Pages

Hari Puisi Indonesia, Lentera Sastra Berkolaborasi dengan BCM dan Rumah Kebangsaan, Menyatukan Kata dan Kepedulian

BANYUWANGI – Taman Blambangan pada Minggu (26/7/2026) menjelma menjadi ruang tempat kata-kata bertumbuh menjadi cahaya. Di bawah langit Banyuwangi yang teduh, bait-bait puisi mengalir bersama denyut kepedulian dalam peringatan Hari Puisi Indonesia yang digelar Yayasan Lentera Sastra Banyuwangi berkolaborasi dengan Banyuwangi Creative Market (BCM) dan Rumah Kebangsaan.


Perhelatan yang menjadi bagian dari peringatan satu tahun Banyuwangi Creative Market itu tidak hanya menghadirkan panggung baca puisi, tetapi juga donor darah, santunan bagi anak yatim, dan berbagai aksi sosial. Seni dan kemanusiaan berpadu tanpa sekat, menghadirkan pesan bahwa puisi bukan sekadar rangkaian kata, melainkan denyut nurani yang mampu menyentuh kehidupan.

Hari Puisi Indonesia ditetapkan berdasarkan deklarasi 40 penyair dari seluruh Indonesia pada 22 November 2012 di Anjungan Idrus Tintin, Pekanbaru, Riau. Deklarasi ini dibacakan oleh Presiden Penyair Indonesia Sutardji Calzoum Bachri. Pemilihan tanggal 26 Juli merujuk pada hari lahir Chairil Anwar pada 26 Juli 1922 di Medan, Sumatera Utara, Pemerintah kemudian menetapkan 26 Juli sebagai Hari Puisi Indonesia melalui keputusan resmi pada tahun 2025

Ketua Yayasan Lentera Sastra Banyuwangi, Syafaat, mengatakan Hari Puisi Nasional merupakan momentum untuk menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap sastra sekaligus memperkuat nilai-nilai kemanusiaan.

"Puisi adalah media yang mampu menyampaikan pesan kemanusiaan, membangun kepekaan sosial, serta mempererat persaudaraan. Karena itu, kami menggabungkan peringatan Hari Puisi Indonesia dengan kegiatan sosial agar manfaatnya dapat dirasakan secara lebih luas oleh masyarakat," ujarnya.

Panggung puisi menghadirkan beragam suara dari lintas generasi dan profesi. Penyair, guru, pelajar, santri, hingga pegiat literasi silih berganti menyampaikan karya dengan penghayatan yang menyentuh. Dari lingkungan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi hadir Kepala MTsN 5 Banyuwangi Herny Nilawati, Kepala MTsN 2 Banyuwangi Uswatun Hasanah, Lulu Anwariyah dan Cicik Handayani dari MTsN 4 Banyuwangi, Nurul Ludfia Rochmah selaku Ketua HISKI Komisariat Banyuwangi yang juga guru MAN 1 Banyuwangi bersama para siswanya, Nukhbah Fahiroh dari MTsN 1 Banyuwangi, peraih Juara Liga Puisi Kategori Guru sekaligus penerima penghargaan Sastra Tama, serta Nur Khofifah, guru MIN 1 Banyuwangi yang juga penerima penghargaan Sastra Tama.

Suasana semakin hidup ketika Elok Faiqoh, Juara Liga Puisi Kategori SLTA Tahun 2025, tampil membacakan puisi dengan penjiwaan yang kuat. Setiap larik yang dilantunkan seolah mengajak hadirin menyelami makna, hingga tepuk tangan panjang mengiringi penampilannya.

Kesegaran juga datang dari para santri. Azka Dzakiyatus Shaleha, Zahiya Farha Sakinah, Muhammad Bisma Arkananta Mahardika, Kiasatina Elisa Yulfani, dan Ananda Nur Millati Laili dari MI Darunnajah 2 Tukang Kayu tampil percaya diri membacakan puisi. Penampilan mereka disusul santri MI Syamsul Huda Bulusan, Kalipuro, yang mampu memikat perhatian penonton dengan pembacaan puisi yang penuh semangat.

Salah satu momen paling menggetarkan hadir ketika Purwowidodo, Penyelenggara Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, melangkah ke panggung membawakan puisi berjudul "Bukan Warisan Malaikat." Dengan intonasi yang tenang namun menghunjam, ia menuturkan larik demi larik yang mengajak hadirin merenungi kemanusiaan, toleransi, dan tanggung jawab moral. Sejenak suasana menjadi hening, seolah setiap kata menemukan rumahnya di dalam hati para pendengar. Tepuk tangan panjang yang menggema menjadi penanda bahwa puisi masih memiliki kekuatan untuk menyatukan rasa.

Ketua Banyuwangi Creative Market, Rahmad Hidayat, mengapresiasi kolaborasi berbagai komunitas yang berhasil memadukan seni, kreativitas, dan aksi sosial dalam satu ruang kebersamaan. Menurutnya, sinergi tersebut menjadi energi positif bagi tumbuhnya ekosistem ekonomi kreatif sekaligus memperkuat budaya gotong royong di Banyuwangi.

Sementara itu, Ketua Rumah Kebangsaan, Hakim Said, menegaskan bahwa sastra merupakan salah satu jalan yang efektif untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan, toleransi, dan persatuan. Ia berharap panggung-panggung sastra terus dihadirkan sebagai ruang dialog budaya yang mampu merawat harmoni di tengah keberagaman.

Kegiatan ini juga dihadiri Pengawas Madrasah St. Muanifah, penyair Faiz Abadi bersama putrinya Tirta Baiti Jannah, serta sejumlah penyair dan pegiat literasi dari berbagai komunitas. Hangatnya kebersamaan, antusiasme para peserta, dan apresiasi masyarakat menjadi bukti bahwa puisi masih hidup dan terus menemukan pembacanya.

. Kolaborasi Yayasan Lentera Sastra Banyuwangi, Banyuwangi Creative Market, dan Rumah Kebangsaan telah menghadirkan peringatan Hari Puisi Nasional yang bukan hanya merayakan sastra, melainkan juga merawat kepedulian. Sebab, ketika puisi bertemu kemanusiaan, yang lahir bukan sekadar keindahan bahasa, melainkan harapan bahwa peradaban selalu dapat dibangun melalui kata, kasih, dan kebersamaan. (SYF)

LKKNU Banyuwangi Matangkan Persiapan Isbat Nikah Terpadu bagi 40 Pasangan

 BANYUWANGI – Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) PCNU Banyuwangi terus mematangkan persiapan pelaksanaan Isbat Nikah Terpadu yang dijadwalkan berlangsung pada 14 Agustus 2026. Persiapan tersebut dibahas dalam rapat koordinasi yang diselenggarakan di Aula Kantor PCNU Banyuwangi dengan melibatkan jajaran pengurus dan tim pelaksana. 


Rapat dipimpin oleh Ketua LKKNU Banyuwangi, Dalilatus Saadah, serta dihadiri Ketua Tanfidziyah PCNU Banyuwangi Achmad Turmudzi, Sekretaris Bisri Mustofa, Bendahara Junaedi, Wakil Sekretaris Fadh Reza Abdullah, Dewan Pakar LKKNU Banyuwangi Syafaat, S.H., M.H.I., dan Koordinator Bidang Pemberdayaan dan Ketahanan Keluarga Imam Muklis, S.Ag., M.H.I.

Dalam arahannya, Ketua LKKNU Banyuwangi, Dalilatus Saadah, menyampaikan bahwa pelaksanaan Isbat Nikah Terpadu tahun ini dirancang dengan sistem pelayanan yang lebih efektif melalui pembentukan tiga majelis sidang. Langkah tersebut dilakukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan sekaligus mempercepat proses persidangan tanpa mengurangi aspek ketelitian dan kepastian hukum.

"Kami membentuk tiga majelis sidang agar proses pelayanan berlangsung lebih efektif, tertib, dan mampu memberikan kepastian hukum kepada seluruh peserta secara optimal," ujarnya.

Sementara itu, Ketua Tanfidziyah PCNU Banyuwangi, Achmad Turmudzi, menegaskan bahwa Kantor PCNU Banyuwangi akan menjadi lokasi penyelenggaraan seluruh rangkaian kegiatan. Menurutnya, dukungan PCNU merupakan bagian dari komitmen organisasi dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, khususnya dalam pemenuhan hak-hak hukum di bidang administrasi perkawinan.

"Kami berkomitmen mendukung penuh pelaksanaan Isbat Nikah Terpadu agar berjalan lancar, tertib, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat yang membutuhkan legalitas perkawinan," katanya.

Program Isbat Nikah Terpadu merupakan bentuk pelayanan publik berbasis kolaborasi lintas instansi yang bertujuan memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh kepastian hukum atas perkawinannya. Melalui layanan terpadu ini, peserta akan memperoleh penetapan isbat nikah dari pengadilan, pencatatan perkawinan melalui penerbitan buku nikah, serta pembaruan dokumen administrasi kependudukan dalam satu rangkaian pelayanan. Model pelayanan tersebut diharapkan mampu meningkatkan efisiensi, mempercepat proses administrasi, serta memperluas akses masyarakat terhadap layanan hukum dan administrasi yang terpadu.

Selain membahas aspek teknis pelaksanaan, rapat koordinasi juga mengevaluasi kesiapan sumber daya manusia, pembagian tugas kepanitiaan, mekanisme pelayanan, serta sarana dan prasarana pendukung. Seluruh persiapan tersebut dilakukan untuk memastikan pelaksanaan Isbat Nikah Terpadu bagi 40 pasangan dapat berlangsung secara profesional, efektif, transparan, dan akuntabel.

Melalui koordinasi yang intensif dan sinergi antarlembaga, LKKNU PCNU Banyuwangi berharap pelaksanaan Isbat Nikah Terpadu tahun 2026 dapat memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat, sekaligus memperkuat tertib administrasi, kepastian hukum, serta perlindungan terhadap hak-hak keluarga di Kabupaten Banyuwangi

SNNU Banyuwangi Dukung Gerakan Penanaman Mangrove di Pesisir Wongsorejo"

Banyuwangi – Serikat Nelayan Nahdlatul Ulama (SNNU) Banyuwangi menyatakan dukungan penuh terhadap kegiatan penanaman 1.000 pohon cemara udang dan 3.000 pohon bakau di kawasan Pantai Alasbuluh, Desa Alasbuluh, Kecamatan Wongsorejo, Rabu (22/7/2026). Penanaman yang mencakup area seluas 5 hektare tersebut menjadi bagian dari upaya rehabilitasi kawasan pesisir guna menjaga kelestarian lingkungan sekaligus memperkuat ketahanan ekosistem yang menjadi penopang kehidupan masyarakat nelayan.


Kegiatan dibuka secara resmi oleh Kepala Cabang Dinas Kehutanan Wilayah Banyuwangi, Purwadhi, S.Hut., M.M. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa pelestarian kawasan pesisir melalui penanaman mangrove dan cemara udang merupakan tanggung jawab bersama. Menurutnya, keberadaan vegetasi pantai memiliki fungsi penting dalam mencegah abrasi, menjaga keseimbangan ekosistem, serta melindungi kawasan pesisir dari dampak perubahan iklim. Ia juga mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama merawat tanaman yang telah ditanam agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.


Kegiatan tersebut turut dihadiri Camat Wongsorejo, perwakilan Lanal Banyuwangi, UPT Pembenihan Tanaman Hutan, Pemerintah Desa Alasbuluh, Kelompok Tani Hutan (KTH) Harapan, serta berbagai kelompok masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap pelestarian lingkungan pesisir.


Mewakili SNNU Banyuwangi, Ahmad Muhtarom menyampaikan bahwa gerakan penghijauan kawasan pantai merupakan investasi jangka panjang bagi keberlangsungan kehidupan masyarakat pesisir. Keberadaan hutan mangrove dan cemara udang tidak hanya berfungsi menahan abrasi dan mengurangi dampak gelombang, tetapi juga menjadi habitat alami berbagai jenis ikan, udang, kepiting, dan biota laut yang menjadi sumber penghidupan para nelayan.


"Bagi nelayan, mangrove bukan sekadar pohon yang tumbuh di tepi pantai, tetapi menjadi penyangga kehidupan. Jika ekosistem pesisir terjaga, maka keberlanjutan hasil tangkapan nelayan juga akan semakin baik. Karena itu, penanaman 1.000 cemara udang dan 3.000 pohon bakau di lahan seluas 5 hektare ini harus kita jaga bersama agar benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat," ujar Ahmad Muhtarom.


Ia menambahkan, pelestarian lingkungan pesisir harus menjadi gerakan bersama yang melibatkan pemerintah, TNI AL, pemerintah desa, UPT Pembenihan Tanaman Hutan, kelompok tani hutan, nelayan, serta berbagai organisasi kemasyarakatan. Kolaborasi tersebut diharapkan tidak berhenti pada kegiatan penanaman, tetapi berlanjut dengan pemeliharaan dan pengawasan sehingga seluruh tanaman dapat tumbuh optimal.


SNNU Banyuwangi juga mengajak seluruh masyarakat, khususnya warga Nahdliyin di wilayah pesisir, untuk menjadikan kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian dari ikhtiar menjaga amanah Allah SWT. Dengan pesisir yang tetap lestari, sumber daya perikanan akan terjaga, kesejahteraan nelayan meningkat, dan manfaatnya dapat dirasakan oleh generasi yang akan datang. (ARD)

Gerakan Indonesia ASRI Digelar di Banyuwangi, Ribuan Warga Bersatu Jaga Kebersihan Pesisir

BANYUWANGI – Semangat gotong royong mewarnai kawasan Pantai Ancol Plengsengan, Kelurahan Lateng, Kabupaten Banyuwangi, Selasa (21/7/2026). Lebih dari seribu peserta dari berbagai unsur masyarakat ambil bagian dalam aksi bersih pantai yang merupakan bagian dari Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah), sebuah gerakan nasional yang diinisiasi pemerintah untuk memperkuat kepedulian masyarakat terhadap kelestarian lingkungan.


Kegiatan yang diprakarsai Direktorat Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Kementerian Dalam Negeri bersama Pemerintah Kabupaten Banyuwangi tersebut melibatkan nelayan, warga pesisir, pegiat lingkungan, aparatur sipil negara, TNI, Polri, mahasiswa, hingga para pelajar. Sejak pagi, para peserta bergotong royong mengumpulkan sampah di sepanjang kawasan pantai sebagai wujud nyata kepedulian terhadap kebersihan lingkungan.

Direktur Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Kementerian Dalam Negeri, Safrizal, mengatakan bahwa Gerakan Indonesia ASRI merupakan upaya membangun budaya peduli lingkungan yang dimulai dari tindakan sederhana, seperti menjaga kebersihan kawasan publik dan mengelola sampah secara bertanggung jawab.

"Hari ini Kemendagri bersama Pemerintah Kabupaten Banyuwangi melaksanakan Gerakan Indonesia ASRI sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan, khususnya dalam menjaga kebersihan dan ketertiban kawasan," ujar Safrizal.

Menurutnya, Banyuwangi dipilih sebagai lokasi pelaksanaan kegiatan karena dinilai konsisten dalam menerapkan berbagai program strategis pemerintah pusat. Komitmen tersebut menjadi modal penting untuk menjadikan Banyuwangi sebagai contoh pelaksanaan gerakan peduli lingkungan bagi daerah lain di Indonesia.

Sementara itu, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menjelaskan bahwa semangat Gerakan Indonesia ASRI telah diimplementasikan melalui program Banyuwangi ASRI yang secara rutin dilaksanakan di seluruh kecamatan serta desa dan kelurahan.

"Kegiatan menjaga kebersihan lingkungan telah menjadi agenda berkelanjutan di Banyuwangi. Tidak hanya di kawasan pantai, tetapi juga di lingkungan permukiman, desa, dan ruang-ruang publik lainnya," kata Ipuk.

Lebih lanjut, Ipuk menegaskan bahwa pembangunan lingkungan yang bersih tidak hanya diwujudkan melalui kegiatan gotong royong, tetapi juga dengan membangun kesadaran masyarakat agar senantiasa menjaga lingkungan tetap aman, sehat, bersih, dan indah.

Dalam mendukung pengelolaan sampah yang berkelanjutan, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi juga terus memperluas pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) di berbagai wilayah. Keberadaan fasilitas tersebut dinilai mampu meningkatkan efektivitas pengelolaan sampah sekaligus mengurangi beban sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir.

Melalui Gerakan Indonesia ASRI, diharapkan semangat kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat terus tumbuh sehingga tercipta lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan lestari sebagai warisan bagi generasi mendatang.

Banyuwangi Jadi Pusat Konsolidasi Delegasi Indonesia Bahas Penguatan Smart City ASEAN

BANYUWANGI – Kabupaten Banyuwangi menjadi lokasi konsolidasi delegasi Indonesia dalam rangka mengikuti The 9th ASEAN Smart Cities Network (ASCN) Annual Meeting, Senin (20/7/2026). Pertemuan yang digelar secara luring di Banyuwangi tersebut terhubung secara daring dengan forum utama yang berlangsung di Filipina dan diikuti oleh negara-negara anggota ASEAN beserta sejumlah negara mitra.


Forum tahunan ASCN menjadi wadah strategis untuk memperkuat kerja sama internasional dalam mendorong pembangunan kota cerdas yang inovatif, inklusif, dan berkelanjutan. Selain dihadiri 11 negara anggota ASEAN, pertemuan juga melibatkan mitra pembangunan seperti Korea Selatan, Jepang, Uni Emirat Arab, dan Rusia.

Konsolidasi delegasi Indonesia di Banyuwangi diikuti oleh enam daerah yang menjadi representasi Indonesia dalam jaringan ASCN, yaitu Kabupaten Banyuwangi, DKI Jakarta, Kota Makassar, Kabupaten Sumedang, Kota Semarang, dan Kota Denpasar. Pertemuan dipimpin oleh Direktur Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Kementerian Dalam Negeri, Safrizal, bersama para kepala daerah maupun perwakilan delegasi dari masing-masing wilayah.

Safrizal menjelaskan bahwa ASEAN Smart Cities Network merupakan forum kerja sama antarnegara ASEAN dalam mengembangkan konsep kota cerdas sebagai bagian dari pembangunan kawasan. Menurutnya, Indonesia memiliki peran penting dalam menghadirkan berbagai inovasi daerah yang dapat menjadi contoh bagi negara-negara di Asia Tenggara.

"Kami memusatkan pertemuan konsolidasi di Kabupaten Banyuwangi. Awalnya, saat ASCN berdiri pada 2018, yang kita promosikan ke tingkat Asia Tenggara adalah DKI Jakarta, Makassar, dan Banyuwangi. Kini Indonesia menambah tiga delegasi baru sehingga semakin memperkuat kontribusi dalam jaringan ASCN," ujar Safrizal.

Ia menambahkan, forum tersebut juga menjadi kesempatan bagi setiap delegasi untuk mempresentasikan perkembangan implementasi program smart city di daerah masing-masing sekaligus bertukar pengalaman mengenai berbagai inovasi yang telah dijalankan.

Sementara itu, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani memaparkan sejumlah inovasi yang menjadi bagian dari transformasi digital daerah. Menurutnya, Banyuwangi mengembangkan konsep smart city melalui pendekatan smart village, sehingga pembangunan berbasis teknologi dapat menjangkau hingga tingkat desa.

"Banyuwangi hadir bersama jaringan kota ASCN lainnya untuk berbagi praktik baik mengenai pengembangan smart city dengan negara-negara ASEAN. Pendekatan yang kami bangun menempatkan desa sebagai fondasi utama transformasi digital," kata Ipuk.

Dalam paparannya, Ipuk menjelaskan keberhasilan Banyuwangi mengembangkan sistem pengelolaan sampah berkelanjutan melalui Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R). Program tersebut mengedepankan ekonomi sirkular, mulai dari pemilahan sampah di tingkat rumah tangga, edukasi lingkungan, hingga pemanfaatan sampah plastik menjadi Refuse Derived Fuel (RDF) sebagai bahan bakar alternatif bagi industri.

Selain itu, Banyuwangi juga memperkenalkan layanan kesehatan digital Oasis Wangi (Online Akses Solusi Indonesia Sehat dari Banyuwangi) yang memungkinkan masyarakat memperoleh konsultasi kesehatan selama 24 jam melalui aplikasi WhatsApp. Layanan tersebut dikembangkan bersama mitra Noora Health sebagai bagian dari transformasi pelayanan publik berbasis teknologi.

Menutup paparannya, Ipuk menegaskan bahwa keikutsertaan Banyuwangi dalam ASEAN Smart Cities Network bukan hanya untuk memperkenalkan inovasi daerah, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran bersama dalam mewujudkan pembangunan yang cerdas, adaptif, dan berkelanjutan di kawasan ASEAN.

BNNK dan Bea Cukai Banyuwangi Perkuat Kolaborasi Cegah Peredaran Narkotika

Banyuwangi – Upaya membangun ketahanan masyarakat terhadap ancaman penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika terus diperkuat melalui sinergi lintas instansi. Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Banyuwangi menerima kunjungan audiensi dari Bea Cukai Banyuwangi di Kantor BNNK Banyuwangi, Selasa (21/7/2026), sebagai langkah mempererat kerja sama dalam pelaksanaan program Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN).



Pertemuan tersebut menjadi forum strategis untuk menyelaraskan langkah, memperkuat koordinasi, serta mengoptimalkan pertukaran informasi sesuai dengan kewenangan dan fungsi masing-masing lembaga. Sinergi ini dinilai penting dalam menghadapi berbagai tantangan penyalahgunaan dan peredaran narkotika yang semakin kompleks.


Selain membahas penguatan koordinasi, kedua instansi juga merancang berbagai agenda edukasi dan sosialisasi P4GN yang akan dilaksanakan secara bersama-sama. Program tersebut ditujukan kepada masyarakat serta berbagai pemangku kepentingan sebagai upaya membangun kesadaran kolektif mengenai bahaya narkotika sekaligus mendorong partisipasi aktif dalam pencegahannya.


Audiensi berlangsung dalam suasana hangat, konstruktif, dan penuh semangat kebersamaan. Melalui pertemuan ini, BNNK Banyuwangi dan Bea Cukai Banyuwangi kembali menegaskan komitmen untuk memperkuat kolaborasi antarlembaga demi menciptakan Kabupaten Banyuwangi yang aman, sehat, serta terbebas dari penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika.

Sekretaris LKKNU Cabang Banyuwangi Jadi Narasumber Edukasi Literasi Finansial, Tekankan Pentingnya Manajemen Keuangan untuk Mewujudkan Ketahanan Ekonomi Keluarga

Banyuwangi  (Warta Blambangan) – Sekretaris Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) Cabang Banyuwangi, Dr. Nur Anim Jauhariyah, S.Pd., M.Si., menjadi narasumber dalam kegiatan Edukasi Literasi Finansial yang diselenggarakan oleh Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Selasa (21/07/2026), di Aula Bawah Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi. Kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman anggota DWP mengenai pentingnya pengelolaan keuangan keluarga sebagai fondasi dalam membangun ketahanan ekonomi rumah tangga. Selain Dr. Nur Anim, kegiatan juga menghadirkan H. Mujiono, S.H., Ketua PD BKPRMI Kabupaten Banyuwangi.



Dalam paparannya, Dr. Nur Anim Jauhariyah menjelaskan bahwa manajemen keuangan keluarga merupakan proses mengelola seluruh sumber daya keuangan secara terencana agar mampu memenuhi kebutuhan hidup saat ini sekaligus mempersiapkan kebutuhan pada masa mendatang. Menurutnya, kemampuan mengelola keuangan tidak hanya berkaitan dengan besarnya pendapatan, tetapi juga ditentukan oleh kedisiplinan dalam menyusun prioritas dan mengendalikan pengeluaran.


«"Manajemen keuangan keluarga bukan sekadar mencatat pemasukan dan pengeluaran, tetapi membangun kebiasaan hidup yang disiplin, bertanggung jawab, dan mampu mengambil keputusan finansial secara bijaksana. Keluarga yang memiliki perencanaan keuangan akan lebih siap menghadapi berbagai tantangan ekonomi," ujar Dr. Nur Anim.»


Ia menambahkan bahwa perencanaan keuangan yang baik akan membantu keluarga menghindari perilaku konsumtif sekaligus mempermudah pencapaian tujuan jangka panjang, seperti pembiayaan pendidikan anak, kepemilikan rumah, hingga persiapan masa pensiun. Oleh karena itu, setiap keluarga perlu menyusun anggaran yang proporsional sesuai kebutuhan dan kemampuan finansial.


Dalam kesempatan tersebut, Dr. Nur Anim juga memperkenalkan strategi penyusunan anggaran bulanan dengan membagi pendapatan ke dalam beberapa pos, meliputi kebutuhan pokok, tabungan, investasi, kebutuhan pribadi, serta dana darurat dan proteksi. Ia mengingatkan peserta agar lebih cermat mengendalikan pengeluaran-pengeluaran kecil yang sering diabaikan, seperti belanja impulsif maupun langganan layanan yang tidak lagi dimanfaatkan.


«"Kebiasaan sederhana seperti mencatat seluruh pemasukan dan pengeluaran, menabung terlebih dahulu sebelum berbelanja, serta menyisihkan dana darurat secara konsisten akan memberikan dampak besar terhadap stabilitas keuangan keluarga," katanya.»


Lebih lanjut, ia menjelaskan pentingnya membangun dana darurat sebesar tiga hingga enam kali kebutuhan bulanan sebagai bentuk antisipasi terhadap kondisi yang tidak terduga. Selain itu, kebiasaan menabung dan berinvestasi sesuai tujuan keuangan perlu dibangun sejak dini. Menurutnya, perlindungan melalui asuransi juga merupakan bagian dari perencanaan keuangan yang mampu meminimalkan risiko ekonomi akibat sakit, kecelakaan, maupun kehilangan aset.


Sementara itu, narasumber kedua, H. Mujiono, S.H., menekankan bahwa literasi finansial harus menjadi budaya dalam kehidupan keluarga. Menurutnya, kemampuan membedakan antara kebutuhan dan keinginan, disertai pengelolaan pendapatan secara bijaksana, merupakan modal penting dalam menciptakan keluarga yang mandiri dan sejahtera.


«"Ketahanan ekonomi keluarga tidak dibangun dalam waktu singkat, tetapi melalui kebiasaan mengelola keuangan secara konsisten, hidup sederhana, dan menghindari perilaku konsumtif," ungkap H. Mujiono.»


Kegiatan berlangsung interaktif dengan antusiasme peserta yang aktif berdiskusi mengenai berbagai persoalan pengelolaan keuangan rumah tangga. Melalui edukasi literasi finansial ini, Dharma Wanita Persatuan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi berharap para anggotanya semakin memiliki kemampuan dalam merencanakan keuangan keluarga secara sehat sehingga mampu mewujudkan keluarga yang tangguh, mandiri, dan sejahtera sebagai bagian dari penguatan ketahanan keluarga di tengah dinamika ekonomi yang terus berkembang.

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger