*Ngelukat*
Saya tidak sedang ingin menulis tentang budaya. Tapi setiap kali kata “ngelukat” muncul, saya teringat air. Dan air adalah hal paling jujur di dunia ini. Di kalangan masyarakat Osing Banyuwangi, ngelukat berarti menyucikan diri. Konon berasal dari ajaran Hindu. Tapi saya tidak tertarik dari mana asalnya. Saya lebih tertarik pada bagaimana sebuah tradisi bisa tetap hidup meski tak ada yang benar-benar mengerti maknanya secara utuh.
Saya pernah diajak ngelukat. Diajak begitu saja. Tidak ada upacara. Tidak ada bendera. Tidak ada juru foto. Hanya saya, tubuh saya, dan seember air pancuran pegunungan yang dinginnya terasa seperti sisa kutukan dari masa lalu. Saya tidak tahu apakah air itu suci, tapi saya percaya air tidak pernah punya niat buruk. Saya diam, lalu menyiramkan air ke kepala. Seperti orang yang ingin memaafkan diri sendiri, padahal tahu tidak semua bisa dimaafkan.
Ngelukat, di Banyuwangi, katanya bagian dari warisan budaya Osing. Tapi Banyuwangi itu sendiri adalah perpaduan yang terlalu jujur antara nuansa Islam, Hindu, dan entah apa lagi. Di satu sisi orang membaca shalawat dalam irama Gembrung yang menggetarkan, di sisi lain ada yang duduk di bawah pohon tua, membisikkan doa dalam bahasa Osing atau jawa. Semuanya hidup bersama. Tidak bertengkar. Tidak merasa paling benar. Kadang saya iri pada ketenteraman seperti itu.
Dalam dunia yang begitu ingin semua dijelaskan, ngelukat adalah pengecualian. Ia tidak butuh kata. Tidak butuh dalil. Bahkan tidak butuh tujuan. Ia hanya berlangsung, seperti angin laut yang tak pernah minta difoto tapi tetap membuat orang merasa damai. Kadang saya berpikir, jangan-jangan ngelukat bukan tentang membersihkan dosa. Tapi tentang menerima bahwa kita tidak akan pernah benar-benar bersih. Dan itu tidak apa-apa.
Di Banyuwangi Ethno Carnival tahun ini, ngelukat dijadikan tema. Orang-orang berdandan. Kostum dibuat dari ide tentang rahim, air ketuban, masa kecil, remaja, dewasa, dan seterusnya. Semua tampak megah. Semua tampak bermakna.
Saya tidak ingin mengecilkan itu. Tapi saya tahu, ngelukat tidak butuh perayaan. Ia hanya butuh kesepian. Ia hanya butuh satu orang yang mau berkata dalam hati: “Saya capek jadi orang yang terus berpura-pura.” Dan air akan datang. Tanpa janji. Tanpa pamit. Tradisi ini tidak butuh panggung. Tapi saya maklum kalau pemerintah perlu membuat tema, perlu mengangkat budaya. Saya tidak sinis. Saya hanya tidak yakin tradisi semacam ini bisa dijelaskan melalui tata rias dan koreografi.
Karena ngelukat sejatinya bukan milik siapa-siapa. Ia milik orang yang pernah seperti ingin bunuh diri tapi kemudian berubah pikiran setelah menyiram muka dengan air pancuran jam tiga pagi. Ia milik perempuan tua yang mencuci kaki anaknya sebelum berangkat kerja. Ia milik siapa saja yang masih percaya bahwa air bukan sekadar basah, tapi mengandung sesuatu yang lebih dalam dari luka.
Saya pernah merasakan air zam-zam di Mekah. Rasanya biasa saja. Tapi saya menangis waktu meminumnya. Bukan karena keajaibannya. Tapi karena saya teringat air itu didapatkan dengan penuh doa dan perjuangan, saya juga teringat pancuran di dusun Bayu, tempat saya pertama kali diajak ngelukat oleh seorang lelaki yang sudah tidak ada.ia bilang: “Air itu tidak menghapus dosa. Tapi bisa mengingatkan kita bahwa kita masih bisa mulai lagi.”
Sejak itu, saya percaya bahwa air bukan benda mati. Air punya cara sendiri untuk berbicara. Ia menyusup ke pori-pori tubuh dan menyampaikan pesan tanpa suara. Kadang pesan itu hanya satu: “Tenanglah sebentar. Kamu tidak harus selalu baik.”
Saya tahu manusia tidak akan pernah sepenuhnya bersih. Bahkan setelah mandi tujuh kali. Bahkan setelah ngelukat di tujuh sumur berbeda. Tapi mungkin kita tidak diminta untuk benar-benar bersih. Kita hanya diminta untuk tidak menyerah.
Dan ngelukat, dalam bentuknya yang paling sunyi, adalah cara untuk tidak menyerah. Cara untuk berkata kepada diri sendiri: “Aku tidak baik. Tapi aku ingin mencoba jadi baik, setidaknya hari ini.”
Saya tidak tahu apakah itu disebut spiritualitas. Tapi saya tahu itu manusiawi. Dan dalam dunia yang terlalu ribut ini, menjadi manusia yang jujur kepada dirinya sendiri sudah lebih dari cukup.
Kalau kamu ke Banyuwangi, jangan cari tempat ngelukat yang paling ramai. Carilah yang paling sepi. Yang tidak punya plakat. Tidak masuk Instagram. Tidak ada tiket masuk. Datangi pancuran itu. Duduklah. Dengarkan airnya. Jangan bicara. Jangan berharap apa-apa. Lalu basuh wajahmu.
Dan biarkan air berbicara.