Pages

35 Ribu Kader Penggerak NU se-Jawa Timur Siap Banjiri Banyuwangi, 1.500 UMKM Dilibatkan dalam Mujahadah Kubro

BANYUWANGI – Sebanyak 35 ribu kader penggerak Nahdlatul Ulama (NU) se-Jawa Timur diproyeksikan memadati Banyuwangi dalam gelaran Mujahadah Kubro dan Apel Kader NU pada 21–22 November 2026. Menyambut kegiatan berskala regional tersebut, PCNU Banyuwangi bersama panitia lokal terus mematangkan persiapan, mulai dari penentuan lokasi hingga koordinasi lintas sektor dan pelibatan pelaku usaha lokal dalam suatu rapat persiapan di kantor PCNU Banyuwangi, Rabu (28/10/2026)

Ketua PCNU Banyuwangi, H. Achmad Turmudzi, menginstruksikan seluruh jajaran pengurus untuk melakukan persiapan sejak dini setelah Banyuwangi mendapat kepercayaan dari PWNU Jawa Timur menjadi tuan rumah kegiatan tersebut.

Turmudzi optimistis pelaksanaan Mujahadah Kubro dan Apel Kader NU akan berjalan sukses. Keyakinan itu didasarkan pada kesiapan jajaran pengurus serta dukungan berbagai pemangku kepentingan yang akan terlibat dalam menyukseskan kegiatan.

Menurutnya, kepercayaan yang diberikan kepada Banyuwangi harus dijawab dengan kerja nyata, koordinasi yang solid, dan kesiapan seluruh unsur penyelenggara. Kehadiran puluhan ribu kader dari berbagai kabupaten di Jawa Timur membutuhkan perencanaan matang agar seluruh rangkaian kegiatan berlangsung tertib, lancar, dan khidmat.

Ketua panitia lokal, Muhlisin, S.H., menegaskan bahwa koordinasi di seluruh lini akan terus dilakukan untuk memastikan kesiapan penyelenggaraan.

“Koordinasi di semua lini akan kita lakukan secara intensif. Mulai dari kesiapan lokasi, pelayanan peserta, pengamanan, hingga keterlibatan berbagai unsur pendukung, semuanya harus dipersiapkan dengan baik. Kami ingin memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar dan sukses,” ungkapnya.

Ia menambahkan, besarnya jumlah peserta menuntut kerja sama yang kuat antara panitia, jajaran pengurus NU, pemerintah daerah, aparat terkait, dan masyarakat. Sinergi tersebut menjadi kunci agar kegiatan berskala besar ini dapat terlaksana dengan baik sekaligus memberikan manfaat yang luas bagi Banyuwangi.

Menguatkan Gerakan Moral dan Persaudaraan

Lebih dari sekadar pertemuan kader, Mujahadah Kubro dan Apel Kader NU diharapkan menjadi bagian dari ikhtiar Nahdlatul Ulama dalam memperkuat kualitas moral masyarakat serta menyampaikan pesan kebangsaan untuk kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang lebih baik.

Nilai-nilai keagamaan yang menjadi landasan perjuangan NU perlu diwujudkan melalui perilaku sosial yang menyejukkan, mengedepankan persaudaraan, serta menjaga keharmonisan di tengah keberagaman.

Kader NU diharapkan mampu menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari dengan menghindari perilaku saling menghujat, menyebarkan kebencian, maupun memperkeruh suasana melalui informasi yang belum terverifikasi.

Sikap tabayun, yakni memeriksa kebenaran informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya, perlu terus dikedepankan. Di tengah derasnya arus informasi, sikap bijak dan bertanggung jawab menjadi bagian penting dalam menjaga persatuan serta mencegah munculnya konflik di tengah masyarakat.

Semangat tersebut juga harus tercermin dalam kehidupan bertetangga dan membangun persaudaraan, baik sesama umat Islam maupun dengan pemeluk agama lain serta seluruh komponen masyarakat.

Dengan demikian, kehadiran puluhan ribu kader NU di Banyuwangi diharapkan membawa pesan kesejukan, memperkuat kerukunan, dan meneguhkan komitmen bersama dalam merawat persatuan bangsa.

Libatkan 1.500 UMKM, Gerakkan Ekonomi Kerakyatan

Selain membawa misi keagamaan dan kebangsaan, pelaksanaan Mujahadah Kubro dan Apel Kader NU juga diproyeksikan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat Banyuwangi.

Sekitar 1.500 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) direncanakan terlibat dalam mendukung kebutuhan konsumsi serta berbagai layanan bagi para kader yang datang dari berbagai kabupaten di Jawa Timur.

Keterlibatan ribuan pelaku usaha tersebut menjadi peluang untuk memperluas pasar, meningkatkan transaksi, sekaligus memperkenalkan produk unggulan Banyuwangi kepada masyarakat dari berbagai daerah.

Kehadiran peserta dalam jumlah besar juga berpotensi menggerakkan berbagai sektor ekonomi, mulai dari perdagangan, kuliner, transportasi, hingga jasa penunjang kegiatan.

Karena itu, persiapan kegiatan diharapkan mampu memastikan pelaku UMKM lokal memperoleh ruang partisipasi yang optimal. Dengan pengelolaan yang baik, perhelatan ini dapat menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat sekaligus memperkuat hubungan antara organisasi keagamaan dan sektor usaha rakyat.

Sinergi antara PCNU Banyuwangi, PWNU Jawa Timur, pemerintah daerah, pemangku kepentingan, dan masyarakat menjadi faktor penting dalam mewujudkan tujuan tersebut.

Mujahadah Kubro dan Apel Kader NU di Banyuwangi diharapkan menjadi perhelatan yang menyatukan kekuatan spiritual, pengabdian sosial, dan semangat kebangsaan. Di saat yang sama, kegiatan ini menjadi kesempatan bagi Banyuwangi untuk menunjukkan kesiapan sebagai tuan rumah sekaligus menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.

Dengan semangat khidmah dan kebersamaan, Banyuwangi bersiap menyambut 35 ribu kader penggerak NU untuk memperkuat persaudaraan, menyuarakan pesan moral kebangsaan, serta menggerakkan ekonomi kerakyatan.(HK)

Latih 40 Da’i Piawai Kelola Sampah, LPBI PCNU Banyuwangi Sukseskan Gerakan Jaga Bumi

 


BANYUWANGI – Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI) PCNU Banyuwangi terus memperkuat gerakan pelestarian lingkungan melalui pelatihan da’i lingkungan yang memiliki keterampilan mengedukasi masyarakat tentang pengelolaan sampah organik dan anorganik. Sebanyak 40 da’i dipersiapkan untuk terjun langsung ke masyarakat dan mengampanyekan gerakan menjaga bumi dari ancaman kerusakan lingkungan.

Pelatihan tersebut dilaksanakan di Tempat Pengolahan Sampah (TPS) Balak, Kecamatan Songgon, pada Sabtu, 24 Oktober 2026. Kegiatan ini merupakan kelanjutan sekaligus implementasi Training of Trainers (TOT) Perubahan Perilaku dalam Pengelolaan Sampah Batch 2 dan 3 yang bekerjasama dengan Banyuwangi Hijau, dengan sasaran yang lebih dekat ke tingkat ranting NU dan desa sekitar 8 pengurus ranting yg tersebar di MWC Blimbingsari, Srono, Sempu, Kabat, Cluring, Genteng.

Ketua LPBI PCNU Banyuwangi, Untung Hermawan, menyampaikan optimisme bahwa target pembentukan lima da’i lingkungan di setiap desa dapat diwujudkan secara bertahap. Para da’i tersebut diharapkan menjadi penggerak kesadaran masyarakat, khususnya warga Nahdlatul Ulama, untuk membangun kebiasaan memilah dan mengelola sampah secara bertanggung jawab.

Menurutnya, keterlibatan para da’i menjadi bagian penting dalam memperluas jangkauan kampanye pelestarian lingkungan. Dengan pendekatan keagamaan dan sosial kemasyarakatan, pesan tentang kebersihan, pengurangan sampah, serta kepedulian terhadap alam diharapkan lebih mudah diterima dan dipraktikkan oleh masyarakat.

Antusiasme peserta selama mengikuti diklat menjadi salah satu modal penting bagi keberlanjutan program tersebut. Para peserta menyatakan kesiapan untuk melakukan edukasi dan mengajak masyarakat NU berpartisipasi dalam program pelayanan pengelolaan sampah yang dikembangkan melalui gerakan Banyuwangi Hijau.

Kegiatan ini masih merupakan hasil kerja sama LPBI PCNU Banyuwangi dengan tim Banyuwangi Hijau. Kolaborasi tersebut diarahkan untuk memperkuat kapasitas kader di tingkat akar rumput agar kampanye lingkungan tidak berhenti pada penyampaian pesan, tetapi berlanjut menjadi perubahan perilaku dan praktik nyata di tengah masyarakat.

Salah seorang narasumber, Haikal Kafili, menekankan bahwa membina da’i dari lingkungan Nahdlatul Ulama memiliki modal sosial yang kuat. Sebagian besar peserta memiliki latar belakang pendidikan pesantren sehingga terbiasa menyampaikan pesan keagamaan dan membangun komunikasi dengan masyarakat.

Namun, menurut Haikal, tantangan sesungguhnya justru muncul ketika para da’i mulai menjalankan peran di lapangan. Mereka harus mampu menerjemahkan pengetahuan dan materi pelatihan menjadi gerakan yang konkret, mulai dari mengajak warga memilah sampah hingga membangun kebiasaan pengelolaan sampah di lingkungan masing-masing.

“Melatih da’i di lingkungan NU relatif mudah karena mereka memiliki bekal keagamaan dan tradisi dakwah dari pesantren. Tantangan terbesarnya adalah bagaimana mereka bekerja nyata di lapangan sebagai juru kampanye lingkungan sehat,” ungkapnya.

Haikal juga menyoroti pentingnya relevansi dakwah lingkungan di tengah perubahan zaman. Para da’i perlu menemukan pendekatan yang menarik, kontekstual, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat agar isu pengelolaan sampah tidak dianggap sebagai persoalan pinggiran atau kampanye yang sudah ketinggalan zaman.

Menurutnya, dakwah lingkungan perlu ditempatkan sebagai bagian dari tanggung jawab keagamaan dan sosial. Menjaga kebersihan, mengurangi pencemaran, serta mengelola sampah merupakan bentuk kepedulian terhadap kemaslahatan bersama yang harus diwujudkan melalui tindakan sehari-hari.

Melalui pelatihan ini, LPBI PCNU Banyuwangi berharap lahir kader-kader lingkungan yang tidak hanya cakap menyampaikan pesan, tetapi juga mampu menggerakkan partisipasi masyarakat. Target lima da’i di setiap desa diharapkan menjadi fondasi bagi terbentuknya jaringan dakwah lingkungan yang menjangkau tingkat ranting hingga komunitas warga.

Gerakan Jaga Bumi pun diarahkan agar semakin membumi melalui keterlibatan warga NU dalam pengelolaan sampah. Keberhasilannya akan ditentukan oleh konsistensi para da’i dalam mendampingi masyarakat, keteladanan dalam praktik sehari-hari, serta kemampuan membangun gerakan kolektif demi lingkungan yang lebih sehat dan lestari.(HK)

Laporan HSN PCNU Banyuwangi: Apel Hari Santri Serempak Digelar di Seluruh MWCNU, Kobarkan Semangat Khidmah untuk Negeri

BANYUWANGI – Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 di Kabupaten Banyuwangi berlangsung semarak. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Banyuwangi menggelar apel Hari Santri secara serempak di berbagai Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) se-Kabupaten Banyuwangi, Kamis (22/10/2026). Semarak peringatan ini menjadi wujud kebersamaan warga Nahdliyin dalam merawat tradisi pesantren, memperkuat khidmah, serta meneguhkan peran santri bagi agama, bangsa, dan negara.

Apel utama PCNU Banyuwangi dipusatkan di Lapangan Persen, Desa Kedungasri, Kecamatan Tegaldlimo, sekaligus menjadi penutupan Kemah Santri Ma’arif NU yang berlangsung sejak 20 Oktober 2026.

Ada pemandangan menarik dalam pelaksanaan upacara tersebut. Sebagian besar peserta mengenakan busana khas santri, mulai dari sarung, baju putih, hingga peci. Suasana khas pesantren begitu terasa, berpadu dengan semangat nasionalisme dan kebersamaan antarkader Nahdlatul Ulama.

Inspeksi pasukan menjadi salah satu bagian yang menarik perhatian. Inspektur upacara, Ketua PCNU Banyuwangi H. Achmad Turmudzi, melakukan pemeriksaan barisan dengan berkeliling menggunakan mobil bak terbuka. Dalam kegiatan tersebut, ia dikawal Ketua LP Ma’arif NU Cabang Banyuwangi, H. Saeroji.

Bagi para peserta Kemah Santri Ma’arif yang telah menjalani rangkaian kegiatan selama tiga hari, penutupan ini menjadi pengalaman penuh kegembiraan. Antusiasme peserta semakin terasa dengan kehadiran Rais Syuriah PCNU Banyuwangi, KH. Fahrudin Manan, yang turut menyaksikan jalannya kegiatan. Kehadiran para pimpinan NU tersebut menjadi teladan sekaligus penyemangat bagi santri dan warga Nahdliyin di Banyuwangi.

Apel Santri Semarak di Berbagai MWCNU

Semangat yang sama juga terlihat di berbagai wilayah. Apel Hari Santri berlangsung dengan ciri khas dan kreativitas masing-masing MWCNU, melibatkan pengurus, lembaga pendidikan, badan otonom, serta masyarakat sekitar.

Di MWCNU Kalipuro, apel dipusatkan di Pondok Pesantren Nurul Khoiroh. Peringatan berlangsung meriah dengan penampilan sejumlah atraksi seni tradisional yang dikemas dalam nuansa santri, baik melalui kostum maupun gerakan tariannya.

Ketua MWCNU Kalipuro, H. Nanang Musta’in, hadir menyaksikan kegiatan tersebut bersama Camat Kalipuro, Ahmad Nuril Falah, yang juga merupakan salah satu pengurus PCNU Banyuwangi. Kehadiran unsur pemerintahan dan organisasi keagamaan memperlihatkan sinergi dalam mendukung pendidikan karakter serta pelestarian tradisi santri.

Sementara itu, MWCNU Muncar memusatkan apel di Lapangan Untung Suropati. Peringatan Hari Santri di wilayah ini diwarnai beragam kegiatan, mulai dari upacara, jalan sehat, hingga pertunjukan seni bernuansa santri.

Kekompakan tampak dalam pelaksanaan kegiatan yang dipimpin Ketua MWCNU Muncar, Ustadz Hanif, bersama jajaran pengurusnya. Berbagai unsur masyarakat dan warga Nahdliyin turut menikmati rangkaian acara dalam suasana penuh kebersamaan.

Di wilayah MWCNU Purwoharjo, apel dipusatkan di Lapangan Karetan. Kegiatan ini melibatkan lembaga-lembaga pendidikan di bawah naungan LP Ma’arif NU yang tampil kompak dan penuh semangat.

Ketua MWCNU Purwoharjo, Fahrurrozi, mengikuti jalannya upacara bersama jajaran pengurus Syuriyah dan Tanfidziyah, lembaga, serta badan otonom. Keterlibatan berbagai unsur tersebut memperlihatkan kuatnya kolaborasi organisasi dalam menyemarakkan Hari Santri sekaligus menanamkan nilai perjuangan kepada generasi muda.

Semarak serupa juga berlangsung di MWCNU Pesanggaran, dengan pusat kegiatan di Lapangan Sumberagung, Templek, Kecamatan Pesanggaran. Seluruh komponen organisasi terlihat terlibat aktif, mulai dari jajaran pengurus MWCNU yang dikomandani Herwanto hingga badan otonom seperti GP Ansor, Muslimat NU, Fatayat NU, IPNU, IPPNU, dan Pagar Nusa.

Kebersamaan lintas badan otonom tersebut menjadi gambaran bahwa peringatan Hari Santri mampu menyatukan berbagai kelompok dan generasi dalam satu semangat pengabdian.

Pendidikan dan Pemerintahan Bersatu Merayakan Hari Santri

Peringatan Hari Santri juga berlangsung di sejumlah wilayah lainnya dengan semangat yang tidak kalah meriah. Di pusat pemerintahan Kabupaten Banyuwangi, kegiatan memperlihatkan kolaborasi antara unsur pendidikan dan birokrasi dalam menyemarakkan Hari Santri Nasional.

Lembaga Pendidikan Baiturrahman turut menggelar apel Hari Santri yang dipusatkan di Islamic Center Baiturrahman Banyuwangi. Kegiatan tersebut didahului dengan kirab santri yang diselenggarakan oleh Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Pendidikan Agama Islam (PAI) tingkat sekolah dasar.

Kirab dan apel tersebut menjadi ruang perjumpaan bagi kalangan pendidik, peserta didik, serta masyarakat untuk menghidupkan nilai-nilai kesantrian di lingkungan pendidikan. Dengan demikian, semangat Hari Santri tidak berhenti di lingkungan pesantren, tetapi juga tumbuh di sekolah dan ruang-ruang publik.

Menguatkan Kembali Ruh Perjuangan Santri

Rangkaian apel Hari Santri yang digelar serempak di berbagai wilayah Banyuwangi menunjukkan besarnya antusiasme warga Nahdliyin dalam menyambut peringatan 22 Oktober. Keterlibatan pesantren, lembaga pendidikan, pengurus NU, badan otonom, dan unsur pemerintahan memperlihatkan bahwa Hari Santri memiliki makna yang luas bagi kehidupan masyarakat.

Peringatan tahun ini juga menjadi ruang refleksi bagi dunia pendidikan pesantren. Di tengah berbagai ujian dan sorotan yang pernah menerpa lingkungan pendidikan, semangat Hari Santri perlu diarahkan untuk memperkuat kembali nilai-nilai luhur pesantren, seperti adab, keikhlasan, tanggung jawab, keadilan, dan penghormatan terhadap martabat manusia.

Santri memiliki sejarah panjang dalam perjuangan kemerdekaan dan pembangunan bangsa. Karena itu, penguatan ruh kesantrian perlu diwujudkan melalui pendidikan yang berkarakter, pengabdian kepada masyarakat, serta keberanian memperjuangkan kebenaran dan keadilan.

Semarak apel Hari Santri di Banyuwangi menjadi gambaran bahwa tradisi pesantren tetap hidup dan terus berkembang di tengah masyarakat. Dari lapangan upacara hingga halaman pesantren, dari lembaga pendidikan hingga pusat pemerintahan, seluruh elemen memiliki ruang untuk mengambil bagian dalam merawat warisan perjuangan para ulama.

Hari Santri Nasional 2026 menjadi penegasan bahwa santri bukan sekadar pewaris tradisi, melainkan juga penggerak perubahan yang berbekal ilmu, akhlak, dan semangat kebangsaan. Dengan semangat khidmah dan persatuan, santri diharapkan terus mengambil peran dalam menegakkan keadilan, menjaga kerukunan, serta menguatkan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.(Kaf)

Laporan HSN PCNU Banyuwangi: Sambung Sanad Perjuangan, Ziarah Muassis dan Silaturahmi kepada Kiai Sepuh Digelar Serentak

BANYUWANGI – Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 di Kabupaten Banyuwangi diisi dengan kegiatan ziarah kepada para muassis Nahdlatul Ulama (NU) dan silaturahmi kepada kiai sepuh. Kegiatan yang dilaksanakan oleh jajaran Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) di berbagai wilayah ini menjadi ikhtiar untuk menyambung sanad perjuangan, merawat ingatan sejarah, serta memperkuat khidmah kepada jam’iyyah Nahdlatul Ulama.

Rangkaian ziarah tersebut mulai dilaksanakan sejak Ahad, 18 Oktober 2026, dan berlangsung hingga Rabu, 21 Oktober 2026, dengan menyasar makam para muassis NU yang berada di wilayah masing-masing MWCNU. Sejumlah pengurus NU, kiai, dan warga Nahdliyin turut mengikuti kegiatan tersebut.

Di wilayah MWCNU Muncar dan sekitarnya, kegiatan ziarah dilaksanakan ke makam almarhum almaghfurlah KH. Iskandar di Sumberberas dan KH. Abdul Manan di Tegalpare. Kegiatan serupa juga dilaksanakan oleh MWCNU Rogojampi, Srono, Genteng, Purwoharjo, Singojuruh, Songgon serta sejumlah MWCNU lainnya dengan mengunjungi makam para kiai pendiri dan perintis perjuangan NU di wilayah masing-masing.

Sementara itu, MWCNU Banyuwangi Kota menjadwalkan ziarah pada Rabu, 21 Oktober 2026, ke sejumlah makam muassis dan tokoh NU, di antaranya Hadrotusy Syekh KH. Syamsuri dan KH. Ma’shum di kawasan pemakaman Singonegaran, serta KH. Moh. Sholeh di Lateng dan KH. Harun di Tukangkayu.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mengenalkan kembali sejarah perjuangan para ulama kepada generasi penerus NU. Ziarah tidak sekadar menjadi kegiatan penghormatan kepada para pendahulu, tetapi juga sarana refleksi atas nilai keikhlasan, pengabdian, dan keteguhan mereka dalam membangun jam’iyyah serta membimbing umat.



PCNU Banyuwangi Silaturahmi kepada Kiai Sepuh

Selain ziarah ke makam para muassis, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Banyuwangi juga melaksanakan silaturahmi kepada kiai sepuh sebagai bagian dari ikhtiar menyambung sanad perjuangan dan memohon nasihat bagi keberlangsungan organisasi.

Dalam kegiatan tersebut, PCNU Banyuwangi diwakili Sekretaris PCNU H. Bisri Mustofa dan Bendahara PCNU H. Junaedi. Keduanya bersilaturahmi kepada KH. Fathullah Suyuti, kiai sepuh sekaligus Musytasar PCNU Banyuwangi.

Silaturahmi tersebut menjadi bentuk penghormatan kepada para ulama yang telah memberikan sumbangsih besar bagi perjalanan NU. Nasihat dan keteladanan kiai sepuh diharapkan senantiasa menjadi pijakan bagi pengurus dalam menjalankan amanah organisasi, menjaga tradisi, serta merumuskan langkah perjuangan yang relevan dengan kebutuhan umat dan perkembangan zaman.

Bagi Nahdlatul Ulama, sanad perjuangan tidak berhenti pada hubungan keilmuan, tetapi juga mencakup kesinambungan nilai, keteladanan, dan tanggung jawab dalam merawat warisan para pendiri.

Doa Bersama dan Istigasah Serentak

Rangkaian kegiatan HSN PCNU Banyuwangi akan dilanjutkan dengan doa bersama dan istigasah secara serentak di seluruh MWCNU se-Kabupaten Banyuwangi pada Rabu malam, 21 Oktober 2026.

Doa bersama tersebut menjadi ikhtiar spiritual untuk memohon keberkahan, keselamatan, dan kekuatan bagi perjuangan Nahdlatul Ulama dalam melayani umat, menjaga persatuan, serta berkontribusi bagi bangsa dan negara.

Melalui rangkaian ziarah, silaturahmi, doa bersama, dan istigasah ini, PCNU Banyuwangi berharap peringatan Hari Santri Nasional 2026 mampu memperkuat hubungan antargenerasi dalam tubuh NU. Para santri dan kader NU diharapkan semakin mengenal sejarah perjuangan para ulama sekaligus memiliki tanggung jawab untuk melanjutkan perjuangan tersebut.

Menyambung sanad perjuangan berarti merawat warisan para muassis, menghormati nasihat kiai sepuh, dan meneruskan khidmah NU dengan penuh keikhlasan. Dengan semangat tersebut, peringatan Hari Santri Nasional menjadi ruang untuk meneguhkan kembali komitmen Nahdliyin dalam menjaga agama, mengabdi kepada masyarakat, dan merawat keutuhan bangsa.(Kaf)


Peternak Sapi Perah Licin Tuntut Penghapusan Utang, Pemkab Banyuwangi Diminta Bertanggung Jawab

 

Program Sapi Perah yang Digulirkan Sejak 2011 Dinilai Gagal, Peternak Menuntut Penghapusan Kredit dan Pengembalian Agunan

BANYUWANGI,  20 Oktober 2026. Persoalan utang yang membelit para peternak sapi perah di Kecamatan Licin, Kabupaten Banyuwangi, kembali mencuat. Empat kelompok peternak mendesak adanya penyelesaian menyeluruh atas beban kredit yang mereka tanggung akibat program pengembangan sapi perah yang dinilai gagal mencapai tujuan.

Tuntutan tersebut mengemuka dalam rapat koordinasi dan mediasi antara perwakilan peternak, Bank Jatim, dan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi yang digelar di Lounge Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Banyuwangi, Jalan Jaksa Agung Suprapto Nomor 80, Selasa pagi (20/10/2026).

Rapat yang dibuka dan dipimpin oleh drh. Nanang dari Dinas Pertanian dan Pangan tersebut dihadiri para ketua dan perwakilan empat kelompok peternak sapi perah, pimpinan Bank Jatim, Camat Licin, serta Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Banyuwangi.

Namun, Ketua Komisi II DPRD Banyuwangi, yang namanya tercantum pada urutan pertama daftar undangan, justru tidak hadir dalam pertemuan tersebut.

Warisan Program 2011 yang Menyisakan Persoalan

Menurut drh. Nanang, pertemuan ini merupakan tindak lanjut Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) di Komisi II DPRD Banyuwangi pada 29 September 2026, yang membahas sengketa program pengembangan sapi perah di kawasan Tamansari, Kecamatan Licin.

Program yang diinisiasi Pemerintah Kabupaten Banyuwangi sejak 2011, pada masa pemerintahan Bupati Abdullah Azwar Anas, tersebut kini menyisakan persoalan finansial yang belum terselesaikan bagi sejumlah warga peserta program.

Alih-alih menikmati manfaat ekonomi sebagaimana yang diharapkan, para peternak justru mengaku harus menghadapi beban utang berkepanjangan.

Peternak: Jangan Hanya Bicara Teknis, Ini Persoalan Kebijakan!

Thomas Racharto, yang dipercaya menjadi juru bicara empat kelompok peternak, menyampaikan kekecewaan terhadap Pemerintah Kabupaten Banyuwangi selaku penggagas program.

Menurutnya, pemerintah daerah dinilai tidak memberikan pendampingan dan tanggung jawab yang memadai ketika program menghadapi berbagai persoalan.

Thomas menilai, sejak awal terdapat informasi dan edukasi yang tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan. Bahkan, sejumlah informasi yang diterima peternak dianggap menyesatkan sehingga mendorong mereka mengikuti program tanpa memahami sepenuhnya risiko yang akan dihadapi.

Ia menegaskan bahwa penyelesaian persoalan tersebut tidak semestinya hanya diarahkan pada aspek teknis perbankan dan kewajiban pembayaran kredit.

Peternak meminta agar persoalan ini ditempatkan pada ranah kebijakan, mengingat program tersebut sejak awal merupakan inisiatif pemerintah daerah.

Senada dengan Thomas, Nur Hakim yang juga mewakili kelompok peternak menyampaikan tiga tuntutan utama, yakni transparansi seluruh dokumen terkait program, penghapusan piutang kredit, serta pengembalian agunan milik peternak dan warga.


Bank Jatim: Bunga Sudah Dihapus, Pokok Kredit Tetap Harus Dibayar

Menanggapi tuntutan tersebut, Hendra dan Ni Gusti Ayu Lestari selaku perwakilan pimpinan Bank Jatim menjelaskan bahwa pihak bank selama ini telah melakukan pendekatan kepada para nasabah untuk mencari penyelesaian.

Bank Jatim bahkan menyatakan telah menghapus seluruh bunga kredit sebagai bentuk keringanan bagi peternak.

Namun, pihak bank berharap para nasabah tetap dapat menyelesaikan kewajiban pembayaran pokok pinjaman.

Bank Jatim beralasan bahwa dana kredit yang disalurkan kepada peternak sepenuhnya berasal dari dana perbankan, bukan dana pemerintah.

Dengan demikian, penghapusan pokok kredit tidak dapat dilakukan begitu saja karena harus mengikuti ketentuan dan prosedur yang berlaku.

Isi Perjanjian Dipersoalkan, Hak Pengembalian Ternak Tak Tersosialisasi

Dalam pertemuan tersebut, Danang Hartanto, S.T., turut memaparkan sejumlah ketentuan dalam perjanjian antara peternak, Bank Jatim, dan pihak pemasok ternak (supplier).

Salah satu poin penting yang dijelaskan adalah adanya ketentuan yang memungkinkan peternak mengembalikan sapi apabila kualitas ternak tidak sesuai dengan spesifikasi yang diperjanjikan.

Sayangnya, ketentuan penting tersebut ternyata tidak tersosialisasikan dengan baik kepada para peternak ketika program berlangsung.

Kondisi ini menambah daftar persoalan yang dipertanyakan para peternak, khususnya terkait transparansi informasi, pemahaman isi perjanjian, dan perlindungan terhadap peserta program.

Sementara itu, mengenai kemungkinan penghapusan pokok kredit, dijelaskan bahwa mekanismenya tidak sederhana. Proses tersebut memerlukan prosedur yang rumit, termasuk audit panjang terhadap para peternak.


 

Belum Ada Kesepakatan, Nasib Peternak Masih Menggantung

Hingga rapat berakhir, belum tercapai kesepakatan antara kelompok peternak, Bank Jatim, dan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi mengenai penyelesaian pokok utang maupun pengembalian agunan.

Pertemuan direncanakan akan dilanjutkan melalui forum berikutnya, meskipun waktu pelaksanaannya belum ditentukan.

Persoalan ini sekaligus memunculkan pertanyaan mengenai sejauh mana tanggung jawab pemerintah daerah terhadap dampak program ekonomi masyarakat yang diinisiasinya sendiri.

Bagi para peternak Licin, persoalannya bukan sekadar tunggakan kredit, melainkan tuntutan atas kejelasan tanggung jawab, transparansi, dan keadilan setelah bertahun-tahun menanggung akibat dari program yang mereka nilai gagal.

Kini, para peternak masih menunggu langkah konkret dari pemerintah daerah dan pihak terkait. Akankah penyelesaian hanya berhenti pada keringanan bunga, atau ada kebijakan yang benar-benar mampu membebaskan mereka dari beban finansial berkepanjangan?

(AW | Warta Blambangan)


Kemah Santri Ma’arif NU Banyuwangi Jadi Wadah Pembinaan 600 Pramuka, PCNU Berikan Dukungan

BANYUWANGI – Sebanyak 600 anggota Pramuka dari berbagai lembaga pendidikan di bawah naungan LP Ma’arif NU Cabang Banyuwangi mengikuti apel pembukaan Kemah Santri Ma’arif dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional (HSN) 2026. Kegiatan yang berlangsung di Lapangan Persen Kedungasri, Kecamatan Tegaldlimo, Selasa (20/10/2026), diarahkan untuk memperkuat karakter, kedisiplinan, keterampilan, dan semangat pengabdian generasi muda.

Kemah Santri Ma’arif dijadwalkan berlangsung selama tiga hari, mulai 20 hingga 22 Oktober 2026. Peserta berasal dari jenjang MI/SD, SMP/MTs, hingga SMA/MA/SMK. Selama perkemahan, mereka mengikuti berbagai kegiatan edukatif, pembinaan mental, pengembangan keterampilan, serta penampilan seni dan budaya.

Apel pembukaan dihadiri dan disaksikan jajaran Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Banyuwangi. Sekretaris PCNU Banyuwangi, H. Bisri Musthofa, hadir bersama jajaran pengurus lainnya, didampingi Bendahara PCNU Banyuwangi, H. Junaedi.

Kehadiran pengurus PCNU tersebut menunjukkan dukungan terhadap peran LP Ma’arif dalam membina generasi muda melalui pendidikan dan kepramukaan. Keduanya menjadi bagian penting dalam menanamkan nilai keislaman, kebangsaan, dan tradisi khidmah Nahdlatul Ulama kepada para pelajar.

Pembina perkemahan, Khoirul Amin, M.Pd., menyampaikan bahwa peserta yang mengikuti kegiatan tahun ini merupakan perwakilan dari berbagai wilayah di antara 25 Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) se-Kabupaten Banyuwangi.

“Untuk tahun ini, peserta masih merupakan perwakilan dari masing-masing daerah. Insyaallah, tahun depan akan kita kondisikan agar ribuan santri bisa berpartisipasi dalam perkemahan ini,” ungkapnya.

Harapan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas jangkauan pembinaan kepramukaan di lingkungan Ma’arif NU agar semakin banyak pelajar dan santri memperoleh pengalaman pendidikan karakter melalui kegiatan bersama.

Saeroji: Santri Harus Memiliki Mental Tangguh dan Semangat Pengabdian

Ketua LP Ma’arif NU Cabang Banyuwangi, H. Saeroji, bertindak sebagai inspektur upacara dalam apel pembukaan. Dalam amanatnya, ia menekankan pentingnya kesiapan mental peserta untuk mengikuti seluruh rangkaian perkemahan serta membangun semangat berkhidmat kepada Nahdlatul Ulama.

Saeroji menyampaikan terima kasih kepada PCNU Banyuwangi yang telah memberikan kepercayaan kepada LP Ma’arif untuk menyelenggarakan kegiatan dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional 2026.

Menurutnya, LP Ma’arif mempunyai tanggung jawab besar dalam membentuk generasi penerus NU. Lingkungan pendidikan menjadi tempat strategis untuk menanamkan nilai-nilai keagamaan, membangun kepribadian, serta mempersiapkan peserta didik agar mampu menghadapi perkembangan zaman.

Ia juga mengingatkan bahwa Hari Santri memiliki akar sejarah yang kuat dalam perjuangan bangsa Indonesia. Penetapan 22 Oktober sebagai Hari Santri berkaitan dengan Resolusi Jihad yang dicetuskan Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945, sebagai seruan perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Nilai perjuangan tersebut, menurut pesan yang disampaikan dalam amanat pembukaan, perlu diwarisi oleh generasi muda melalui sikap disiplin, ketangguhan mental, dan kesediaan mengabdikan diri kepada agama, bangsa, dan Nahdlatul Ulama.

Semangat santri harus tercermin dalam perilaku sehari-hari, baik di lingkungan sekolah, keluarga, masyarakat, maupun organisasi. Dengan bekal tersebut, para peserta diharapkan tumbuh menjadi generasi yang mampu menjaga nilai-nilai luhur sekaligus berkontribusi terhadap kemajuan bangsa.

Bekali Peserta dengan Edukasi dan Keterampilan

Rangkaian Kemah Santri Ma’arif disusun untuk memberikan pengalaman belajar yang melampaui kegiatan pembelajaran di ruang kelas. Melalui kepramukaan, peserta didorong untuk mengembangkan kemandirian, kepemimpinan, kerja sama, tanggung jawab, serta kemampuan menyelesaikan persoalan.

Salah satu materi yang menjadi perhatian ialah edukasi dari Badan Narkotika Nasional (BNN). Materi ini memberikan pemahaman mengenai bahaya penyalahgunaan narkoba dan langkah-langkah pencegahannya, terutama bagi kalangan generasi muda.

Pembekalan tersebut diharapkan membantu peserta membangun kesadaran untuk menjaga diri, menciptakan pergaulan yang sehat, serta menghindari pengaruh lingkungan yang berpotensi merugikan masa depan mereka.

Apel pembukaan juga berlangsung meriah dengan beragam penampilan. Iringan musik korsik dalam tata laksana upacara, paduan suara yang dipersembahkan para guru taman kanak-kanak, hingga atraksi tari semaphore yang dipadukan dengan senam aerobik dan tarian jaranan menghadirkan suasana yang dinamis.

Perpaduan unsur kedisiplinan, kebugaran, dan kesenian tersebut memperlihatkan bahwa kegiatan kepramukaan dapat menjadi sarana untuk mengembangkan potensi peserta sekaligus mengenalkan kekayaan budaya lokal.

Sinergi Lembaga NU Hadirkan Dukungan Pelayanan

Pelaksanaan Kemah Santri Ma’arif turut melibatkan sejumlah lembaga di lingkungan Nahdlatul Ulama Banyuwangi. Kolaborasi ini mendukung kebutuhan peserta dan membantu kelancaran kegiatan selama tiga hari.

Lembaga Perekonomian NU Cabang Banyuwangi berkolaborasi dalam mendukung pengadaan serta pengembangan layanan UMKM di area perkemahan. Kehadiran pelaku usaha tersebut diharapkan memberikan kemudahan bagi peserta dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus membuka ruang bagi pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Sementara itu, Rumah Sakit NU bersama Lembaga Kesehatan NU turut memberikan dukungan dalam pemantauan kondisi kesehatan dan pelayanan medis bagi peserta selama kegiatan berlangsung.

Keterlibatan sejumlah lembaga tersebut memperlihatkan pentingnya sinergi internal organisasi dalam mendukung kegiatan pendidikan. Pembinaan generasi muda memerlukan dukungan yang terintegrasi, mulai dari penguatan karakter, pemenuhan kebutuhan, hingga perhatian terhadap kesehatan.

Menghidupkan Semangat Hari Santri melalui Aksi Nyata

Kemah Santri Ma’arif NU Banyuwangi 2026 diharapkan menghasilkan generasi muda yang memiliki keseimbangan antara pengetahuan, keterampilan, akhlak, dan kecintaan terhadap tanah air.

Peringatan Hari Santri menjadi kesempatan untuk menanamkan pemahaman bahwa perjuangan santri terus berlanjut sesuai dengan tantangan zaman. Jika generasi terdahulu berjuang mempertahankan kemerdekaan, generasi sekarang dituntut mengisi kemerdekaan melalui pendidikan, prestasi, penguatan moral, dan pengabdian sosial.

Melalui kegiatan ini, LP Ma’arif NU Cabang Banyuwangi berupaya memperkuat peran sekolah dan madrasah sebagai tempat tumbuhnya generasi yang berkarakter serta memiliki komitmen terhadap nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah.

Dukungan PCNU Banyuwangi dan kolaborasi antarlembaga diharapkan semakin memperkokoh ikhtiar tersebut. Dari perkemahan di Tegaldlimo, para peserta didorong untuk membawa pulang pengalaman, keterampilan, dan nilai-nilai positif yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Semangat Hari Santri 2026 diharapkan tumbuh menjadi tekad generasi muda untuk terus belajar, menjaga akhlak, memperkuat persaudaraan, serta mengabdikan diri bagi Nahdlatul Ulama dan Indonesia.(Kaf)

MAPABA PMII UNIBA Perkuat Kaderisasi dan Tradisi Khidmah kepada Nahdlatul Ulama

BANYUWANGI – Masa Penerimaan Anggota Baru (MAPABA) PMII Komisariat Universitas PGRI Banyuwangi (UNIBA) menjadi pintu awal bagi mahasiswa untuk mengenal tradisi kaderisasi, memperkuat intelektualitas, sekaligus menumbuhkan komitmen pengabdian kepada agama, bangsa, dan Nahdlatul Ulama.

Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu–Minggu, 17–18 Oktober 2026, di Kantor PCNU Banyuwangi tersebut mengusung tema “Menumbuhkan Kader yang Berintegritas, Menguatkan Intelektual, dan Menghidupkan Semangat Pergerakan.”

Hadir dalam kegiatan tersebut Haikal Kafili, Wakil Sekretaris PCNU Banyuwangi, Dimas dari Mabinkom UNIBA, Agil yang mewakili PC PMII Banyuwangi, serta Ghery selaku Ketua Komisariat PMII UNIBA.

Dalam penyampaiannya, Haikal Kafili menegaskan bahwa MAPABA merupakan salah satu pintu masuk bagi mahasiswa untuk mulai berkhidmat di Nahdlatul Ulama sejak dini. Karena itu, calon anggota PMII perlu mempersiapkan diri untuk menjalani proses kaderisasi dengan kesabaran, keikhlasan, dan kesungguhan.

“Menjadi bagian dari PMII bukan sekadar mengenakan atribut organisasi, tetapi juga kesiapan untuk berproses, belajar, dan mengabdikan diri. Calon anggota harus sabar, ikhlas untuk ditempa, serta siap berjuang dengan segenap jiwa dan raganya,” ungkap Haikal.

Menurutnya, kesabaran diperlukan karena proses kaderisasi dan pendewasaan diri membutuhkan waktu. Keikhlasan menjadi bekal penting untuk menghadapi berbagai dinamika organisasi, sedangkan kesiapan berjuang merupakan wujud komitmen dalam menjalankan tanggung jawab pergerakan.

Haikal juga mengingatkan bahwa pengabdian kepada NU membutuhkan kesungguhan dan kesiapsediaan. Namun, komitmen tersebut tetap harus dijalankan secara proporsional dengan menyeimbangkan kepentingan organisasi, kehidupan pribadi, serta tanggung jawab lain yang melekat pada setiap kader.

Dengan demikian, kader PMII diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang memiliki loyalitas organisasi, kematangan berpikir, dan kemampuan mengelola tanggung jawab secara bijaksana.


Dimas Dorong PMII UNIBA Jadi Kekuatan Utama Pergerakan

Sementara itu, Dimas dari Mabinkom UNIBA memberikan motivasi agar Komisariat PMII UNIBA mampu menjadi salah satu kekuatan utama pergerakan PMII di Banyuwangi, sebagaimana telah ditunjukkan oleh para pendahulunya.

Ia mendorong kader-kader baru untuk menjaga kesinambungan perjuangan organisasi, membangun kualitas sumber daya manusia, serta meneruskan tradisi baik yang telah dirintis oleh generasi sebelumnya.

Harapan tersebut menempatkan MAPABA sebagai bagian penting dari keberlanjutan organisasi. Kaderisasi bukan sekadar menambah jumlah anggota, melainkan juga menyiapkan generasi penerus yang mampu menjaga eksistensi dan memperkuat kontribusi PMII di lingkungan kampus maupun masyarakat.


Agil: Dzikir, Fikir, dan Amal Saleh sebagai Pedoman Pergerakan

Agil, yang mewakili PC PMII Banyuwangi, turut memberikan arahan kepada peserta agar menjadikan dzikir, fikir, dan amal saleh sebagai acuan dalam menentukan langkah pergerakan PMII.

Pesan tersebut menekankan pentingnya menyelaraskan kesadaran spiritual, tradisi berpikir dan berdiskusi, serta tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Dengan fondasi tersebut, kader PMII diharapkan mampu menjalankan aktivitas organisasi secara bermakna, tidak kehilangan orientasi nilai, dan senantiasa menghadirkan kemanfaatan bagi lingkungan sekitarnya.

Pergerakan mahasiswa, dalam kerangka ini, perlu dibangun melalui keseimbangan antara kekuatan spiritual, ketajaman intelektual, dan kesungguhan dalam beramal.


Ketua Komisariat Sampaikan Terima Kasih

Ghery selaku Ketua Komisariat PMII UNIBA menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan terhadap pelaksanaan MAPABA, terutama PCNU Banyuwangi.

Dukungan tersebut dinilai penting bagi keberlangsungan kaderisasi dan penguatan organisasi mahasiswa. Sinergi antara lingkungan kampus, PMII, dan Nahdlatul Ulama diharapkan terus terjalin untuk membuka ruang pembelajaran, memperluas wawasan, serta menumbuhkan kader muda yang siap mengambil peran dalam kehidupan sosial dan kebangsaan.

Pelaksanaan MAPABA ini menjadi langkah awal bagi anggota baru untuk mengenal nilai, tradisi, dan arah perjuangan PMII. Melalui proses yang berkelanjutan, mereka diharapkan tumbuh sebagai kader yang berintegritas, berwawasan luas, serta memiliki komitmen pengabdian yang kuat.

Pada akhirnya, keberhasilan kaderisasi tidak semata-mata diukur dari terselenggaranya kegiatan, tetapi dari sejauh mana nilai-nilai yang diperoleh mampu diwujudkan dalam sikap, pemikiran, dan tindakan nyata. Dari proses inilah diharapkan lahir kader-kader PMII UNIBA yang mampu meneruskan perjuangan pendahulunya sekaligus memperkuat khidmah kepada Nahdlatul Ulama dan masyarakat.(HK)

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger