesia, Pidato Bahasa Arab, Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ), Murottal wal Imla’, Puisi Islami, dan Adzan.

Turut hadir mewakili Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi, Hj. Dr. Lina Kamalin, M.Pd., selaku Kepala Bidang Pendidikan Masyarakat. Kehadirannya menegaskan dukungan penuh pemerintah daerah terhadap penguatan pendidikan keagamaan sebagai fondasi pembangunan sumber daya manusia yang unggul.

Melalui pelaksanaan yang tertib dan penuh semangat sportivitas, PORSADIN III FKDT Banyuwangi diharapkan menjadi kawah candradimuka lahirnya generasi santri berprestasi yang siap mengharumkan nama Banyuwangi di tingkat Provinsi Jawa Timur. Lebih dari itu, ajang ini menjadi bukti bahwa Madrasah Diniyah Takmiliyah tetap kokoh sebagai pilar pembentuk generasi berilmu, berakhlak, dan siap menjawab tantangan zaman. (elk)

LDNU PCNU Banyuwangi Dikukuhkan, Siapkan Dakwah Digital dan Cetak 100 Da'i Muda

Banyuwangi – Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) PCNU Banyuwangi resmi dikukuhkan di Pondok Pesantren Kubah Hijau, Donosuko, Kecamatan Blimbingsari, Kabupaten Banyuwangi, Ahad (28/6/2026). Pengukuhan tersebut menjadi momentum dimulainya kepengurusan baru yang mengusung semangat transformasi dakwah berbasis digital serta target mencetak 100 da'i muda dalam satu semester.

Ketua LDNU PCNU Banyuwangi, Nurul Anwar, menyampaikan bahwa pengukuhan ini menjadi awal dari pelaksanaan amanah organisasi untuk memperkuat dakwah Ahlussunnah wal Jamaah di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi. Menurutnya, LDNU telah menyiapkan sejumlah program strategis agar para dai mampu menjawab tantangan dakwah di era digital.

"Kami telah menyiapkan berbagai program yang progresif. Perkembangan algoritma media digital menuntut para dai mampu beradaptasi sehingga dakwah NU tetap hadir dan memberikan pencerahan di ruang-ruang digital," ujarnya.

Acara dihadiri jajaran Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Banyuwangi dari unsur Syuriah, Tanfidziyah, dan Sekretariat. Rombongan PCNU dipimpin Katib Syuriah KH Abdul Qosim bersama Sekretaris PCNU Banyuwangi H. Moh. Bisri Musthofa.

Dalam arahannya, H. Moh. Bisri Musthofa meminta pengurus yang baru dikukuhkan segera melaksanakan rapat kerja dengan berpedoman pada amanat Musyawarah Kerja Cabang (Musykercab). Ia juga menargetkan agar dalam satu semester LDNU mampu melahirkan 100 da'i muda yang siap berdakwah di tengah masyarakat, baik melalui mimbar keagamaan maupun media digital.

"Sudah saatnya dakwah memanfaatkan teknologi secara optimal. Dakwah hybrid menjadi kebutuhan agar pesan-pesan keislaman dapat menjangkau masyarakat tradisional maupun masyarakat digital," katanya.

Sementara itu, Wakil Rais Syuriah PCNU Banyuwangi KH Mukhlis Ali, yang mewakili Rais Syuriah, menyampaikan pesan kepemimpinan dengan mengutip hadis Nabi SAW:

 سَيِّدُ الْقَوْمِ خَادِمُهُمْ

"Pemimpin suatu kaum adalah pelayan bagi kaumnya."

Menurutnya, LDNU harus menjadi lembaga yang melayani umat melalui dakwah yang menghadirkan solusi sekaligus menyosialisasikan berbagai program strategis PCNU Banyuwangi, mulai dari penguatan ekonomi umat, LAZISNU, kaderisasi, pendidikan, hingga pelayanan sosial.

Prosesi pengukuhan berlangsung khidmat. Susunan pengurus dibacakan oleh Wakil Ketua PCNU Banyuwangi H. Guntur Al Badri, kemudian dilanjutkan dengan pembaiatan oleh Gus Riza Azizy.

Turut hadir Camat Blimbingsari, jajaran badan otonom NU, di antaranya GP Ansor, Muslimat NU, dan Fatayat NU Kecamatan Blimbingsari, serta Pengasuh Pondok Pesantren Darussholah Gumirih KH Nur Fauzi bersama para kiai dan tokoh masyarakat.

Pengukuhan ini diharapkan menjadi pijakan bagi LDNU PCNU Banyuwangi untuk memperkuat peran dakwah yang adaptif terhadap perkembangan zaman, sekaligus menyiapkan kader-kader da'i muda yang siap mengabdi kepada umat di berbagai ruang kehidupan, termasuk ruang digital.(KAF)

Balap Unik Angkut Gabah Meriahkan Hari Bhayangkara ke-80 di Banyuwangi

BANYUWANGI – Perayaan Hari Bhayangkara ke-80 di Banyuwangi dikemas dengan cara yang berbeda. Polresta Banyuwangi menghadirkan Championship Motocross Manol Gabah Kapolresta Cup II 2026, sebuah ajang balap motor yang memadukan olahraga ekstrem dengan kearifan lokal masyarakat pedesaan.


Kejuaraan yang berlangsung pada 27–28 Juni 2026 di Sirkuit Lebak Djinontro Rejeng, Desa Parangharjo, Kecamatan Songgon, menghadirkan tantangan yang tidak biasa. Para pembalap tidak hanya dituntut menaklukkan lintasan tanah, tetapi juga harus membawa karung gabah di atas sepeda motor hingga mencapai garis finis.

Konsep tersebut terinspirasi dari aktivitas para petani Banyuwangi yang sehari-hari mengangkut hasil panen menggunakan sepeda motor. Tantangan menjaga keseimbangan antara kecepatan, pengendalian kendaraan, dan memastikan karung gabah tetap berada di atas motor menjadi daya tarik utama kejuaraan ini.

Kasat Binmas Polresta Banyuwangi, Kompol Basori Alwi, mewakili Kapolresta Banyuwangi Kombes Pol. Rofiq Ripto Himawan, mengatakan kejuaraan tersebut merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Bhayangkara ke-80 sekaligus upaya mendekatkan institusi Polri dengan masyarakat.

Menurutnya, olahraga otomotif dapat menjadi media yang efektif untuk membangun kebersamaan sekaligus mengangkat potensi budaya lokal agar lebih dikenal masyarakat luas.

"Manol Gabah bukan sekadar perlombaan motocross. Kegiatan ini mengangkat kehidupan masyarakat tani Banyuwangi dan dikemas menjadi tontonan yang menarik sekaligus menghibur," ujarnya.

Selain menjadi hiburan bagi masyarakat, ajang tersebut juga diharapkan menjadi wadah pembinaan atlet otomotif daerah. Melalui kompetisi ini, para crosser muda memiliki kesempatan mengasah kemampuan sekaligus menunjukkan prestasi untuk bersaing pada level yang lebih tinggi.

Basori menambahkan, Polri ingin terus menghadirkan kegiatan positif yang mampu melibatkan berbagai elemen masyarakat. Menurutnya, ruang-ruang kreatif seperti kejuaraan motocross dapat menjadi sarana mempererat hubungan antara aparat kepolisian dengan komunitas, sekaligus mendukung terciptanya situasi keamanan dan ketertiban masyarakat yang kondusif.

Kejuaraan Motocross Manol Gabah Kapolresta Cup II pun menjadi salah satu agenda yang menyita perhatian masyarakat Banyuwangi. Selain menyuguhkan aksi para pembalap di lintasan, konsep balapan yang mengangkat identitas daerah menjadi nilai tambah yang membedakannya dari kejuaraan motocross pada umumnya.

Dengan memadukan olahraga, budaya, dan semangat kebersamaan, Polresta Banyuwangi berharap peringatan Hari Bhayangkara ke-80 tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi juga mampu memberikan manfaat bagi masyarakat, mendukung pembinaan olahraga otomotif, serta memperkenalkan kekayaan budaya Banyuwangi kepada publik yang lebih luas. (*)
 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger