Pages

PORSADIN III FKDT Banyuwangi Resmi Bergulir, Jadi Panggung Lahirnya Santri Berprestasi dan Berkarakter

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Semangat kompetisi, nilai keislaman, dan gairah pembinaan santri berpadu dalam pembukaan Pekan Olahraga dan Seni Antar Madrasah Diniyah Takmiliyah (PORSADIN) Ke-3 Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT) Kabupaten Banyuwangi, Minggu (28/6/2026). Kegiatan bergengsi yang digelar di Kampus Universitas Islam Cordoba dan Pondok Pesantren Mabadiul Ihsan itu secara resmi dibuka oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Dr. H. Chaironi Hidayat, S.Ag., M.M., dengan pengawalan ketat dewan juri dari kalangan akademisi, praktisi Al-Qur’an, dan pegiat sastra.


PORSADIN tahun ini bukan sekadar ajang perlombaan biasa. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi panggung besar bagi para santri Madrasah Diniyah Takmiliyah se-Banyuwangi untuk menunjukkan kemampuan terbaik, mengukir prestasi, sekaligus meneguhkan jati diri sebagai generasi Islam yang tangguh, cerdas, dan berakhlakul karimah.

Dalam sambutannya, Dr. Chaironi Hidayat menegaskan bahwa Madrasah Diniyah Takmiliyah merupakan benteng penting dalam membangun karakter generasi muda. Menurutnya, di tengah derasnya arus perubahan zaman, santri harus memiliki fondasi akhlak yang kokoh, disiplin yang kuat, dan tanggung jawab yang tinggi.

“PORSADIN adalah ruang lahirnya bibit-bibit unggul. Di sini bukan hanya kemampuan yang diuji, tetapi juga mental, sportivitas, dan integritas,” tegasnya.

Ia juga memberikan apresiasi tinggi kepada FKDT Banyuwangi yang dinilai istiqamah menjaga tradisi pembinaan santri melalui kegiatan kompetitif yang sarat nilai edukatif dan spiritual.

Ketua DPC FKDT Banyuwangi, Ahmad Masruhan Hamidi, S.E.I., menegaskan bahwa seluruh cabang lomba berjalan berdasarkan petunjuk teknis yang telah disusun secara matang. Ia memastikan proses penjurian dilakukan secara objektif, transparan, dan profesional demi menghasilkan juara-juara terbaik.

“Setiap peserta dinilai murni berdasarkan kemampuan. Tidak ada ruang bagi subjektivitas. Semua dilakukan dengan penuh tanggung jawab,” ujarnya.

Untuk menjaga marwah dan kualitas kompetisi, panitia menghadirkan dewan hakim berkompeten. Pada cabang Al-Qur’an, penilaian dilakukan oleh Hj. Eva Suudah, S.Ag., Pengawas RA sekaligus Pembina LPTQ Banyuwangi, bersama Moh. Fauzan Anshori, S.H.I., M.M., Penghulu KUA Kecamatan Srono dan pengurus LKKNU Banyuwangi.


Sementara pada cabang Puisi Islami, dewan juri diperkuat oleh Syafaat, S.H., M.H.I., Ketua Lentera Sastra Banyuwangi dan pengurus Dewan Kesenian Belambangan, didampingi Siti Elok Faiqoh, jawara Liga Puisi Jawa Pos Radar Banyuwangi 2023, serta Firman Yunus, S.Pd., guru dan pegiat sastra dari SD Islam Darussalam Blokagung.

Dalam penilaian puisi, para juri menitikberatkan pada kekuatan penghayatan, ketepatan artikulasi, intonasi, ekspresi, penampilan, hingga adab peserta—menjadikan lomba ini bukan hanya soal suara, tetapi juga soal jiwa.

Mengusung tema “Berkhidmah Bersama Madrasah Diniyah Membangun Karakter Bangsa”, PORSADIN III mempertandingkan tujuh cabang lomba, yaitu Tahfidz Juz Amma, Pidato Bahasa Indonesia, Pidato Bahasa Arab, Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ), Murottal wal Imla’, Puisi Islami, dan Adzan.

Turut hadir mewakili Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi, Hj. Dr. Lina Kamalin, M.Pd., selaku Kepala Bidang Pendidikan Masyarakat. Kehadirannya menegaskan dukungan penuh pemerintah daerah terhadap penguatan pendidikan keagamaan sebagai fondasi pembangunan sumber daya manusia yang unggul.

Melalui pelaksanaan yang tertib dan penuh semangat sportivitas, PORSADIN III FKDT Banyuwangi diharapkan menjadi kawah candradimuka lahirnya generasi santri berprestasi yang siap mengharumkan nama Banyuwangi di tingkat Provinsi Jawa Timur. Lebih dari itu, ajang ini menjadi bukti bahwa Madrasah Diniyah Takmiliyah tetap kokoh sebagai pilar pembentuk generasi berilmu, berakhlak, dan siap menjawab tantangan zaman. (elk)

LDNU PCNU Banyuwangi Dikukuhkan, Siapkan Dakwah Digital dan Cetak 100 Da'i Muda

Banyuwangi – Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) PCNU Banyuwangi resmi dikukuhkan di Pondok Pesantren Kubah Hijau, Donosuko, Kecamatan Blimbingsari, Kabupaten Banyuwangi, Ahad (28/6/2026). Pengukuhan tersebut menjadi momentum dimulainya kepengurusan baru yang mengusung semangat transformasi dakwah berbasis digital serta target mencetak 100 da'i muda dalam satu semester.

Ketua LDNU PCNU Banyuwangi, Nurul Anwar, menyampaikan bahwa pengukuhan ini menjadi awal dari pelaksanaan amanah organisasi untuk memperkuat dakwah Ahlussunnah wal Jamaah di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi. Menurutnya, LDNU telah menyiapkan sejumlah program strategis agar para dai mampu menjawab tantangan dakwah di era digital.

"Kami telah menyiapkan berbagai program yang progresif. Perkembangan algoritma media digital menuntut para dai mampu beradaptasi sehingga dakwah NU tetap hadir dan memberikan pencerahan di ruang-ruang digital," ujarnya.

Acara dihadiri jajaran Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Banyuwangi dari unsur Syuriah, Tanfidziyah, dan Sekretariat. Rombongan PCNU dipimpin Katib Syuriah KH Abdul Qosim bersama Sekretaris PCNU Banyuwangi H. Moh. Bisri Musthofa.

Dalam arahannya, H. Moh. Bisri Musthofa meminta pengurus yang baru dikukuhkan segera melaksanakan rapat kerja dengan berpedoman pada amanat Musyawarah Kerja Cabang (Musykercab). Ia juga menargetkan agar dalam satu semester LDNU mampu melahirkan 100 da'i muda yang siap berdakwah di tengah masyarakat, baik melalui mimbar keagamaan maupun media digital.

"Sudah saatnya dakwah memanfaatkan teknologi secara optimal. Dakwah hybrid menjadi kebutuhan agar pesan-pesan keislaman dapat menjangkau masyarakat tradisional maupun masyarakat digital," katanya.

Sementara itu, Wakil Rais Syuriah PCNU Banyuwangi KH Mukhlis Ali, yang mewakili Rais Syuriah, menyampaikan pesan kepemimpinan dengan mengutip hadis Nabi SAW:

 سَيِّدُ الْقَوْمِ خَادِمُهُمْ

"Pemimpin suatu kaum adalah pelayan bagi kaumnya."

Menurutnya, LDNU harus menjadi lembaga yang melayani umat melalui dakwah yang menghadirkan solusi sekaligus menyosialisasikan berbagai program strategis PCNU Banyuwangi, mulai dari penguatan ekonomi umat, LAZISNU, kaderisasi, pendidikan, hingga pelayanan sosial.

Prosesi pengukuhan berlangsung khidmat. Susunan pengurus dibacakan oleh Wakil Ketua PCNU Banyuwangi H. Guntur Al Badri, kemudian dilanjutkan dengan pembaiatan oleh Gus Riza Azizy.

Turut hadir Camat Blimbingsari, jajaran badan otonom NU, di antaranya GP Ansor, Muslimat NU, dan Fatayat NU Kecamatan Blimbingsari, serta Pengasuh Pondok Pesantren Darussholah Gumirih KH Nur Fauzi bersama para kiai dan tokoh masyarakat.

Pengukuhan ini diharapkan menjadi pijakan bagi LDNU PCNU Banyuwangi untuk memperkuat peran dakwah yang adaptif terhadap perkembangan zaman, sekaligus menyiapkan kader-kader da'i muda yang siap mengabdi kepada umat di berbagai ruang kehidupan, termasuk ruang digital.(KAF)

Balap Unik Angkut Gabah Meriahkan Hari Bhayangkara ke-80 di Banyuwangi

BANYUWANGI – Perayaan Hari Bhayangkara ke-80 di Banyuwangi dikemas dengan cara yang berbeda. Polresta Banyuwangi menghadirkan Championship Motocross Manol Gabah Kapolresta Cup II 2026, sebuah ajang balap motor yang memadukan olahraga ekstrem dengan kearifan lokal masyarakat pedesaan.


Kejuaraan yang berlangsung pada 27–28 Juni 2026 di Sirkuit Lebak Djinontro Rejeng, Desa Parangharjo, Kecamatan Songgon, menghadirkan tantangan yang tidak biasa. Para pembalap tidak hanya dituntut menaklukkan lintasan tanah, tetapi juga harus membawa karung gabah di atas sepeda motor hingga mencapai garis finis.

Konsep tersebut terinspirasi dari aktivitas para petani Banyuwangi yang sehari-hari mengangkut hasil panen menggunakan sepeda motor. Tantangan menjaga keseimbangan antara kecepatan, pengendalian kendaraan, dan memastikan karung gabah tetap berada di atas motor menjadi daya tarik utama kejuaraan ini.

Kasat Binmas Polresta Banyuwangi, Kompol Basori Alwi, mewakili Kapolresta Banyuwangi Kombes Pol. Rofiq Ripto Himawan, mengatakan kejuaraan tersebut merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Bhayangkara ke-80 sekaligus upaya mendekatkan institusi Polri dengan masyarakat.

Menurutnya, olahraga otomotif dapat menjadi media yang efektif untuk membangun kebersamaan sekaligus mengangkat potensi budaya lokal agar lebih dikenal masyarakat luas.

"Manol Gabah bukan sekadar perlombaan motocross. Kegiatan ini mengangkat kehidupan masyarakat tani Banyuwangi dan dikemas menjadi tontonan yang menarik sekaligus menghibur," ujarnya.

Selain menjadi hiburan bagi masyarakat, ajang tersebut juga diharapkan menjadi wadah pembinaan atlet otomotif daerah. Melalui kompetisi ini, para crosser muda memiliki kesempatan mengasah kemampuan sekaligus menunjukkan prestasi untuk bersaing pada level yang lebih tinggi.

Basori menambahkan, Polri ingin terus menghadirkan kegiatan positif yang mampu melibatkan berbagai elemen masyarakat. Menurutnya, ruang-ruang kreatif seperti kejuaraan motocross dapat menjadi sarana mempererat hubungan antara aparat kepolisian dengan komunitas, sekaligus mendukung terciptanya situasi keamanan dan ketertiban masyarakat yang kondusif.

Kejuaraan Motocross Manol Gabah Kapolresta Cup II pun menjadi salah satu agenda yang menyita perhatian masyarakat Banyuwangi. Selain menyuguhkan aksi para pembalap di lintasan, konsep balapan yang mengangkat identitas daerah menjadi nilai tambah yang membedakannya dari kejuaraan motocross pada umumnya.

Dengan memadukan olahraga, budaya, dan semangat kebersamaan, Polresta Banyuwangi berharap peringatan Hari Bhayangkara ke-80 tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi juga mampu memberikan manfaat bagi masyarakat, mendukung pembinaan olahraga otomotif, serta memperkenalkan kekayaan budaya Banyuwangi kepada publik yang lebih luas. (*)

SMK Minhajut Thullab Jadi Tuan Rumah FGD Kemandirian Ekonomi Pesantren, Perkuat Sinergi Dunia Pendidikan dan Pemberdayaan Umat

BANYUWANGI – SMK Pondok Pesantren Minhajut Thullab Muncar menjadi tuan rumah pelaksanaan Focus Group Discussion (FGD) dan Sosialisasi Kick Off Tahap II Program Pendampingan Kemandirian Ekonomi Pesantren Berbasis Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) Komoditas Perikanan Tahun 2026, Jumat (26/6/2026).

Kegiatan yang merupakan kolaborasi Bank Indonesia, Universitas Brawijaya, dan Pondok Pesantren Fairul Karim tersebut dihadiri Rais Syuriah PCNU Banyuwangi sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Minhajut Thullab, perwakilan Bank Indonesia, tim Pusat Studi Pesisir dan Kelautan Universitas Brawijaya, unsur OPD, mitra program, serta Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) PCNU Banyuwangi.

Dipilihnya SMK Minhajut Thullab sebagai lokasi kegiatan menjadi bukti bahwa lembaga pendidikan vokasi di lingkungan pesantren memiliki posisi strategis dalam pengembangan ekonomi berbasis potensi lokal. Selain mencetak lulusan yang kompeten, SMK juga diarahkan menjadi ruang tumbuh inovasi dan kewirausahaan yang berpijak pada kebutuhan masyarakat.

Dalam sambutannya, Rais Syuriah PCNU Banyuwangi menyampaikan bahwa pesantren beserta seluruh lembaga pendidikannya harus mampu menjawab tantangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman. Menurut beliau, pendidikan yang ideal adalah pendidikan yang mampu melahirkan generasi berilmu, berakhlak, sekaligus memiliki keterampilan untuk membangun kemandirian ekonomi.

Beliau berharap keberadaan SMK Minhajut Thullab tidak hanya menjadi tempat belajar para santri dan siswa, tetapi juga menjadi pusat pengembangan teknologi tepat guna, pelatihan, serta lahirnya unit-unit usaha produktif yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar.

Sementara itu, Ketua LPNU Banyuwangi, Syafroni, yang hadir bersama Sekretaris LPNU Hamid, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut di lingkungan SMK Minhajut Thullab. Menurutnya, program pendampingan ekonomi pesantren sangat sejalan dengan visi LPNU Banyuwangi dalam membangun ekosistem ekonomi warga Nahdliyin.

Ia menegaskan bahwa LPNU Banyuwangi siap membangun kolaborasi dengan pesantren, dunia pendidikan, perguruan tinggi, dan Bank Indonesia dalam menyukseskan Gerakan Ekonomi Masyarakat Nahdlatul Ulama (GEMA NU). Sinergi tersebut diharapkan mampu memperluas jejaring usaha pesantren sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi warga NU.

Selama kegiatan, peserta memperoleh pemaparan mengenai arah kebijakan program dari Bank Indonesia, perkembangan pendampingan oleh Universitas Brawijaya, presentasi potensi usaha pesantren, hingga diskusi mengenai strategi pengembangan komoditas perikanan sebagai salah satu sektor unggulan Banyuwangi.

Bagi SMK Minhajut Thullab, forum ini menjadi momentum penting untuk memperkuat peran sekolah vokasi pesantren sebagai jembatan antara dunia pendidikan, riset, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Melalui kolaborasi yang terus dibangun, SMK Minhajut Thullab diharapkan mampu melahirkan lulusan yang tidak hanya siap bekerja, tetapi juga mampu menciptakan lapangan pekerjaan dan mengembangkan usaha berbasis potensi daerah serta nilai-nilai kepesantrenan.(HKL)

Gelar Acara di Pendopo Kecamatan Tegalsari, Forum Banyuwangi Sehat Sosialisasikan Isbat Nikah hingga Kesehatan Mental Anak

BANYUWANGI – Forum Banyuwangi Sehat menggelar kegiatan Penguatan Monitoring & Evaluasi Kelembagaan Forum Komunikasi Kecamatan Sehat di Pendopo Kecamatan Tegalsari pada Rabu, 24 Juni 2026. Forum ini diselenggarakan sebagai langkah nyata dalam mewujudkan masyarakat yang sehat secara menyeluruh, mulai dari aspek legalitas hukum keluarga, kesehatan fisik lingkungan, hingga pemenuhan kesehatan psikis anak.

Kegiatan ini mendapat respon positif dan dukungan penuh dari Pemerintah Kecamatan Tegalsari. Camat Tegalsari, Nanang Edy Mursidi, S.IP., dalam tanggapannya menyampaikan apresiasi yang tinggi atas sinergi yang dibangun oleh Forum Banyuwangi Sehat, KUA, dan LKKNU. Ia menegaskan bahwa pihak kecamatan siap mengawal jalannya program-program yang diluncurkan, terutama terkait kemudahan akses administrasi bagi warga.

"Kami sangat mendukung penuh kegiatan sosialisasi ini. Terkait isbat nikah terpadu, kami mengimbau kepada seluruh kepala desa di wilayah Tegalsari untuk aktif mendata warganya. Legalitas hukum pernikahan dan kesehatan keluarga, baik fisik maupun mental, adalah fondasi utama bagi kemajuan masyarakat di Kecamatan Tegalsari," ujar Nanang Edy Mursidi.

Dalam kesempatan yang sama, Dalilatus Sa'adah, Ketua Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) Banyuwangi sekaligus Penyuluh Agama Islam fungsional KUA Gambiran, hadir sebagai narasumber untuk mensosialisasikan program Isbat Nikah Terpadu. Ia mengimbau warga di wilayah Kabupaten Banyuwangi yang pernikahannya belum tercatat secara resmi agar segera mendaftarkan diri melalui pihak desa setempat. Dalilatus menekankan bahwa status "kawin tidak tercatat" di Kartu Keluarga (KK) dapat memicu kendala administrasi bagi anak di masa depan, terutama terkait keabsahan wali nikah secara hukum negara.

Melengkapi pembahasan kesejahteraan keluarga, Sekretaris Forum Banyuwangi Sehat, Dr. Nur Anim Jauhariyah, memberikan pemaparan komprehensif mengenai pentingnya menjaga kesehatan lingkungan. Dr. Anim mengingatkan masyarakat untuk konsisten menjaga kebersihan wilayah sekitar guna mencegah berbagai potensi penyakit.

Lebih lanjut, Dr. Anim juga menyoroti pentingnya menjaga kesehatan mental anak. Menurutnya, kecamatan yang sehat tidak hanya dinilai dari kebersihan fisiknya, tetapi juga dari lingkungan keluarga yang harmonis dan mendukung tumbuh kembang psikologis anak secara positif, sehingga anak-anak dapat tumbuh menjadi generasi yang tangguh.

Acara yang diinisiasi oleh Forum Banyuwangi Sehat ini dihadiri langsung oleh Kepala KUA Tegalsari, M. Hasan. Mayoritas audiens yang hadir didominasi oleh ibu-ibu, yang dinilai memiliki peran sentral sebagai motor penggerak dalam menjaga kebersihan lingkungan, mendampingi kesehatan mental anak, sekaligus memastikan legalitas administrasi keluarga terpenuhi. (dll)

RMI NU Banyuwangi Gelar Sapa Pesantren di PP Al Munawiri Sempu



BANYUWANGI – Pengurus Cabang Rabithah Ma'ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU) Banyuwangi menggelar kegiatan Sapa Pesantren di Pondok Pesantren Al Munawiri, Dusun Mangli, Desa Karangsari, Kecamatan Sempu, Kabupaten Banyuwangi, Senin (22/6/2026) malam. Kegiatan ini menjadi bagian dari program penguatan silaturahmi dan pengabdian masyarakat yang melibatkan pesantren, warga, serta jajaran Nahdlatul Ulama.

Rangkaian kegiatan diawali dengan layanan pengobatan gratis bagi masyarakat sekitar. Selanjutnya, para santri mengikuti lomba memasak yang berlangsung meriah dan penuh semangat. Pada malam hari, kegiatan dilanjutkan dengan seremoni Sapa Pesantren yang dihadiri pengurus NU, tokoh agama, pengasuh pesantren, santri, dan masyarakat.

Mewakili PCNU Banyuwangi, hadir Wakil Ketua PCNU Banyuwangi H. Guntur Albadri. Kehadirannya menjadi bentuk dukungan PCNU terhadap upaya penguatan peran pesantren sebagai pusat pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat.

Ketua PC RMI NU Banyuwangi, Dr. H. Ahmad Munib Syafaat, Lc., M.E.I., menyampaikan bahwa program Sapa Pesantren merupakan sarana mempererat hubungan antar-pesantren sekaligus memperkuat sinergi antara pesantren dan masyarakat dalam berbagai kegiatan kemaslahatan.

Pada kesempatan tersebut, PCNU Banyuwangi menyerahkan bantuan sebanyak tujuh eksemplar Al-Qur'an kepada Pondok Pesantren Al Munawiri. Bantuan tersebut diterima oleh pihak pesantren sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan kegiatan pembelajaran Al-Qur'an dan pendidikan keagamaan di lingkungan pesantren.

Kegiatan yang berlangsung dalam suasana penuh keakraban tersebut juga menjadi media untuk mengenalkan berbagai program kemasyarakatan yang dapat dikembangkan secara bersama antara pesantren dan warga sekitar.

Melalui kegiatan Sapa Pesantren, RMI NU Banyuwangi berharap terjalin kolaborasi yang semakin kuat antara pesantren, masyarakat, dan jam'iyah Nahdlatul Ulama sehingga pesantren dapat terus hadir memberikan manfaat nyata bagi kehidupan sosial, keagamaan, dan kemasyarakatan.(HKL)

LKKNU Banyuwangi Bangun Sinergi dengan PKK Genteng, Perluas Edukasi Program Isbat Nikah Terpadu

BANYUWANGI – Upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya legalitas perkawinan terus diperkuat melalui kolaborasi lintas lembaga. Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) Banyuwangi menjalin sinergi dengan Tim Penggerak PKK dan Dharma Wanita Kecamatan Genteng dalam kegiatan sosialisasi serta koordinasi Program Isbat Nikah Terpadu yang berlangsung di Aula Kecamatan Genteng, Selasa (23/6/2026).

Kegiatan tersebut dipimpin Ketua LKKNU Banyuwangi, Dalilatus Saadah, serta diikuti Ketua TP PKK Kecamatan Genteng bersama jajaran pengurus PKK dan Dharma Wanita. Pertemuan berlangsung dalam suasana dialogis dengan semangat memperkuat kerja sama untuk memperluas akses pelayanan hukum bagi masyarakat.

Dalam pemaparannya, Dalilatus Saadah menjelaskan bahwa Program Isbat Nikah Terpadu merupakan solusi bagi pasangan suami istri yang telah melangsungkan pernikahan menurut syariat Islam, namun belum memiliki pengakuan hukum melalui pencatatan negara. Program ini memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk memperoleh penetapan isbat nikah sekaligus melengkapi dokumen administrasi kependudukan secara terpadu.

Ia menambahkan, keberhasilan program tersebut tidak dapat dilepaskan dari sinergi berbagai pihak. LKKNU Banyuwangi bekerja sama dengan Pengadilan Agama, Kantor Urusan Agama (KUA), Pemerintah Kecamatan Genteng, serta Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dispendukcapil) guna menghadirkan layanan yang lebih mudah, cepat, dan terintegrasi bagi masyarakat.

Menurutnya, peran organisasi perempuan sangat strategis dalam menyampaikan informasi kepada keluarga hingga tingkat desa. Karena itu, keterlibatan PKK dan Dharma Wanita diharapkan mampu memperluas jangkauan sosialisasi sehingga semakin banyak pasangan yang memperoleh kepastian hukum atas perkawinannya.

Ketua TP PKK Kecamatan Genteng Ny. Vita Dwi Susanti, S.Si., M.M. menyampaikan apresiasi atas inisiatif LKKNU Banyuwangi dalam menghadirkan program yang menyentuh kebutuhan masyarakat secara langsung. Pihaknya menyatakan kesiapan untuk menjadi mitra dalam mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya pencatatan perkawinan sebagai bagian dari perlindungan hukum terhadap keluarga.

"Program ini memberikan manfaat besar karena tidak hanya menghadirkan kepastian hukum bagi pasangan suami istri, tetapi juga mendukung tertib administrasi kependudukan. Kami siap bersinergi agar informasi mengenai Isbat Nikah Terpadu dapat menjangkau masyarakat hingga tingkat desa," ungkapnya.

Melalui kolaborasi antara LKKNU Banyuwangi, pemerintah, serta organisasi kemasyarakatan, Program Isbat Nikah Terpadu diharapkan semakin efektif menjangkau keluarga yang belum memiliki dokumen perkawinan yang sah secara hukum. Sinergi tersebut menjadi langkah nyata dalam menghadirkan perlindungan hukum, ketertiban administrasi, serta penguatan ketahanan keluarga di Kabupaten Banyuwangi. (dll)

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger