Pages

PCNU Banyuwangi Perkuat Kolaborasi Lembaga, Konsolidasi Diarahkan pada Program yang Lebih Terukur

BANYUWANGI – Penguatan koordinasi, penyelarasan program, dan peningkatan efektivitas kerja kelembagaan menjadi pokok pembahasan dalam Rapat Konsolidasi Organisasi PCNU Kabupaten Banyuwangi, Ahad (8/11/2026), di Hedon Resto Banyuwangi.

Kegiatan ini diikuti jajaran Syuriah dan Tanfidziyah PCNU Banyuwangi, pengurus MWCNU se-Kabupaten Banyuwangi, pimpinan lembaga, serta badan otonom NU. Pertemuan tersebut menjadi ruang evaluasi sekaligus penyampaian perkembangan program dari masing-masing lembaga untuk memastikan gerak organisasi berjalan dalam satu koordinasi.

Rais Syuriah PCNU Banyuwangi, KH. Fahrudin Manan, dalam taujihadnya menekankan pentingnya menempatkan nilai-nilai keagamaan sebagai landasan dalam berorganisasi. Ia mengingatkan pesan Al-Qur'an, Wa ta'awanu 'alal birri wat taqwa wa la ta'awanu 'alal itsmi wal 'udwan, yakni saling membantu dalam kebaikan dan ketakwaan serta tidak bekerja sama dalam perbuatan dosa dan permusuhan.

Menurutnya, nilai tersebut harus tercermin dalam pola kerja organisasi, sehingga setiap pengurus dapat menjalankan khidmah dengan penuh keikhlasan, saling mendukung, dan tidak menjadikan tugas organisasi sebagai beban.

"Berorganisasi itu harus terasa ringan dan menyenangkan. Tetapi kemudahan bukan berarti kita mengabaikan kualitas produk program yang dihasilkan. Berkhidmat di NU itu menyenangkan, yo oleh ganjaran, yo oleh kesenengan," tuturnya.

Dalam jalannya rapat, Sekretaris PCNU Banyuwangi, H. Mohammad Bisri Musthofa, menjelaskan bahwa konsolidasi tersebut merupakan bagian dari supervisi organisasi untuk mengetahui perkembangan sekaligus mendorong produktivitas lembaga secara berkala.

Sebanyak 18 lembaga menyampaikan laporan perkembangan program kerja, mulai dari kegiatan jangka pendek hingga perencanaan jangka menengah. Beragam paparan tersebut memperlihatkan kapasitas, kreativitas, dan kemandirian masing-masing lembaga dalam menerjemahkan tugas dan fungsi kelembagaan menjadi kegiatan konkret.

Bisri menyampaikan apresiasinya terhadap perkembangan tersebut. Namun, ia juga menggarisbawahi bahwa capaian setiap lembaga perlu diikuti dengan komunikasi dan koordinasi lintas sektor agar seluruh program dapat saling melengkapi.

"Kita bangga dengan kemampuan dan kemandirian lembaga dalam menjalankan program. Tetapi yang perlu terus diperkuat adalah sinergitas. Jangan sampai program berjalan sendiri-sendiri, bahkan terjadi tumpang tindih yang akhirnya menimbulkan kebingungan di tingkat basis, terutama MWCNU," jelasnya.

Ia berharap forum konsolidasi dapat menjadi ruang untuk menyamakan persepsi, memetakan wilayah kerja, serta membangun keterhubungan program antara PCNU, lembaga, dan MWCNU. Dengan begitu, setiap program memiliki arah yang jelas dan pelaksanaannya dapat dikoordinasikan secara lebih efektif.

Sementara itu, Ketua PCNU Banyuwangi, H. Achmad Turmudzi, menyampaikan apresiasi kepada seluruh lembaga setelah menyimak paparan program selama kurang lebih dua hingga tiga jam. Ia mengaku bangga melihat dinamika dan perkembangan kerja kelembagaan yang menunjukkan adanya kesungguhan dalam menjalankan amanah organisasi.

Menurutnya, mengelola organisasi sebesar Nahdlatul Ulama memiliki karakteristik dan tantangan tersendiri. Besarnya jumlah warga NU dengan latar belakang, karakter, kebutuhan, serta pemikiran yang beragam menuntut kemampuan organisasi untuk terus beradaptasi dan menghadirkan program yang relevan.

"Tantangan dalam menjalankan program di Nahdlatul Ulama ini memiliki kekhasan tersendiri. Kita memiliki warga yang sangat banyak dengan beragam karakter dan pemikiran. Tentu dibutuhkan energi, kesabaran, dan kemampuan untuk menyesuaikan program dengan kebutuhan yang ada," ungkapnya.

Ia juga berpesan agar seluruh pengurus lembaga tidak mudah kehilangan semangat ketika menghadapi berbagai kendala dalam menjalankan program. Menurutnya, setiap proses pengabdian membutuhkan ketekunan, kebersamaan, dan komitmen untuk terus bergerak.

Ketua PCNU Banyuwangi tersebut berharap konsolidasi organisasi dapat terus dilaksanakan secara berkala sebagai instrumen penguatan kelembagaan, evaluasi program, sekaligus membangun komunikasi yang lebih efektif antarpengurus.

Rapat konsolidasi ini memberikan penegasan bahwa kekuatan organisasi tidak semata-mata ditentukan oleh banyaknya lembaga maupun program yang dijalankan, tetapi juga oleh kemampuan seluruh unsur untuk membangun keterhubungan kerja. Lembaga yang mandiri harus tetap berada dalam satu orientasi pengabdian, sehingga potensi yang dimiliki masing-masing dapat dihimpun menjadi kekuatan bersama.

Dengan koordinasi yang semakin kuat, PCNU Banyuwangi mendorong setiap lembaga untuk menghadirkan program yang lebih terukur, saling menguatkan, dan memiliki dampak nyata hingga ke tingkat MWCNU serta masyarakat luas.(HK)

Fatayat NU Banyuwangi Siapkan Pengusaha Perempuan Naik Kelas, 25UMKM Ikuti Pendampingan Go Digital

 


BANYUWANGI – Penguatan ekonomi perempuan terus menjadi perhatian Pimpinan Cabang Fatayat Nahdlatul Ulama (PC Fatayat NU) Kabupaten Banyuwangi. Melalui program pendampingan UMKM Go Digital, Fatayat berupaya mendorong pelaku usaha perempuan agar mampu mengembangkan bisnis secara lebih profesional, memperluas pasar, dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital.

Kegiatan yang dilaksanakan pada Ahad (8/11/2026) mulai pukul 08.00 WIB tersebut bertempat di Gedung DPRD Kabupaten Banyuwangi. Sebanyak 25 pelaku UMKM binaan Fatayat NU dari berbagai kecamatan hadir sebagai peserta. Mereka didampingi langsung oleh 25 Ketua PAC Fatayat NU se-Kabupaten Banyuwangi untuk memastikan proses pembinaan berjalan berkelanjutan hingga tingkat kecamatan.

Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi PC Fatayat NU Banyuwangi dengan Yayasan Dana Sosial Al-Falah (YDSF). Hadir sebagai narasumber, Prof. Sigit Iko Sugondo dari Bogor yang memberikan penguatan kapasitas dan pendampingan mengenai strategi pengembangan usaha berbasis digital.

Pembukaan kegiatan dilakukan oleh Wakil Ketua DPRD Kabupaten Banyuwangi, Hj. Siti Mafrochatin Nikmah, M.M. Turut hadir Kepala Bidang UMKM Dinas Koperasi Kabupaten Banyuwangi, Ibu Sri Lestari, bersama tim yang memberikan dukungan terhadap pengembangan UMKM di Banyuwangi.

Ketua PC Fatayat NU Banyuwangi, Baridatur Rahmah, S.H., menyampaikan bahwa program ini dirancang untuk memperkuat posisi perempuan dalam pembangunan ekonomi. Menurutnya, kader Fatayat memiliki potensi besar untuk mengembangkan kemandirian ekonomi, baik bagi keluarga maupun lingkungan sosialnya.

Ia berharap pembinaan dan pemberdayaan ekonomi perempuan melalui pendampingan digitalisasi dapat membuka peluang lebih luas bagi kader Fatayat untuk mengembangkan usaha.

"Perempuan Fatayat diharapkan tidak hanya menjadi pilar dalam rumah tangga, tetapi juga mampu menjadi motor penggerak kesejahteraan ekonomi. Usaha yang selama ini dimulai dari skala rumahan harus kita dorong agar berkembang menjadi usaha yang lebih luas, tertata, profesional, dan tentu melek digital. Inilah ikhtiar kita untuk membawa UMKM binaan Fatayat naik kelas," ungkap Baridatur Rahmah.

Menurutnya, penguatan UMKM perempuan membutuhkan pendampingan yang konsisten, mulai dari peningkatan kualitas produk, pengelolaan usaha, hingga kemampuan memanfaatkan platform digital sebagai sarana pemasaran dan perluasan jaringan konsumen.

Keterlibatan 25 Ketua PAC Fatayat NU dalam kegiatan ini juga menjadi bagian penting dari strategi organisasi. Para Ketua PAC diharapkan dapat mengambil peran sebagai penghubung sekaligus pendamping bagi pelaku UMKM di wilayah masing-masing, sehingga pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti pada kegiatan pelatihan.

Melalui kolaborasi dengan YDSF dan dukungan Dinas Koperasi serta DPRD Kabupaten Banyuwangi, PC Fatayat NU berharap lahir pelaku-pelaku usaha perempuan yang semakin mandiri, produktif, dan memiliki daya saing.

Fatayat bergerak membangun kemandirian perempuan. Dari rumah tangga, tumbuh menjadi kekuatan ekonomi yang mampu menggerakkan kesejahteraan masyarakat.(HK)

LKKNU Banyuwangi Matangkan Program 2027, Isbat Nikah dan Perlindungan Anak Jadi Prioritas

BANYUWANGI – Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) PCNU Kabupaten Banyuwangi mulai mematangkan arah program kerja tahun 2027 melalui evaluasi pelaksanaan kegiatan sepanjang 2026. Evaluasi tersebut menjadi pijakan untuk memperkuat peran lembaga dalam membangun ketahanan keluarga, meningkatkan kesadaran hukum perkawinan, serta memperluas edukasi perlindungan perempuan dan anak.

Pembahasan berlangsung dalam rapat evaluasi program LKKNU di sebuah ruang pertemuan, Sabtu (7/11/2026). Hadir dalam kegiatan tersebut Dewan Pakar LKKNU PCNU Banyuwangi yang juga Ketua Komisi I DPRD Banyuwangi, Ma'rifatul Kamila, Wakil Sekretaris PCNU Banyuwangi Fath Reza Abdullah, serta Ketua Tanfidziyah MWCNU Kecamatan Banyuwangi, Barurrohim atau yang akrab disapa Ayung.

Sejumlah capaian program menjadi bahan pembahasan, terutama pelaksanaan kegiatan di tingkat MWCNU. MWCNU Kecamatan Banyuwangi dinilai mampu menunjukkan aktivitas yang cukup progresif dalam mengimplementasikan program LKKNU melalui pelayanan isbat nikah dan Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS).

Pelayanan isbat nikah yang berjalan sepanjang 2026 menjadi salah satu bentuk keberpihakan organisasi terhadap persoalan administrasi dan kepastian hukum keluarga. Sementara BRUS yang dilaksanakan di sekolah dan pondok pesantren diarahkan untuk memberikan pemahaman kepada generasi muda mengenai kesiapan membangun kehidupan keluarga, tanggung jawab sosial, serta berbagai persoalan yang berkaitan dengan perkembangan remaja.

Ketua LKKNU PCNU Banyuwangi, Dalilatus Sa'adah, menegaskan bahwa evaluasi program merupakan instrumen penting untuk mengukur efektivitas kerja lembaga. Menurutnya, setiap kegiatan perlu dilihat dari aspek pelaksanaan, manfaat yang dirasakan masyarakat, hingga peluang pengembangannya agar program LKKNU semakin tepat sasaran.

Memasuki tahun 2027, LKKNU Banyuwangi akan melanjutkan pelayanan isbat nikah sekaligus memperluas program edukasi keluarga. Salah satu agenda yang disiapkan adalah workshop dan sosialisasi Konvensi Hak Anak (KHA), termasuk penguatan upaya pencegahan perundungan (bullying) di lingkungan pendidikan dan masyarakat.

Perhatian terhadap perlindungan anak menjadi salah satu fokus penting dalam perencanaan tersebut. LKKNU memandang bahwa keluarga, sekolah, pesantren, dan lingkungan masyarakat harus memiliki pemahaman serta komitmen yang sama dalam menciptakan ruang tumbuh yang aman bagi anak. Upaya pencegahan kekerasan dan perundungan membutuhkan keterlibatan bersama, disertai edukasi yang berkelanjutan.

Kehadiran Dewan Pakar LKKNU dalam forum evaluasi juga memberikan ruang penguatan perspektif kelembagaan, khususnya dalam melihat persoalan keluarga sebagai bagian dari persoalan sosial yang membutuhkan perhatian lintas sektor. Sinergi antara struktur PCNU, LKKNU, dan MWCNU menjadi modal penting agar program yang dirancang tidak berhenti pada tingkat perencanaan, tetapi benar-benar hadir menjawab kebutuhan masyarakat.

Melalui evaluasi ini, LKKNU PCNU Banyuwangi berupaya membangun pola kerja yang lebih terukur dengan menempatkan pemberdayaan keluarga sebagai orientasi utama. Keberhasilan program ke depan diharapkan tercermin dari semakin mudahnya masyarakat mengakses layanan hukum keluarga, meningkatnya pemahaman remaja, serta terbentuknya lingkungan yang lebih peduli terhadap hak dan perlindungan perempuan dan anak.

Keluarga yang berdaya membutuhkan pendampingan, edukasi, dan perlindungan. Atas dasar itulah LKKNU Banyuwangi menyiapkan agenda 2027 dengan memperkuat pelayanan langsung kepada masyarakat sekaligus membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya keluarga yang maslahat dan bermartabat.(HK)

MEMBANGUN EKOSISTEM MADRASAH AMAN: Melawan Bullying Melalui Pendidikan Karakter

 

MEMBANGUN EKOSISTEM MADRASAH AMAN:

Melawan Bullying Melalui Pendidikan Karakter

Oleh; Hj. Sri Endah Zulaikahtul Kharimah, S.Ag M.Pd

Bullying atau perundungan semakin marak dilingkungan pendidikan, termasuk madrasah, bukan semata mata karena anak memiliki prilaku nakal atau agresif , fenomena ini merupan persoalan komplek yang melibatkan keluarga , lingkungan pergaulan , budaya sekolah , pola pengasuhan serta lemahnya sistem pencegahan dan penanganan yang serius serta penanaman karakter sangat di butuhkan. Madrasah yang hebat bukan hanya tempat peserta didik menimba ilmu, tetapi juga ruang aman tempat setiap anak dihargai, dilindungi, dan tumbuh tanpa rasa takut.


Madrasah seharusnya menjadi rumah kedua bagi peserta didik. Sebuah ruang yang menghadirkan ketenangan, menumbuhkan harapan, membangun persaudaraan, serta mengembangkan potensi setiap anak. Di dalamnya, peserta didik tidak hanya belajar membaca, berhitung, memahami ilmu pengetahuan, dan mendalami ajaran agama, tetapi juga belajar menghargai perbedaan, membangun empati, mengendalikan emosi, dan memperlakukan sesama manusia dengan penuh penghormatan. Namun, ada satu persoalan serius yang masih menjadi tantangan dunia pendidikan, termasuk madrasah, yaitu perilaku bullying atau perundungan.

Fenomena bullying menjadi ironi bagi lembaga pendidikan yang seharusnya menanamkan nilai-nilai akhlak dan kemanusiaan. Bagaimana mungkin sebuah lingkungan yang mengajarkan kasih sayang justru membiarkan tindakan yang melukai perasaan dan martabat sesama? Bagaimana mungkin peserta didik diajarkan menghormati orang lain, tetapi dalam kehidupan sehari-hari masih ditemukan ejekan, penghinaan, pengucilan, intimidasi, bahkan kekerasan fisik? Pertanyaan-pertanyaan tersebut perlu menjadi bahan refleksi bersama bahwa membangun madrasah aman bukan sekadar persoalan menciptakan lingkungan yang bebas dari kekerasan, melainkan membangun budaya pendidikan yang benar-benar menghargai manusia.

Bullying: Luka yang Tidak Selalu Terlihat

Bullying bukan persoalan sederhana yang dapat dianggap sebagai candaan antarteman atau bagian dari dinamika pergaulan anak. Perundungan merupakan perilaku agresif yang dilakukan secara berulang, melibatkan ketimpangan kekuatan, dan dapat menimbulkan penderitaan bagi korban. Bentuknya pun beragam, mulai dari kekerasan fisik, ejekan verbal, penghinaan, pengucilan sosial, intimidasi, hingga perundungan melalui media digital atau cyberbullying.

Salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian adalah masih adanya anggapan bahwa mengejek teman merupakan hal biasa, mempermalukan orang lain dianggap lucu, dan mengucilkan seseorang dipandang sebagai bagian dari pergaulan. Padahal, sesuatu yang dianggap candaan oleh pelaku belum tentu dirasakan sebagai candaan oleh korban.

Dampak bullying tidak selalu tampak secara fisik. Ada peserta didik yang mengalami ketakutan, kehilangan rasa percaya diri, enggan masuk madrasah, kesulitan berkonsentrasi, bahkan menarik diri dari lingkungan sosial. Luka psikologis semacam ini terkadang tidak terlihat, tetapi dapat membekas dalam waktu yang panjang.

Karena itu, madrasah tidak boleh menunggu sampai terjadi kasus besar untuk mulai bertindak. Pencegahan harus dilakukan sejak dini melalui pembentukan karakter, penguatan budaya positif, serta keberanian seluruh warga madrasah untuk menolak segala bentuk perundungan.

Pendidikan Karakter sebagai Benteng Pencegahan

Melawan bullying tidak cukup hanya dengan memasang spanduk bertuliskan antiperundungan, membuat tata tertib, atau memberikan hukuman kepada pelaku. Semua itu dapat menjadi bagian dari upaya pencegahan dan penanganan, tetapi akar persoalannya harus disentuh melalui pendidikan karakter.

Pendidikan karakter merupakan proses membangun kesadaran moral agar peserta didik mampu membedakan perilaku yang benar dan salah, memahami perasaan orang lain, serta bertanggung jawab terhadap setiap tindakan. Karakter tidak terbentuk hanya melalui nasihat, melainkan melalui pembiasaan, keteladanan, pengalaman, dan budaya yang terus-menerus dibangun.

Madrasah memiliki modal nilai yang sangat kuat untuk mengembangkan pendidikan karakter. Nilai-nilai keislaman mengajarkan kasih sayang, persaudaraan, keadilan, kesantunan, dan penghormatan terhadap sesama. Ajaran tentang ukhuwah, akhlakul karimah, serta larangan merendahkan dan menyakiti orang lain harus diterjemahkan menjadi perilaku nyata dalam kehidupan madrasah.

Peserta didik perlu memahami bahwa menghormati teman bukan sekadar kewajiban karena adanya aturan sekolah, melainkan bagian dari tanggung jawab moral dan keagamaan. Menolong teman yang kesulitan, tidak menertawakan kekurangan orang lain, berani membela korban perundungan, dan mampu meminta maaf ketika melakukan kesalahan merupakan bentuk konkret pendidikan karakter.

Dengan demikian, pendidikan karakter harus bergerak dari sekadar pengetahuan menuju kesadaran, kemudian menjadi kebiasaan, hingga akhirnya membentuk kepribadian.

Membangun Ekosistem Madrasah yang Aman dan Humanis

Madrasah aman tidak dapat dibangun oleh kepala madrasah atau guru BK semata. Ia membutuhkan keterlibatan seluruh unsur pendidikan, mulai dari pimpinan, guru, tenaga kependidikan, peserta didik, orang tua, hingga masyarakat.

Pertama, kepemimpinan madrasah harus memiliki komitmen yang tegas terhadap perlindungan peserta didik. Kepala madrasah perlu memastikan adanya kebijakan pencegahan dan penanganan kekerasan yang jelas, mekanisme pelaporan yang mudah diakses, serta tindak lanjut yang berpihak pada keselamatan dan pemulihan korban. Setiap laporan harus ditangani secara serius, objektif, menjaga kerahasiaan, dan tidak menyalahkan korban.

Kedua, guru harus menjadi teladan dalam membangun hubungan yang sehat. Tidak mungkin kita berharap peserta didik menghargai sesamanya apabila mereka menyaksikan praktik penghinaan, pelabelan negatif, atau perlakuan diskriminatif di lingkungan pendidikan. Guru perlu membangun komunikasi yang mendidik, menghindari tindakan mempermalukan peserta didik, serta menciptakan suasana kelas yang terbuka dan inklusif.

Ketiga, peserta didik harus dilibatkan sebagai pelaku perubahan. Mereka perlu diberi pemahaman bahwa diam ketika melihat perundungan dapat membuat korban semakin tidak berdaya. Madrasah dapat mengembangkan gerakan sahabat sebaya, duta antiperundungan, kegiatan penguatan solidaritas, dan forum dialog peserta didik. Dengan cara ini, peserta didik tidak hanya menjadi objek kebijakan, tetapi juga subjek yang aktif membangun budaya aman.

Keempat, orang tua harus menjadi mitra strategis. Komunikasi antara madrasah dan keluarga perlu diperkuat agar perubahan perilaku anak dapat dipantau bersama. Pendidikan karakter tidak akan berjalan optimal apabila nilai yang dibangun di madrasah bertentangan dengan kebiasaan yang berkembang di rumah.

Guru: Pelindung, Pendidik, dan Penanam Empati

Dalam membangun madrasah aman, guru memiliki posisi yang sangat strategis. Guru bukan hanya penyampai materi pembelajaran, melainkan figur yang memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan kepribadian peserta didik.

Guru harus memiliki kepekaan untuk mengenali perubahan perilaku anak. Peserta didik yang tiba-tiba menjadi pendiam, kehilangan semangat belajar, sering menghindari teman tertentu, atau menunjukkan ketakutan ketika berada di lingkungan madrasah perlu mendapatkan perhatian. Bisa jadi, terdapat persoalan yang belum berani mereka sampaikan.

Di sinilah pentingnya membangun hubungan yang dilandasi kepercayaan. Peserta didik harus merasa bahwa guru adalah tempat yang aman untuk bercerita, bukan sosok yang akan menghakimi atau menyalahkan mereka.

Selain itu, penanganan terhadap pelaku bullying juga harus dilakukan secara edukatif. Pelaku tidak boleh dibiarkan mengulangi perbuatannya, tetapi juga tidak seharusnya langsung diberi stigma sebagai anak yang tidak memiliki masa depan. Mereka perlu mendapatkan pembinaan, pendampingan, konsekuensi yang proporsional, dan kesempatan memperbaiki perilaku. Pendekatan disiplin harus tegas, tetapi tetap mendidik.

Prinsipnya, perlindungan korban harus menjadi prioritas, sementara pembinaan pelaku diarahkan pada perubahan perilaku dan tanggung jawab.

Tantangan: Jangan Jadikan Madrasah Aman Sekadar Slogan

Tantangan terbesar dalam membangun ekosistem madrasah aman adalah kesenjangan antara komitmen dan praktik. Tidak sedikit lembaga pendidikan yang memiliki tata tertib dan program pembinaan karakter, tetapi belum sepenuhnya mampu membangun budaya yang mencegah kekerasan.

Ada kalanya kasus perundungan dianggap sebagai persoalan kecil demi menjaga nama baik lembaga. Ada pula kecenderungan menyelesaikan persoalan secara tertutup tanpa memastikan korban mendapatkan perlindungan dan pemulihan yang layak. Sikap semacam ini justru berisiko melanggengkan kekerasan.

Nama baik madrasah tidak dibangun dengan menyembunyikan persoalan, melainkan dengan keberanian menyelesaikan persoalan secara bertanggung jawab. Madrasah yang bermartabat bukanlah madrasah yang mengaku tidak pernah memiliki masalah, tetapi madrasah yang memiliki keberanian, kepedulian, dan sistem yang baik dalam mencegah serta menangani setiap bentuk kekerasan.

Oleh sebab itu, evaluasi budaya madrasah harus dilakukan secara berkala. Apakah peserta didik merasa aman? Apakah mereka berani melaporkan tindakan perundungan? Apakah guru memiliki pemahaman yang memadai tentang pencegahan kekerasan? Apakah kebijakan perlindungan benar-benar berjalan? Pertanyaan-pertanyaan ini harus menjadi bagian dari refleksi kelembagaan.

Dari Madrasah Aman Menuju Generasi Beradab

Pada akhirnya, membangun ekosistem madrasah aman merupakan investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa. Kita tidak hanya sedang mencegah perilaku bullying, tetapi juga sedang menyiapkan generasi yang mampu hidup berdampingan dalam perbedaan, menghormati martabat manusia, dan memiliki tanggung jawab sosial.

Madrasah harus menjadi tempat di mana peserta didik yang berbeda latar belakang tetap merasa diterima, anak yang memiliki keterbatasan tidak direndahkan, mereka yang lemah mendapatkan perlindungan, dan setiap individu memperoleh kesempatan yang sama untuk berkembang.

Pendidikan karakter harus menjadi ruh dalam seluruh aktivitas madrasah. Nilai kasih sayang harus hadir dalam pembelajaran, nilai keadilan tercermin dalam kebijakan, nilai persaudaraan tumbuh dalam pergaulan, dan nilai tanggung jawab diwujudkan dalam perilaku seluruh warga madrasah.

Kita perlu menyadari bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari tingginya nilai akademik atau banyaknya prestasi yang diraih peserta didik. Ada ukuran yang jauh lebih mendasar, yaitu apakah mereka tumbuh menjadi manusia yang mampu menghargai orang lain, tidak menyakiti sesama, berani membela kebenaran, dan memiliki kepedulian terhadap lingkungan sosialnya.

Madrasah yang aman bukan sekadar madrasah tanpa kekerasan, melainkan madrasah yang menghadirkan rasa aman, menumbuhkan kasih sayang, dan memuliakan martabat setiap manusia.

Sudah saatnya kita mengubah cara pandang: melawan bullying bukan hanya tugas guru BK, bukan hanya tanggung jawab kepala madrasah, dan bukan pula sekadar program sesaat. Ini adalah gerakan moral seluruh warga pendidikan.

Sebab, kita tidak ingin melahirkan generasi yang hanya cerdas dalam menjawab soal, tetapi gagal menghargai sesama. Kita ingin melahirkan generasi yang kuat dalam ilmu, luhur dalam akhlak, matang dalam emosi, dan luas dalam kepedulian.

Mari membangun madrasah yang tidak hanya mencerdaskan pikiran, tetapi juga menenangkan hati. Madrasah yang tidak hanya mengajarkan kebaikan, tetapi mempraktikkannya. Madrasah yang tidak memberi ruang bagi perundungan, karena setiap anak berhak belajar, tumbuh, dan meraih masa depan tanpa rasa takut.

Inilah wajah madrasah yang kita cita-citakan: aman lingkungannya, kuat karakternya, luhur akhlaknya, dan bermartabat peradabannya.

Khidmat Bahari, PC SNNU Banyuwangi Siap Menjaga Laut, Menghidupkan Negeri

 


BANYUWANGI – Semangat khidmah bahari mewarnai pengukuhan Pimpinan Cabang Serikat Nelayan Nahdlatul Ulama (PC SNNU) Kabupaten Banyuwangi masa khidmat 2026–2031. Mengusung semangat menjaga laut dan menghidupkan negeri, organisasi yang berhimpun dalam Nahdlatul Ulama ini diharapkan mampu memperkuat pemberdayaan masyarakat nelayan, mengembangkan sektor perikanan, serta mendorong peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat pesisir.

Pengukuhan berlangsung pada Sabtu, 31 Oktober 2026, bertempat di Pondok Pesantren Sunan Kalijaga, Sumberkencono, Kecamatan Wongsorejo, Kabupaten Banyuwangi.

Ir. H. Hardi Pitoyo dipercaya memimpin PC SNNU Kabupaten Banyuwangi bersama jajaran pengurus untuk masa khidmat lima tahun ke depan. Seusai pengukuhan, kepengurusan baru langsung bergerak melakukan koordinasi dan rapat kerja bersama Pimpinan Wilayah SNNU Jawa Timur serta sejumlah perwakilan kabupaten lainnya.

Rapat kerja tersebut menjadi langkah awal untuk merumuskan program prioritas organisasi, khususnya pada tahun pertama kepengurusan. Fokus pembahasan diarahkan pada penguatan kelembagaan, pengembangan teknologi perikanan, perluasan akses pasar, serta pemberdayaan nelayan agar semakin mandiri dan berdaya saing.

H. Hardi Pitoyo berharap kehadiran SNNU sebagai badan otonom NU yang berfokus pada masyarakat nelayan dan kemaritiman dapat memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan sektor kelautan, perikanan, dan perekonomian masyarakat Banyuwangi.

Rais Syuriah: Serahkan Urusan kepada Ahlinya

Sebelum pengukuhan, Rais Syuriah PCNU Banyuwangi, KH. Fahrudin Manan, dalam taujihadnya menegaskan pentingnya menempatkan seseorang sesuai keahlian dan kompetensinya. Menurutnya, pengembangan sektor kelautan dan perikanan harus dipercayakan kepada orang-orang yang memahami bidang tersebut serta memiliki pengalaman langsung dalam mengelolanya.

"Saya yakin sumber daya manusia di SNNU Banyuwangi terdiri atas orang-orang yang telah mendedikasikan dirinya dalam bidang perikanan dan kelautan. Potensi ini harus dikembangkan agar memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat," ungkapnya.

Ia kemudian mengajak hadirin mengambil pelajaran dari kehidupan Rasulullah SAW ketika hijrah ke Madinah. Dalam membangun kehidupan masyarakat, Rasulullah memberikan ruang kepada para sahabat yang memiliki kemampuan di bidang tertentu untuk mengembangkan potensinya, termasuk dalam bidang pertanian.

Rasulullah mengajarkan bahwa setiap persoalan harus ditangani oleh orang yang memiliki keahlian. Prinsip tersebut, menurut KH. Fahrudin Manan, relevan diterapkan dalam pengelolaan sektor kelautan dan perikanan, sehingga potensi yang dimiliki para nelayan dapat berkembang secara optimal.

Ketua PCNU: Perkuat Teknologi dan Buka Akses Pasar Nelayan

Ketua PCNU Banyuwangi, H. Achmad Turmudzi, dalam sambutannya menekankan bahwa SNNU harus membuktikan keberadaannya melalui kinerja dan program yang terukur, realistis, serta sesuai dengan kebutuhan masyarakat nelayan.

Menurutnya, salah satu persoalan mendasar yang dihadapi nelayan adalah keterbatasan teknologi. Kondisi tersebut berpengaruh terhadap hasil tangkapan yang tidak selalu mencukupi kebutuhan ekonomi keluarga.

Di sisi lain, ketika nelayan memperoleh hasil tangkapan yang melimpah, persoalan baru kerap muncul, terutama berkaitan dengan akses pemasaran dan posisi tawar nelayan dalam rantai distribusi hasil perikanan.

"SNNU harus mampu mengoptimalkan program-programnya, terutama dalam peningkatan teknologi agar nelayan kita semakin mampu bersaing. Kita memahami bahwa hasil tangkapan nelayan tidak selalu baik. Ketika hasil tangkapan melimpah pun, masih ada persoalan akses pasar yang harus diselesaikan," tegasnya.

H. Achmad Turmudzi berharap SNNU Banyuwangi dapat menjadi jembatan yang menghubungkan nelayan dengan berbagai mitra usaha, lembaga, dan jaringan pemasaran. Dengan demikian, nelayan tidak hanya berperan sebagai produsen, tetapi juga memiliki peluang lebih besar untuk memperoleh nilai ekonomi yang layak dari hasil tangkapannya.

Ia menegaskan, pemberdayaan nelayan harus diarahkan pada penguatan kapasitas, perluasan jejaring usaha, serta penciptaan sistem ekonomi yang lebih berpihak kepada masyarakat kecil.

Sektor Perikanan dan Tantangan Pengentasan Kemiskinan

Sementara itu, Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Banyuwangi, Suryono Bintang Samudra, SP, M.Si yang membuka kegiatan tersebut, menekankan pentingnya sektor perikanan sebagai salah satu penopang ekonomi masyarakat, khususnya kelompok masyarakat berpenghasilan rendah.

Ia menyampaikan bahwa sektor perikanan memiliki arti strategis dalam mendukung penghidupan masyarakat. Karena itu, dibutuhkan inovasi dan pengembangan usaha agar potensi kelautan Banyuwangi dapat memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas.

Dalam paparannya, ia menyinggung data kemiskinan di Banyuwangi yang disebut berada pada angka 5,6 persen dari jumlah penduduk sekitar 1,7 juta jiwa, atau kurang lebih 90 ribu orang. Data tersebut menjadi pengingat pentingnya upaya bersama untuk memperkuat ekonomi masyarakat.

Ia juga menyampaikan dorongan Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, agar masyarakat dan berbagai elemen pemerintah terus berinovasi dalam beragam aspek kehidupan.

Dalam konteks tersebut, pengembangan sektor perikanan membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, organisasi masyarakat, pelaku usaha, dan kelompok nelayan. Sinergi ini diharapkan mampu mendorong lahirnya inovasi, memperluas kesempatan usaha, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Raker Bersama PW SNNU, Bahas Pengembangan Teknologi

Usai pengukuhan, PC SNNU Banyuwangi langsung mengikuti rapat kerja bersama PW SNNU Jawa Timur dan sejumlah perwakilan SNNU dari kabupaten lainnya. Forum tersebut menjadi ruang konsolidasi untuk membahas persoalan strategis yang dihadapi nelayan sekaligus merumuskan langkah pengembangan organisasi ke depan.

Ketua PW SNNU Jawa Timur, Prof. Drs. Kuntjoro Basuki Dhiya'uddin, M.S.i menyampaikan bahwa pihaknya saat ini tengah melakukan riset dan pengembangan sebagai bagian dari ikhtiar memperkuat kapasitas nelayan dan menjawab tantangan sektor perikanan.

Pengembangan teknologi menjadi salah satu perhatian penting, mengingat perubahan kondisi laut, kebutuhan efisiensi usaha, dan persaingan pasar menuntut nelayan untuk terus meningkatkan kemampuan serta memanfaatkan inovasi.

Melalui riset dan pengembangan tersebut, SNNU diharapkan dapat membangun pendekatan pemberdayaan yang lebih terarah, berbasis kebutuhan lapangan, dan berkelanjutan.

Bagi PC SNNU Banyuwangi, hasil rapat kerja ini menjadi pijakan untuk menyusun program prioritas yang dapat diterapkan secara bertahap. Organisasi diharapkan mampu hadir sebagai penggerak pemberdayaan nelayan, penghubung akses usaha, sekaligus mitra strategis pemerintah dalam pengembangan ekonomi kelautan.

Dengan semangat Khidmah Bahari, PC SNNU Banyuwangi meneguhkan komitmen untuk menjadikan laut sebagai sumber penghidupan yang dikelola secara bijaksana, sektor perikanan sebagai kekuatan ekonomi rakyat, dan kesejahteraan nelayan sebagai orientasi utama perjuangan.

Menjaga laut berarti menjaga kehidupan. Menguatkan nelayan berarti menghidupkan negeri.(HK)

PWNU Jatim dan PCNU Banyuwangi Matangkan Persiapan Apel Kader NU, Pemkab Sambut Baik Rencana Kedatangan 35 Ribu Kader Nahdlatul Ulama




BANYUWANGI – Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur bersama Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Banyuwangi mematangkan persiapan pelaksanaan Apel Kader NU se-Jawa Timur melalui konsolidasi internal dan koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi. Kegiatan yang diperkirakan melibatkan 35 ribu kader dari 43 PCNU se-Jawa Timur tersebut mendapat sambutan positif dari pemerintah daerah karena dinilai berpotensi memberikan dampak berganda (multiplier effect) bagi perekonomian masyarakat Banyuwangi.

Rangkaian koordinasi berlangsung pada Jumat (30/10/2026). Pertemuan diawali di Kantor PCNU Banyuwangi, dilanjutkan dengan silaturahmi ke Pemerintah Kabupaten Banyuwangi untuk menyampaikan rencana pelaksanaan kegiatan sekaligus memohon izin dan dukungan pemerintah daerah sebagai tuan rumah.

Dalam pertemuan internal di Kantor PCNU Banyuwangi, hadir Sekretaris PWNU Jawa Timur Ir. H. Mohammad Faqih, M.SA., Ph.D., didampingi Dr. H. Musta’in, M.Ag., selaku Ketua Hari Santri Nasional (HSN) PWNU Jawa Timur, serta Dr. Ir. H. Mohammad Qoderi selaku Vice Chairman Apel Kader NU Jawa Timur. Turut hadir perwakilan Koordinator Wilayah Kader NU, yakni Ustadz Syaiful, Ustadz Sudarto, dan Lora Nasrullah.

Rombongan PWNU Jawa Timur diterima Ketua PCNU Banyuwangi H. Achmad Turmudzi bersama jajaran pengurus Tanfidziyah PCNU Banyuwangi. Pertemuan tersebut menjadi ruang konsolidasi untuk menyelaraskan langkah, membahas kesiapan penyelenggaraan, serta merumuskan kebutuhan teknis dan dukungan lintas sektor.

Konsolidasi Internal, Menyatukan Langkah dan Kesiapan Organisasi

Penunjukan Banyuwangi sebagai tuan rumah menjadi tanggung jawab bersama yang membutuhkan kesiapan organisasi secara menyeluruh. Karena itu, koordinasi PWNU Jawa Timur dan PCNU Banyuwangi diarahkan untuk memastikan seluruh unsur yang terlibat memiliki pemahaman dan langkah yang selaras.

Pembahasan mencakup kesiapan kepanitiaan, koordinasi antarwilayah, mobilisasi peserta, kebutuhan fasilitas pendukung, serta pemetaan berbagai aspek teknis yang diperlukan dalam penyelenggaraan kegiatan berskala besar.

Dengan estimasi kehadiran 35 ribu kader dari 43 PCNU, perencanaan harus dilakukan secara terukur. Pengaturan titik transit dan titik kumpul peserta, rekayasa lalu lintas, pengamanan, pelayanan kesehatan, hingga kebersihan lingkungan menjadi bagian yang perlu dikoordinasikan dengan pihak-pihak terkait.

Ketua PCNU Banyuwangi H. Achmad Turmudzi menyampaikan bahwa kepercayaan tersebut merupakan kehormatan sekaligus amanah besar bagi organisasi yang dipimpinnya.

“Ini sebuah kehormatan sekaligus amanah besar bagi kami. Setelah mendapat amanah sebagai Ketua Tanfidziyah PCNU Banyuwangi melalui konferensi pada Januari 2026, kini kami kembali dipercaya mengemban tanggung jawab untuk menyukseskan Apel Kader NU se-Jawa Timur. Kepercayaan ini menjadi motivasi bagi kami untuk meningkatkan semangat dan kerja organisasi dalam menggerakkan kekuatan Nahdlatul Ulama yang memiliki basis massa sangat besar,” ungkapnya.

Ia berharap, melalui konsolidasi yang intensif, PCNU Banyuwangi dapat menjalankan amanah tersebut dengan baik melalui kerja bersama seluruh jajaran NU dan dukungan berbagai pihak.

Sementara itu, Dr. Ir. H. Mohammad Qoderi menilai Banyuwangi memiliki potensi yang memadai untuk menjadi tuan rumah, baik dari sisi dukungan masyarakat, kekuatan struktur organisasi NU, maupun peluang kolaborasi dengan pemerintah daerah.

Sekretaris PWNU Jawa Timur Ir. H. Mohammad Faqih, M.SA., Ph.D., juga mendorong agar Apel Kader NU menjadi sarana konsolidasi yang memperkuat peran strategis Nahdlatul Ulama dalam merespons berbagai persoalan bangsa. Adapun Dr. H. Musta’in, M.Ag., menekankan pentingnya menghidupkan kembali semangat berorganisasi dan kepedulian kader sebagai energi penggerak perjuangan NU di berbagai bidang.

Silaturahmi ke Pemkab, Pamit dan Mohon Dukungan Pelaksanaan

Setelah melakukan koordinasi internal, rombongan PWNU Jawa Timur bersama PCNU Banyuwangi melanjutkan silaturahmi ke Pemerintah Kabupaten Banyuwangi.

Kunjungan tersebut merupakan bagian dari ikhtiar membangun komunikasi dan sinergi dengan pemerintah daerah. Selain menyampaikan rencana pelaksanaan Apel Kader NU se-Jawa Timur, rombongan juga berpamitan sekaligus memohon izin dan dukungan agar kegiatan dapat dipersiapkan dan dilaksanakan dengan baik di Banyuwangi.

Rombongan disambut jajaran Pemkab Banyuwangi, di antaranya Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kabag Kesra) Khoirul Anam, S.H., M.H., dan Kepala Bagian Umum Sandi Dian Ervani, S.STP.

Pihak pemerintah daerah menyampaikan sambutan positif atas rencana tersebut. Pemkab Banyuwangi menyatakan welcome dan menyambut baik kehadiran puluhan ribu kader NU dari berbagai daerah di Jawa Timur.

Pemerintah daerah memandang kegiatan berskala besar tersebut tidak hanya menjadi kegiatan organisasi keagamaan, tetapi juga berpotensi membawa dampak ekonomi yang luas bagi masyarakat.

Kedatangan peserta dari luar Banyuwangi diperkirakan akan menggerakkan berbagai sektor usaha, mulai dari transportasi, penginapan, rumah makan, kuliner, hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Perputaran ekonomi tersebut menjadi salah satu manfaat yang dapat dirasakan masyarakat selama kegiatan berlangsung.

Sambutan baik Pemkab Banyuwangi sekaligus membuka ruang bagi penguatan koordinasi antara panitia dan perangkat daerah, terutama dalam mendukung kelancaran mobilitas peserta, pengaturan lalu lintas, keamanan, ketertiban, serta kesiapan fasilitas pendukung.

Sinergi NU dan Pemerintah untuk Banyuwangi

Koordinasi PWNU Jawa Timur, PCNU Banyuwangi, dan Pemkab Banyuwangi menjadi langkah awal untuk menyatukan dukungan organisasi dan pemerintah dalam menyukseskan Apel Kader NU se-Jawa Timur.

Bagi NU, kegiatan ini menjadi ruang konsolidasi kader untuk memperkuat khidmah kepada agama, bangsa, dan masyarakat. Sementara bagi Banyuwangi, kehadiran puluhan ribu peserta membuka peluang tumbuhnya aktivitas ekonomi sekaligus memperkuat citra daerah sebagai tuan rumah kegiatan berskala regional.

Dengan dukungan pemerintah daerah dan kesiapan seluruh unsur organisasi, pelaksanaan apel diharapkan berjalan tertib, aman, dan lancar, sekaligus memberikan manfaat yang dapat dirasakan secara luas oleh masyarakat Banyuwangi.(HK)

35 Ribu Kader Penggerak NU se-Jawa Timur Siap Banjiri Banyuwangi, 1.500 UMKM Dilibatkan dalam Mujahadah Kubro

BANYUWANGI – Sebanyak 35 ribu kader penggerak Nahdlatul Ulama (NU) se-Jawa Timur diproyeksikan memadati Banyuwangi dalam gelaran Mujahadah Kubro dan Apel Kader NU pada 21–22 November 2026. Menyambut kegiatan berskala regional tersebut, PCNU Banyuwangi bersama panitia lokal terus mematangkan persiapan, mulai dari penentuan lokasi hingga koordinasi lintas sektor dan pelibatan pelaku usaha lokal dalam suatu rapat persiapan di kantor PCNU Banyuwangi, Rabu (28/10/2026)

Ketua PCNU Banyuwangi, H. Achmad Turmudzi, menginstruksikan seluruh jajaran pengurus untuk melakukan persiapan sejak dini setelah Banyuwangi mendapat kepercayaan dari PWNU Jawa Timur menjadi tuan rumah kegiatan tersebut.

Turmudzi optimistis pelaksanaan Mujahadah Kubro dan Apel Kader NU akan berjalan sukses. Keyakinan itu didasarkan pada kesiapan jajaran pengurus serta dukungan berbagai pemangku kepentingan yang akan terlibat dalam menyukseskan kegiatan.

Menurutnya, kepercayaan yang diberikan kepada Banyuwangi harus dijawab dengan kerja nyata, koordinasi yang solid, dan kesiapan seluruh unsur penyelenggara. Kehadiran puluhan ribu kader dari berbagai kabupaten di Jawa Timur membutuhkan perencanaan matang agar seluruh rangkaian kegiatan berlangsung tertib, lancar, dan khidmat.

Ketua panitia lokal, Muhlisin, S.H., menegaskan bahwa koordinasi di seluruh lini akan terus dilakukan untuk memastikan kesiapan penyelenggaraan.

“Koordinasi di semua lini akan kita lakukan secara intensif. Mulai dari kesiapan lokasi, pelayanan peserta, pengamanan, hingga keterlibatan berbagai unsur pendukung, semuanya harus dipersiapkan dengan baik. Kami ingin memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar dan sukses,” ungkapnya.

Ia menambahkan, besarnya jumlah peserta menuntut kerja sama yang kuat antara panitia, jajaran pengurus NU, pemerintah daerah, aparat terkait, dan masyarakat. Sinergi tersebut menjadi kunci agar kegiatan berskala besar ini dapat terlaksana dengan baik sekaligus memberikan manfaat yang luas bagi Banyuwangi.

Menguatkan Gerakan Moral dan Persaudaraan

Lebih dari sekadar pertemuan kader, Mujahadah Kubro dan Apel Kader NU diharapkan menjadi bagian dari ikhtiar Nahdlatul Ulama dalam memperkuat kualitas moral masyarakat serta menyampaikan pesan kebangsaan untuk kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang lebih baik.

Nilai-nilai keagamaan yang menjadi landasan perjuangan NU perlu diwujudkan melalui perilaku sosial yang menyejukkan, mengedepankan persaudaraan, serta menjaga keharmonisan di tengah keberagaman.

Kader NU diharapkan mampu menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari dengan menghindari perilaku saling menghujat, menyebarkan kebencian, maupun memperkeruh suasana melalui informasi yang belum terverifikasi.

Sikap tabayun, yakni memeriksa kebenaran informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya, perlu terus dikedepankan. Di tengah derasnya arus informasi, sikap bijak dan bertanggung jawab menjadi bagian penting dalam menjaga persatuan serta mencegah munculnya konflik di tengah masyarakat.

Semangat tersebut juga harus tercermin dalam kehidupan bertetangga dan membangun persaudaraan, baik sesama umat Islam maupun dengan pemeluk agama lain serta seluruh komponen masyarakat.

Dengan demikian, kehadiran puluhan ribu kader NU di Banyuwangi diharapkan membawa pesan kesejukan, memperkuat kerukunan, dan meneguhkan komitmen bersama dalam merawat persatuan bangsa.

Libatkan 1.500 UMKM, Gerakkan Ekonomi Kerakyatan

Selain membawa misi keagamaan dan kebangsaan, pelaksanaan Mujahadah Kubro dan Apel Kader NU juga diproyeksikan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat Banyuwangi.

Sekitar 1.500 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) direncanakan terlibat dalam mendukung kebutuhan konsumsi serta berbagai layanan bagi para kader yang datang dari berbagai kabupaten di Jawa Timur.

Keterlibatan ribuan pelaku usaha tersebut menjadi peluang untuk memperluas pasar, meningkatkan transaksi, sekaligus memperkenalkan produk unggulan Banyuwangi kepada masyarakat dari berbagai daerah.

Kehadiran peserta dalam jumlah besar juga berpotensi menggerakkan berbagai sektor ekonomi, mulai dari perdagangan, kuliner, transportasi, hingga jasa penunjang kegiatan.

Karena itu, persiapan kegiatan diharapkan mampu memastikan pelaku UMKM lokal memperoleh ruang partisipasi yang optimal. Dengan pengelolaan yang baik, perhelatan ini dapat menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat sekaligus memperkuat hubungan antara organisasi keagamaan dan sektor usaha rakyat.

Sinergi antara PCNU Banyuwangi, PWNU Jawa Timur, pemerintah daerah, pemangku kepentingan, dan masyarakat menjadi faktor penting dalam mewujudkan tujuan tersebut.

Mujahadah Kubro dan Apel Kader NU di Banyuwangi diharapkan menjadi perhelatan yang menyatukan kekuatan spiritual, pengabdian sosial, dan semangat kebangsaan. Di saat yang sama, kegiatan ini menjadi kesempatan bagi Banyuwangi untuk menunjukkan kesiapan sebagai tuan rumah sekaligus menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.

Dengan semangat khidmah dan kebersamaan, Banyuwangi bersiap menyambut 35 ribu kader penggerak NU untuk memperkuat persaudaraan, menyuarakan pesan moral kebangsaan, serta menggerakkan ekonomi kerakyatan.(HK)

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger