Pages

Kabar Duka, Khusnan Abadi Mantan Anggota DPRD Banyuwangi Wafat

 Banyuwangi (Warta Blambangan) Duka menyelimuti Banyuwangi. Khusnan Abadi, tokoh yang dikenal luas sebagai mantan anggota DPRD Banyuwangi dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sekaligus mantan wartawan Jawa Pos Radar Banyuwangi, meninggal dunia pada Jumat (12/6/2026) petang.

Kabar wafatnya Khusnan dengan cepat menyebar melalui berbagai grup WhatsApp dan media sosial. Ucapan belasungkawa pun berdatangan dari berbagai kalangan, mulai dari tokoh politik, aktivis, ulama, hingga para jurnalis yang pernah bekerja dan berjuang bersama almarhum.


"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Telah berpulang ke rahmatullah Bapak Khusnan Abadi, mantan anggota DPRD Banyuwangi, Sekretaris DPC PKB Banyuwangi, sekaligus mantan wartawan Radar Banyuwangi," demikian salah satu pesan yang beredar luas di tengah masyarakat.

Khusnan bukanlah sosok asing di Banyuwangi. Namanya dikenal dalam berbagai bidang pengabdian. Semasa muda, ia aktif dalam organisasi kemahasiswaan dan pernah memimpin PMII Cabang Banyuwangi. Kiprahnya berlanjut di dunia jurnalistik sebelum akhirnya memilih jalan pengabdian melalui dunia politik. Ia juga mengemban amanah sebagai Ketua LAZISNU MWCNU Genteng.

Sebagai jurnalis, Khusnan dikenal dekat dengan berbagai persoalan masyarakat. Pengalamannya di lapangan membentuk karakter kepemimpinan yang peka terhadap kebutuhan rakyat. Bekal itulah yang kemudian dibawanya saat dipercaya menjadi wakil rakyat di DPRD Banyuwangi.

Selama beberapa periode duduk di kursi legislatif, Khusnan menjadi salah satu kader senior PKB yang cukup berpengaruh. Ia pernah menjabat Ketua Fraksi PKB DPRD Banyuwangi dan mengemban tugas sebagai Sekretaris DPC PKB Banyuwangi. Di parlemen, ia banyak terlibat dalam pembahasan kebijakan yang berkaitan dengan pendidikan, kesehatan, kesejahteraan sosial, serta pembangunan desa.

Berbagai isu kerakyatan menjadi perhatian almarhum. Salah satunya adalah perjuangan agar perangkat desa dan anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) memperoleh perlindungan melalui BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan. Ia juga dikenal aktif menyuarakan berbagai aspirasi masyarakat dalam forum-forum resmi DPRD.

Peran dan pengaruhnya di internal PKB terlihat ketika namanya masuk dalam bursa bakal calon bupati yang diusulkan partai menjelang Pilkada Banyuwangi 2024. Meski pada Pemilu Legislatif 2024 ia tidak kembali terpilih menjadi anggota DPRD, Khusnan tetap menjadi salah satu tokoh yang diperhitungkan dalam dinamika politik daerah.

Namun lebih dari jabatan dan posisi politik yang pernah diembannya, banyak orang mengenang Khusnan sebagai pribadi yang hangat, sederhana, dan mudah menjalin persahabatan. Ia dikenal terbuka terhadap berbagai kalangan dan tetap menjaga hubungan baik dengan sahabat maupun lawan politiknya.

Kepergian Khusnan Abadi meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, kolega, dan masyarakat Banyuwangi. Sosok yang mengabdikan hidupnya di dunia organisasi, jurnalistik, dan politik itu kini telah berpulang, meninggalkan jejak pengabdian yang akan terus dikenang.

Selamat jalan, Khusnan Abadi. Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah dan pengabdianmu serta menempatkanmu di tempat terbaik di sisi-Nya.

Diklatama IPPNU Banyuwangi: Membangun Kader Aktif, Produktif, dan Peduli Sosial

Banyuwangi (Warta Blambangan)  Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Banyuwangi menggelar Pendidikan dan Pelatihan Pertama (Diklatama) pada Jum’at, 12 Juni hingga Ahad, 14 Juni 2026, bertempat di Lapangan Karangdoro, Kecamatan Tegalsari, Banyuwangi. Kegiatan ini menjadi bagian dari penguatan kaderisasi pelajar putri Nahdlatul Ulama agar mampu tumbuh sebagai kader yang aktif, produktif, dan memiliki kepedulian sosial.


Diklatama yang diikuti kader muda IPPNU dari berbagai wilayah tersebut dirancang untuk memperkuat kualitas sumber daya kader melalui tiga orientasi utama, yakni ideologisasi kader muda, pembentukan mental aktif dan produktif, serta internalisasi nilai-nilai sosial dalam organisasi. Ketiga aspek tersebut dipandang penting sebagai fondasi dalam membangun karakter kader yang memiliki kesadaran organisasi dan tanggung jawab sosial.

Pembukaan kegiatan berlangsung khidmat dengan kehadiran Sekretaris PCNU Banyuwangi, H. Bisri Musthofa, M.Pd., sebagai Inspektur Upacara (IRUP). Dalam amanatnya, ia menegaskan bahwa keberlangsungan organisasi besar seperti Nahdlatul Ulama sangat ditentukan oleh kualitas kader mudanya.

Menurutnya, kader IPPNU harus memiliki kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan pijakan nilai-nilai ke-NU-an dan tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah An-Nahdliyah.

“IPPNU harus menjadi ruang tumbuh bagi kader muda yang aktif dalam organisasi, produktif dalam berkarya, dan memiliki kepedulian terhadap persoalan sosial di lingkungannya. Organisasi membutuhkan kader yang siap belajar, bergerak, dan mengabdi,” ungkapnya.

Ia juga menambahkan bahwa kaderisasi tidak hanya berkaitan dengan penguatan wawasan organisasi, tetapi juga pembentukan mental kepemimpinan, kedisiplinan, tanggung jawab, serta kemampuan membangun jejaring sosial yang kuat di tengah masyarakat.

Selama tiga hari pelaksanaan, peserta mengikuti berbagai materi kepemimpinan, penguatan ideologi ke-NU-an, pengembangan karakter kader, serta kegiatan kebersamaan yang diarahkan untuk membangun solidaritas dan semangat kolektif antaranggota.

Melalui Diklatama ini, IPPNU Banyuwangi diharapkan mampu melahirkan generasi kader pelajar putri NU yang tangguh, memiliki integritas, serta siap menjadi pelopor gerakan sosial dan keorganisasian di masa mendatang.

STAI Al Utsmani dan UIMSYA Perkuat Kolaborasi Pengembangan Halal Center Melalui Kegiatan Benchmarking

BANYUWANGI, (Warta Blambangan) Komitmen perguruan tinggi dalam mendukung penguatan ekosistem halal nasional kembali ditunjukkan melalui kegiatan benchmarking yang dilaksanakan Halal Center STAI Al Utsmani Bondowoso ke Halal Center Universitas KH. Mukhtar Syafaat (UIMSYA) Blokagung Banyuwangi. Kegiatan tersebut menjadi wadah pertukaran pengalaman, penguatan kapasitas kelembagaan, sekaligus membangun sinergi dalam mendukung percepatan implementasi Jaminan Produk Halal (JPH) di Indonesia.

Kunjungan diawali dengan penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) antara kedua lembaga sebagai landasan kerja sama dalam pengembangan program halal berbasis perguruan tinggi. Penandatanganan dilakukan oleh Ketua Halal Center UIMSYA, Dr. Nur Anim Jauhariyah, S.Pd., M.Si., dan Ketua Halal Center STAI Al Utsmani Bondowoso, Dr. Haqiqotus Sa’adah, M.E.


Kesepakatan tersebut mencakup berbagai bidang strategis, antara lain penguatan kelembagaan Halal Center dan LP3H, peningkatan kompetensi sumber daya manusia halal, pelaksanaan pendidikan dan pelatihan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, hingga pendampingan sertifikasi halal bagi pelaku usaha.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Ketua STAI Al Utsmani Bondowoso, Dawimatus Sholihah, S.Pd., M.E., yang memberikan dukungan terhadap pengembangan Halal Center sebagai salah satu instrumen penting dalam penguatan ekonomi syariah dan industri halal di lingkungan perguruan tinggi.

Sementara itu, UIMSYA menerima kunjungan tersebut dengan melibatkan jajaran pimpinan universitas, mulai dari Wakil Rektor, Direktur Pascasarjana, hingga Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam. Kehadiran para pimpinan universitas menunjukkan keseriusan UIMSYA dalam menjadikan pengembangan halal sebagai bagian dari kontribusi nyata perguruan tinggi kepada masyarakat.

Dalam sesi diskusi dan pelatihan, peserta memperoleh pemahaman mengenai tata kelola Halal Center yang efektif dan berkelanjutan. Berbagai materi disampaikan, mulai dari strategi pengembangan layanan halal, manajemen administrasi sertifikasi halal, penguatan jejaring kemitraan, hingga peningkatan kualitas pendampingan kepada pelaku usaha yang sedang mengajukan sertifikasi halal.

Penguatan kelembagaan LP3H menjadi salah satu topik utama yang mendapat perhatian peserta. Sebagai mitra pemerintah dalam pelaksanaan program sertifikasi halal, LP3H memiliki peran penting dalam mendampingi pelaku usaha memenuhi persyaratan yang ditetapkan. Oleh karena itu, tata kelola lembaga yang profesional dan didukung sumber daya manusia yang kompeten menjadi kebutuhan yang tidak dapat diabaikan.

Peserta juga mendapatkan penjelasan mengenai mekanisme rekrutmen Pendamping Proses Produk Halal (P3H) melalui sistem Learning Management System (LMS), mulai dari tahapan pendaftaran, pelatihan, uji kompetensi, hingga proses sertifikasi. Materi tersebut diharapkan dapat menjadi referensi bagi STAI Al Utsmani dalam menyiapkan kader-kader pendamping halal yang siap mendukung program nasional sertifikasi halal.

Selain aspek kelembagaan, kegiatan benchmarking juga membahas aspek teknis pendampingan sertifikasi halal. Para peserta mempelajari proses verifikasi dan validasi dokumen, pemeriksaan bahan baku dan proses produksi, penginputan data ke dalam sistem, serta langkah-langkah pendampingan yang harus dilakukan agar pengajuan sertifikasi halal dapat berjalan sesuai regulasi yang berlaku.

Ketua Halal Center UIMSYA, Dr. Nur Anim Jauhariyah, menegaskan bahwa kolaborasi antarperguruan tinggi merupakan salah satu kunci dalam memperkuat ekosistem halal nasional. Menurutnya, perguruan tinggi memiliki posisi strategis dalam mencetak tenaga pendamping halal yang kompeten sekaligus menjadi pusat edukasi dan pemberdayaan masyarakat di bidang halal.

Sementara itu, Ketua Halal Center STAI Al Utsmani, Dr. Haqiqotus Sa’adah, menyampaikan apresiasi atas sambutan dan berbagai pengalaman yang dibagikan oleh UIMSYA. Ia berharap hasil benchmarking tersebut dapat menjadi inspirasi sekaligus referensi dalam memperkuat tata kelola dan layanan Halal Center STAI Al Utsmani ke depan.

Melalui kegiatan ini, kedua institusi sepakat untuk terus membangun kolaborasi yang produktif dalam bidang pendidikan, penelitian, pengabdian masyarakat, serta pengembangan industri halal. Kerja sama tersebut diharapkan mampu memperluas manfaat program sertifikasi halal, meningkatkan kualitas pendamping halal, serta mendukung terwujudnya ekosistem halal Indonesia yang semakin kuat, mandiri, dan berdaya saing. (syaf)

Wisudawati Unej AS. Zulfa: Antara Cosplay, Naruto dan Da vinci


JEMBER – Gaya wisuda unik ditunjukkan AS. Zulfa Nurkholishoh, S.Sos. Wisudawati Universitas Jember (UNEJ) itu tampil bertemakan tokoh anime Akatsuki dari Naruto dan kucing difabel kesayangannya bernama Da Vinci saat sesi foto usai prosesi wisuda.

Unej menggelar Sidang Senat Terbuka Wisuda Periode X Tahun Ajaran 2025-2026 di Auditorium, Sabtu (6/6/2026). Sebanyak 800 lulusan jenjang pascasarjana, reguler, terapan, dan diploma dikukuhkan.

Rektor Dr. Ir. Iwan Taruna, M. Eng, IPM, ASEAN, Eng dalam sambutannya mengapresiasi para mitra kampus, dosen, tenaga kependidikan, hingga orang tua yang mendukung perjuangan dan pengorbanan putra-putrinya mulai awal kuliah saat pandemi hingga di wisuda hari ini. Beliau juga berpesan agar lulusan menjaga integritas di era kecerdasan buatan dan memiliki jiwa wirausaha untuk buka lapangan kerja dengan tantangan geopolitik global ini. 


“Terima kasih mitra kampus yang memberi beasiswa dan dukungan lainnya. Apresiasi ke dosen, tenaga kependidikan, hingga orang tua yang dengan cinta mengiringi kader bangsa hingga wisuda hari ini,” ujarnya.

Unej juga mengumumkan lulusan dengan IPK sempurna 4,00 cum laude, peraih medali emas kompetisi teknik di Singapura, anggota paduan suara, hingga penerima beasiswa Bidikmisi.

Usai prosesi 07.45-11.17 WIB, wisudawan berfoto bersama keluarga, teman sejurusan, dan fakultas. Selain fotografer resmi panitia, sejumlah lulusan menyewa fotografer sendiri. 

Salah satunya Zulfa. Putri sulung pasangan Agus Wahyu Nuryadi dan Yeti Chotimah, S.Pd., M.Pd--alumni Biologi FKIP Unej angkatan 2001.

Di depan gedung wisuda, bude dan bibi dari pihak ibunya yang datang dari Banyuwangi ikut mengabadikan momen haru tersebut.

“Saya bahagia sekaligus sedih. Air mata menetes saat doa akhir prosesi. Ingat Emak Sri Rahayu yang sedianya hadir. Beliau sudah pesan kamar di Perum Semeru ke saudara dosen hukum H. Multazam, tapi dipanggil Allah menjelang wukuf Arafah 25 Mei lalu. Beliau yang merawat Zulfa sejak lahir, berat rendah hingga harus di inkubator,” kenang Yeti sambil sesenggukan.


Zulfa berfoto bersama orang tua dan dua adiknya: IZ. Fathma Agmadina, mahasiswi Bioteknologi Universitas Malang dan Istiqlal Syukri Ahmad yang baru lulus SMP Bustanul Makmur Genteng. Secara kebetulan, Hari wisuda Zulfa bertepatan dengan ulang tahun ke-16 adik bungsunya.

Yang menarik, di lapangan depan Gedung Pascasarjana MIPA dan FISIP, Zulfa tetap mengenakan toga lengkap lalu menambah aksesoris cosplay Jepang. Tema itu sesuai skripsinya, Ia banyak melakukan wawancara pada komunitas, pelaku, produsen hingga budayawan Banyuwangi. 

Boneka Naruto yang menemaninya tidur sejak TK dan kucing difabel Da Vinci yang dirawatnya 1,5 tahun terakhir diikutsertakan dalam momen bahagia tersebut. "Kala itu sedang di cafe kawasan TMPahlawan. selatan Kedai Makmoer.. lihat ada kucing usia sekitar 2-3 bulan tak bisa jalan. Sepertinya habis jatuh dari tempat tinggi atau ditabrak. Kasihan, lalu saya rawat mulai akupuntur hingga dokter spesialis. Saat periksa ke dokter terakhir di petshop Kertosari, dokter tak mau dibayar, karena salut atas kepedulian merawat da Vinci! " tutur Zulfa ketika menceritakan kondisi Da Vinci dan aksesoris yang dikenakan juga telah dibantu Bibi yang usaha konveksi Tiga Jaya Star Kali Lo. 

Kucing Da Vinci disebut menemani Zulfa mengerjakan skripsi yang dibimbing Prof. Dr. H. Agus Tri Hartono, MA, Oh. D, Rektor Universitas Cordova Tegalsari, Banyuwangi. (Bung Aguk/Yeti Ch/JN-SC)



LKKNU Banyuwangi Jajaki Kolaborasi dengan Dinsos PPKB untuk Penguatan Ketahanan Keluarga

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) Kabupaten Banyuwangi terus memperluas kemitraan dengan berbagai pihak dalam rangka memperkuat program kemaslahatan keluarga. Salah satu langkah yang dilakukan adalah melalui audiensi dan silaturahim dengan Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (Dinsos PPKB) Kabupaten Banyuwangi, Senin (8/6/2026).

Kegiatan yang berlangsung di kantor Dinsos PPKB tersebut menjadi forum koordinasi awal untuk membangun kerja sama dalam bidang ketahanan keluarga, perlindungan sosial, pemberdayaan perempuan, serta peningkatan kualitas kehidupan masyarakat.

Delegasi LKKNU Banyuwangi yang dipimpin Ketua LKKNU, Dalilatus Saadah, diterima oleh Kepala Bidang Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Luqman Al Hakim serta Kepala Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial Agus Rahmanto.

Dalam pertemuan tersebut, Dalilatus Saadah menjelaskan bahwa penguatan keluarga menjadi salah satu fokus utama program kerja LKKNU. Menurutnya, keluarga yang kokoh dan berkualitas merupakan pondasi penting dalam membangun masyarakat yang sehat, sejahtera, dan berdaya saing.

Karena itu, pihaknya memandang perlu menjalin sinergi dengan pemerintah daerah agar berbagai program pemberdayaan keluarga dapat dilaksanakan secara lebih terintegrasi dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

“Ketahanan keluarga tidak dapat dibangun oleh satu pihak saja. Dibutuhkan kolaborasi berbagai elemen, termasuk pemerintah dan organisasi kemasyarakatan, agar upaya pendampingan keluarga dapat berjalan secara berkelanjutan,” ujarnya.

Audiensi tersebut juga membahas sejumlah isu yang menjadi perhatian bersama, mulai dari upaya menekan angka kematian ibu dan anak, peningkatan literasi kesehatan keluarga, penguatan pendidikan pranikah, hingga pencegahan perkawinan usia anak.

LKKNU menilai bahwa pembinaan terhadap calon pengantin memiliki peran penting dalam menciptakan keluarga yang harmonis dan berkualitas. Melalui pendampingan yang tepat, pasangan yang akan memasuki kehidupan rumah tangga diharapkan memiliki kesiapan yang memadai dari aspek kesehatan, psikologis, sosial, maupun spiritual.

Pihak Dinsos PPKB menyambut positif berbagai gagasan yang disampaikan LKKNU. Menurut mereka, organisasi kemasyarakatan memiliki posisi strategis dalam membantu pemerintah menjangkau masyarakat hingga tingkat akar rumput, terutama dalam program edukasi dan pendampingan keluarga.

Dalam diskusi tersebut juga muncul peluang kerja sama dalam program pendampingan calon pengantin yang dapat dilaksanakan secara bertahap di seluruh kecamatan di Kabupaten Banyuwangi. Program tersebut diharapkan mampu menjadi instrumen pencegahan berbagai persoalan keluarga sekaligus memperkuat kualitas sumber daya manusia sejak awal pembentukan rumah tangga.

Plt. Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Kabupaten Banyuwangi, Setyo Puguh Widodo, memberikan apresiasi atas inisiatif yang dilakukan LKKNU Banyuwangi. Ia menegaskan bahwa pihaknya terbuka terhadap berbagai bentuk kolaborasi yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan dan ketahanan keluarga di tengah masyarakat.

“Kami menyambut baik silaturahim dan komunikasi yang dibangun LKKNU Banyuwangi. Pada prinsipnya, kami siap bekerja sama dalam berbagai program yang mendukung penguatan keluarga dan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.


Audiensi tersebut turut dihadiri Dewan Pakar LKKNU Banyuwangi Syafaat, Koordinator Bidang Pemberdayaan dan Ketahanan Keluarga Imam Muklis, Wakil Ketua LKKNU Syaiful Karim, serta sejumlah pengurus lainnya.

Melalui pertemuan ini, LKKNU Banyuwangi dan Dinsos PPKB berharap dapat membangun pola kerja sama yang berkelanjutan dalam menghadirkan program-program pemberdayaan keluarga yang adaptif terhadap kebutuhan masyarakat. Sinergi tersebut diharapkan mampu menjadi kontribusi nyata dalam mewujudkan keluarga yang tangguh, sejahtera, dan berdaya di Kabupaten Banyuwangi.

LKKNU Banyuwangi Perkuat Sinergi dengan Dispendukcapil untuk Mendukung Penyelesaian Administrasi Kependudukan Warga

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) PCNU Banyuwangi masa khidmat 2026–2031 menjalin sinergi dengan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dispendukcapil) Kabupaten Banyuwangi melalui audiensi dan silaturahim yang berlangsung di Kantor Dispendukcapil Banyuwangi, Senin (8/6/2026).

Rombongan LKKNU Banyuwangi diterima langsung oleh Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dispendukcapil Banyuwangi, H. Saifudin, S.H., M.M. Pertemuan tersebut menjadi langkah awal dalam membangun kolaborasi untuk membantu masyarakat, khususnya dalam penyelesaian berbagai persoalan administrasi kependudukan yang masih banyak ditemukan di lapangan.

Dalam sambutannya, H. Saifudin menyampaikan apresiasi atas kunjungan yang dilakukan jajaran LKKNU Banyuwangi. Menurutnya, kemitraan antara pemerintah daerah dan organisasi kemasyarakatan memiliki peran strategis dalam memperluas jangkauan pelayanan publik kepada masyarakat.

“Kami menyampaikan terima kasih atas silaturahim yang dilakukan LKKNU Banyuwangi. Semoga pertemuan ini menjadi awal kerja sama yang baik dalam membantu masyarakat, khususnya terkait layanan administrasi kependudukan,” ujarnya.

Ketua LKKNU Banyuwangi, Dalilatus Saadah, menjelaskan bahwa sejumlah program yang akan dijalankan lembaganya memiliki keterkaitan erat dengan pelayanan administrasi kependudukan. Dalam berbagai kegiatan pendampingan masyarakat, pihaknya masih menemukan sejumlah kendala, terutama terkait ketidaksesuaian data identitas pada dokumen kependudukan.

Menurutnya, perbedaan data antara akta kelahiran dan dokumen kependudukan lainnya kerap menimbulkan hambatan bagi masyarakat dalam mengakses berbagai layanan publik. Oleh karena itu, LKKNU memandang perlu membangun koordinasi yang lebih intensif dengan Dispendukcapil agar masyarakat memperoleh solusi yang tepat dan sesuai ketentuan.

“Permasalahan administrasi kependudukan masih menjadi salah satu persoalan yang sering ditemui di tengah masyarakat. Melalui sinergi ini, kami berharap dapat membantu warga memperoleh pendampingan dan penyelesaian yang lebih cepat,” kata Dalilatus Saadah.

Sementara itu, Koordinator Bidang Pemberdayaan dan Ketahanan Keluarga LKKNU Banyuwangi, H. Imam Muklis, S.Ag., M.H.I., yang juga menjabat sebagai Kepala KUA Kecamatan Wongsorejo, mengungkapkan bahwa persoalan administrasi kependudukan kerap muncul dalam proses pencatatan pernikahan.

Ia menjelaskan, ketidaksesuaian data antara akta kelahiran, kartu keluarga, kartu tanda penduduk, maupun dokumen administrasi lainnya sering menjadi kendala bagi calon pengantin dalam memenuhi persyaratan administrasi.

“Beberapa kasus yang kami temukan terjadi saat calon pengantin akan melangsungkan pernikahan. Data yang tercantum dalam dokumen kependudukan tidak selalu sesuai dengan kondisi yang sebenarnya. Situasi ini memerlukan edukasi dan pendampingan agar masyarakat dapat menyelesaikan persoalan tersebut sesuai prosedur yang berlaku,” jelasnya.

Menanggapi hal tersebut, H. Saifudin menegaskan bahwa sebagian besar persoalan administrasi kependudukan sebenarnya dapat diselesaikan melalui mekanisme pelayanan yang tersedia di Dispendukcapil. Karena itu, ia berharap LKKNU dapat berperan sebagai mitra strategis dalam memberikan informasi sekaligus pendampingan kepada masyarakat.

Menurutnya, kolaborasi dapat diwujudkan melalui program pelayanan jemput bola maupun pendampingan administrasi bagi warga yang mengalami kesulitan dalam pengurusan dokumen kependudukan.

“LKKNU dapat menjadi mitra strategis dalam menjangkau masyarakat yang selama ini belum terlayani secara optimal. Kami siap berkolaborasi agar berbagai persoalan administrasi kependudukan dapat diselesaikan secara lebih cepat, tepat, dan sesuai ketentuan,” tegasnya.

Audiensi tersebut turut dihadiri Wakil Ketua LKKNU Banyuwangi H. Saiful Karim, S.Ag., M.Pd.I., Sekretaris LKKNU Banyuwangi Dr. Nur Anim Jauhariyah, serta sejumlah pengurus lainnya.

Dalam waktu dekat, LKKNU Banyuwangi berencana melaksanakan berbagai program pemberdayaan masyarakat yang salah satu fokus utamanya adalah pendampingan penyelesaian persoalan administrasi kependudukan, khususnya bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan akses informasi maupun kendala dalam mengurus dokumen secara mandiri.

Melalui kolaborasi antara Dispendukcapil dan LKKNU Banyuwangi, diharapkan berbagai persoalan administrasi kependudukan di Kabupaten Banyuwangi dapat diselesaikan secara bertahap dan berkelanjutan. Sinergi tersebut sekaligus menjadi wujud komitmen bersama dalam menghadirkan pelayanan yang lebih mudah, inklusif, dan bermanfaat bagi masyarakat. (dll)

H. Nanang Mustain, S.Ag., M.M. Terpilih sebagai Ketua Tanfidziyah MWC NU Kecamatan Kalipuro

Banyuwangi (Warta Blambangan) Konferensi Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Kalipuro berlangsung khidmat, dinamis, dan penuh semangat ukhuwah Islamiyah. Forum permusyawaratan tertinggi warga Nahdlatul Ulama di tingkat kecamatan tersebut akhirnya menetapkan Ustadz Abdul Ghani sebagai Rais Syuriah dan Nanang Musta’in sebagai Ketua Tanfidziyah MWCNU Kalipuro masa khidmat 2026–2031.


Konferensi yang diselenggarakan pada Sabtu (6/6/2026) di Pondok Pesantren Nurul Khoiroh, Dusun Pekarangan, Desa Kelir, Kecamatan Kalipuro, menjadi momentum penting bagi warga Nahdliyin dalam memperkuat konsolidasi jam’iyah sekaligus melanjutkan estafet kepemimpinan organisasi. Kegiatan tersebut diikuti sekitar 200 peserta yang terdiri dari utusan ranting, badan otonom, lembaga, serta para tokoh NU se-Kecamatan Kalipuro.

Dengan mengusung semangat musyawarah dan nilai-nilai ahlussunnah wal jamaah, seluruh rangkaian sidang konferensi berlangsung tertib dan penuh kekeluargaan. Sebanyak 30 ranting NU hadir dalam forum, meskipun satu ranting belum dapat mengikuti proses pemilihan karena belum melaksanakan musyawarah ranting.

Pada tahapan pemilihan Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) untuk menentukan Rais Syuriah, forum berhasil menjaring 20 nama tokoh yang memperoleh dukungan peserta. Setelah melalui proses tabulasi dan penyaringan, mengerucut lima nama dengan perolehan dukungan tertinggi, yakni Abdul Ghani, Agus Idrus, Gus Nardho, Hariri, dan KH Abdul Majid.

Kelima tokoh tersebut kemudian bermusyawarah dalam forum AHWA. Dengan mengedepankan kebijaksanaan dan semangat mencari kemaslahatan bersama, forum sepakat mempercayakan amanah Rais Syuriah MWCNU Kalipuro kepada Ustadz Abdul Ghani.

Sementara itu, proses pemilihan Ketua Tanfidziyah berlangsung tidak kalah menarik. Dalam sidang pleno pembahasan tata tertib konferensi, peserta menyepakati bahwa bakal calon Ketua Tanfidziyah harus memperoleh dukungan minimal 15 suara agar dapat ditetapkan sebagai calon.

Hasil pemungutan suara menunjukkan Nanang Musta’in memperoleh 18 suara, sedangkan Nanang Rojik memperoleh 11 suara. Dengan hanya satu kandidat yang memenuhi ambang batas dukungan, Nanang Musta’in kemudian ditetapkan sebagai Ketua Tanfidziyah MWCNU Kalipuro secara aklamasi.

Pimpinan sidang konferensi, H. Guntur Al Badri yang mewakili PCNU Banyuwangi, menyampaikan apresiasi atas kedewasaan seluruh peserta dalam mengikuti proses demokrasi organisasi. Menurutnya, perbedaan pilihan yang muncul selama konferensi merupakan bagian dari dinamika yang sehat dalam tubuh Nahdlatul Ulama.

“Proses yang demokratis ini merupakan cerminan kedewasaan berorganisasi di dalam wadah Nahdlatul Ulama. Perbedaan pandangan dapat dikelola dengan musyawarah sehingga melahirkan keputusan yang diterima bersama,” ujarnya.

Sebelumnya, Wakil Rais Syuriah PCNU Banyuwangi, H. Nasir Basrawi, dalam arahannya menekankan pentingnya kaderisasi sebagai ruh keberlangsungan organisasi. Ia mengingatkan bahwa tantangan yang dihadapi NU pada masa mendatang semakin kompleks sehingga membutuhkan kader-kader yang memiliki keteguhan dalam menjaga tradisi sekaligus kecakapan dalam menjawab perkembangan zaman.

“Kaderisasi harus terus dilakukan. Tantangan NU ke depan tidak sederhana dalam merawat tradisi sekaligus mengukir peradaban sesuai perkembangan zaman,” pesannya.

Ketua PCNU Banyuwangi, , yang hadir secara langsung dalam konferensi tersebut, menyampaikan harapan agar kepengurusan baru mampu menghadirkan energi baru bagi kemajuan organisasi. Menurutnya, Kalipuro memiliki potensi besar yang perlu dikelola secara terarah untuk kemanfaatan umat dan kemajuan jam’iyah.

“MWCNU Kalipuro memiliki potensi besar. Tinggal bagaimana seluruh stakeholder NU bergerak cepat, menyusun langkah strategis, dan bersinergi dalam menjalankan misi organisasi serta program-program yang memberi manfaat nyata bagi umat,” tegasnya.

Konferensi MWCNU Kalipuro tahun 2026 ini tidak sekadar menjadi agenda pergantian kepemimpinan, melainkan juga menjadi ikhtiar bersama dalam meneguhkan khidmah Nahdlatul Ulama di tengah masyarakat. Duet kepemimpinan Abdul Ghani dan Nanang Musta’in diharapkan mampu memperkuat konsolidasi organisasi, memperluas kaderisasi, serta menghadirkan program-program keagamaan, sosial, pendidikan, dan pemberdayaan umat yang semakin dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Semangat musyawarah yang mewarnai seluruh rangkaian konferensi menjadi bukti bahwa tradisi NU tetap terjaga dengan baik; berkompetisi dalam kebaikan, bermusyawarah dengan hikmah, dan kembali bersatu dalam satu barisan demi terwujudnya kemaslahatan umat, kejayaan jam’iyah, serta keberkahan bagi bangsa dan negara. (hkl)

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger