Pages

Gerak Cepat Polresta Banyuwangi Tangani Penemuan Bayi di Desa Olehsari

Banyuwangi (Warta Blambangan) Polresta Banyuwangi bergerak cepat menindaklanjuti laporan masyarakat terkait penemuan seorang bayi laki-laki di teras rumah warga Dusun Krajan, Desa Olehsari, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Rabu (14/1/2026)

Kapolsek Glagah AKP Edi Jaka Supa’at, S.H. menjelaskan bahwa kejadian tersebut pertama kali diketahui sekitar pukul 22.00 WIB di rumah milik Sutikno (70), seorang pensiunan anggota Polri. Bayi ditemukan berada di dalam sebuah kardus Indomie yang diletakkan di lantai teras rumah.

Kronologis kejadian bermula saat saksi Ferdy Tri Ananta (18) pulang ke rumah dan melihat sebuah kardus di teras. Awalnya tidak dicurigai, namun saat saksi duduk di teras untuk mengerjakan tugas sekolah, terdengar suara tangisan bayi dari dalam kardus. Mengetahui hal tersebut, saksi segera memberitahukan kepada orang tuanya.

Pelapor kemudian melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Glagah. Sekira pukul 22.08 WIB, petugas Polsek Glagah bersama bidan dari Klinik Amanah Desa Olehsari mendatangi lokasi kejadian. Dari hasil pemeriksaan awal di tempat kejadian perkara, ditemukan seorang bayi laki-laki dengan berat badan sekitar 3,2 kilogram, lengkap dengan perlengkapan bayi serta secarik surat wasiat.v


Untuk mendapatkan penanganan medis, bayi tersebut segera dibawa ke Klinik Amanah Desa Olehsari dan selanjutnya dirujuk ke RSUD Blambangan Banyuwangi. Saat ini bayi dalam kondisi sehat dan masih menjalani perawatan medis.

Kapolresta Banyuwangi Kombes Pol Dr. Rofiq Ripto Himawan, S.I.K., S.H., M.H. menyampaikan apresiasi atas respons cepat jajaran Polsek Glagah serta kepedulian masyarakat yang segera melaporkan kejadian tersebut.

“Polri hadir untuk memberikan perlindungan, khususnya terhadap anak sebagai kelompok rentan. Kami memastikan bayi tersebut mendapatkan penanganan medis yang layak dan aman, serta menjamin proses hukum berjalan secara profesional dan humanis,” tegas Kapolresta Banyuwangi.

Lebih lanjut, Kapolresta Banyuwangi menambahkan bahwa pihaknya telah memerintahkan Satreskrim Polresta Banyuwangi untuk melakukan penyelidikan secara menyeluruh guna mengungkap pihak-pihak yang bertanggung jawab atas penelantaran bayi tersebut.

“Kami akan mendalami kasus ini, termasuk menelusuri identitas orang tua bayi serta berkoordinasi dengan instansi terkait guna memastikan perlindungan dan masa depan bayi tersebut,” imbuhnya.

Saat ini penanganan perkara dilakukan oleh Unit Reskrim Polsek Glagah bersama Satreskrim Polresta Banyuwangi. Kepolisian mengimbau masyarakat agar tidak ragu melapor kepada pihak kepolisian apabila mengetahui atau menemukan kejadian serupa demi keselamatan dan perlindungan anak.(***)

Literasi, Inovasi, dan Refleksi ASN Mengemuka dalam Resepsi HAB ke-80 Kemenag Banyuwangi

Banyuwangi (Bimas Islam) Resepsi puncak peringatan Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama Republik Indonesia yang digelar di Hedon Estate Banyuwangi, Rabu (14/1/2026), menjadi ruang penguatan nilai pengabdian aparatur sekaligus apresiasi atas berbagai capaian Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi. Kegiatan tersebut diikuti oleh perwakilan seluruh satuan kerja, mulai dari jajaran kantor internal, madrasah, hingga Kantor Urusan Agama (KUA) kecamatan.

Kehadiran Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, Akhmad Sruji Bahtiar, memberikan makna tersendiri dalam resepsi tersebut. Selain sebagai bentuk perhatian pimpinan wilayah, kehadiran Kakanwil juga menjadi momentum pembinaan serta penguatan arah kebijakan Kementerian Agama di daerah. 

Dalam laporan dan sambutan, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Chaironi Hidayat, menyampaikan sejumlah prestasi yang berhasil diraih, khususnya di bidang pendidikan madrasah. Salah satu capaian tersebut adalah keberhasilan peserta didik asal Banyuwangi yang mampu mewakili Indonesia dan meraih prestasi pada ajang internasional, sekaligus mengharumkan nama daerah dan Kementerian Agama.

Chaironi juga memaparkan berbagai inovasi layanan keagamaan yang terus dikembangkan, di antaranya rencana pelaksanaan bimbingan perkawinan (Bimwin) secara daring melalui KUA. Inovasi ini diharapkan dapat memperluas akses layanan, sekaligus meningkatkan kualitas pembinaan keluarga yang adaptif terhadap perkembangan teknologi.

Di bidang literasi dan dakwah digital, Chaironi menekankan pentingnya pemanfaatan media sosial secara bijak, edukatif, dan produktif. Ia turut memberikan apresiasi kepada komunitas Lentera Sastra yang dinilai konsisten membangun budaya literasi melalui penerbitan buku serta pendampingan peserta didik dalam menghasilkan karya tulis.

Pada kesempatan tersebut, dilakukan pula penyerahan buku karya Chaironi Hidayat berjudul Fondasi Iman dan Akhlak. Buku yang diterbitkan melalui komunitas Lentera Sastra pimpinan Syafaat tersebut diserahkan secara simbolis kepada Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur sebagai bentuk kontribusi nyata dalam penguatan nilai keimanan, akhlak, dan literasi di lingkungan Kementerian Agama.

Dalam pembinaannya, Akhmad Sruji Bahtiar menegaskan bahwa literasi merupakan fondasi penting dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Menurutnya, literasi tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan membaca, tetapi juga kecakapan menulis, berpikir kritis, dan menuangkan gagasan secara bertanggung jawab. 


Kakanwil juga mengajak seluruh aparatur sipil negara (ASN) Kementerian Agama untuk senantiasa menjaga keikhlasan dalam bekerja dengan menumbuhkan sikap rendah hati serta menjauhkan ego pribadi. Ia menekankan pentingnya muhasabah dan refleksi diri sebagai penguat integritas dan spiritualitas aparatur.

“Mari kita bermuhasabah, mengenali diri kita dengan jujur. Dari situ, kita akan semakin memahami tugas pengabdian sekaligus semakin dekat dengan Tuhan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Akhmad Sruji Bahtiar mengingatkan pentingnya menjaga persatuan dan keharmonisan bangsa melalui penguatan moderasi beragama, sikap toleransi, serta menghindari perdebatan atas perbedaan. Ia juga mengajak seluruh ASN Kementerian Agama untuk berperan aktif dalam menjaga kelestarian lingkungan, khususnya hutan lindung, sejalan dengan program ekoteologi yang diusung Kementerian Agama Republik Indonesia.

Resepsi puncak HAB ke-80 ini menjadi momentum strategis untuk memperkuat kebersamaan, memperteguh nilai pengabdian, serta meneguhkan komitmen Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi dalam menghadirkan pelayanan keagamaan yang profesional, berintegritas, dan berorientasi pada kemaslahatan umat.

Pelangi yang Mengabdi: Catatan Bakti di Usia Delapan Puluh

 Pelangi yang Mengabdi: Catatan Bakti di Usia Delapan Puluh

Saya mengenal Dr. Akhmad Sruji Bakhtiar bukan pertama-tama sebagai pejabat, melainkan sebagai seorang penutur. Kami dipertemukan dalam sebuah bimbingan teknis yang berlangsung sepuluh hari, waktu yang cukup panjang untuk saling mengenal, berbagi ruang, ngopi bareng, kadang juga rasa rasan bareng dan menanggalkan jarak formal. Di sanalah diskusi mengalir tanpa moderator, obrolan tumbuh tanpa alur, dan bahasa sesekali keluar dari seragam resminya. Saat itu beliau masih menjabat Kepala Kantor Kementerian Agama di daerah. Kini beliau memikul amanah sebagai Kepala Kantor Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur. Jabatan boleh berganti, tetapi cara bertuturnya tetap: penuh filosofi, tenang, dan terasa seperti mengajak berpikir, bukan memerintah. 


Ada orang-orang yang ketika berbicara, kata-katanya hanya sampai di telinga. Ada pula yang ucapannya turun lebih dalam, menetap di dada. Dr. Akhmad Sruji Bakhtiar termasuk jenis yang kedua. Ia tidak sekadar menyampaikan kalimat, tetapi menyelipkan makna di sela-selanya, seperti doa yang tidak selalu keras dilafalkan, namun lama tinggalnya. Itulah yang kembali saya rasakan ketika beliau menyampaikan pembinaan dalam rangka Hari Amal Bakti ke-80 Kementerian Agama.

Hari Amal Bakti, sebuah istilah yang sering kita ucapkan setiap tahun, tetapi jarang kita endapkan. Dalam penuturannya, istilah itu tidak dibiarkan menjadi slogan. Ia dibedah pelan-pelan, seolah ingin memastikan kita benar-benar memahami maknanya. Amal adalah kerja. Bakti adalah pengabdian. Maka Hari Amal Bakti bukan sekadar hari peringatan, melainkan ajakan untuk mengandikan diri, menyerahkan sebagian ego, kenyamanan, bahkan ambisi pribadi, demi sebuah pengabdian yang lebih besar.

Mengendalikan diri, kata beliau, bukan berarti menghapus diri. Justru sebaliknya: kita diminta menghadirkan diri seutuhnya. Sebab hanya manusia yang hidup yang mampu beramal dan berbakti. Benda mati tidak punya kehendak, tidak punya harapan, tidak punya keinginan untuk menjadi lebih baik. Kita berbeda. Kita masih memiliki keresahan atas kekurangan, dan dari keresahan itulah lahir harapan. Maka refleksi atas tahun yang telah lewat menjadi penting, bukan untuk menyesali, melainkan untuk menandai apa yang perlu diperbaiki di tahun yang akan datang. 

Di titik ini, yang sering membawa kita pada perenungan sunyi: bahwa iman tidak selalu hadir dalam bentuk pekik, tetapi dalam kesediaan menengok ke dalam diri. Hari Amal Bakti, dalam kerangka itu, adalah semacam cermin. Kita berdiri di depannya, melihat wajah pengabdian kita sendiri: adakah yang retak, adakah yang mulai kusam, adakah yang perlu dibersihkan.v

Bakti, sebagaimana ditegaskan beliau, adalah kesetiaan. Dalam konteks aparatur negara, ia adalah kesetiaan kepada negara. Namun di Kementerian Agama, kesetiaan itu memiliki lapis tambahan: kesetiaan pada nilai. Moderasi dan toleransi bukan sekadar kata kunci kebijakan, melainkan napas yang harus terus dijaga. Kita bekerja di rumah besar yang menaungi keberagaman keyakinan, tafsir, dan praktik keberagamaan. Di sinilah bakti diuji: mampukah kita setia pada negara tanpa mengkhianati kemanusiaan, dan setia pada agama tanpa meniadakan perbedaan?

Perbedaan, kata beliau, adalah keindahan. Seperti pelangi. Analogi ini terdengar sederhana, bahkan klise, tetapi justru karena kesederhanaannya ia menjadi kuat. Pelangi tidak akan indah jika hanya satu warna. Ia memerlukan perbedaan yang berdampingan, bukan saling meniadakan. Moderasi beragama bekerja dengan cara yang sama: bukan mengaburkan warna, melainkan memastikan setiap warna mendapat tempatnya di langit yang sama.

Di usia delapan puluh tahun, Kementerian Agama telah melewati banyak musim. Ia lahir dari pergulatan sejarah, tumbuh di tengah dinamika politik, dan dewasa dalam kompleksitas masyarakat yang terus berubah. Hari Amal Bakti ke-80 bukan sekadar penanda usia, tetapi momentum untuk bertanya: sejauh mana kita telah benar-benar berbakti? Bukan kepada gedung, bukan kepada jabatan, melainkan kepada nilai yang sejak awal ingin diperjuangkan.

Saya melihat dalam sosok Dr. Akhmad Sruji Bakhtiar, konsistensi itu terjaga. Dari ruang bimbingan teknis yang penuh canda dan diskusi hingga podium pembinaan yang sarat makna, ada benang merah yang tidak putus: keyakinan bahwa pengabdian adalah laku batin sebelum menjadi kerja administratif. Bahwa filosofi bukan hiasan pidato, melainkan kompas dalam mengambil keputusan. 

Pada akhirnya, Hari Amal Bakti mengingatkan kita pada satu hal sederhana namun mendasar: kita masih manusia. Kita masih punya keinginan untuk memperbaiki diri, masih punya harapan untuk melayani dengan lebih baik. Selama itu ada, bakti tidak akan pernah menjadi rutinitas yang kering. Ia akan tetap hidup—seperti pelangi yang selalu menunggu hujan dan cahaya bekerja bersama. 

Bicaranya sedikit tetapi mengena, dengan bahasa yang mudah diterima. Dengan bahasa tasawuf yang tidak terlalu rumit 

Kemangi Award Warnai HAB ke-80 Kemenag, Dedikasi ASN dan Madrasah Banyuwangi Diganjar Apresiasi

Banyuwangi (Warta Blambangan);Pagi itu, aula Madrasah Aliyah Negeri 1 Banyuwangi tidak sekadar menjadi ruang pertemuan. Ia menjelma ladang makna, tempat penghargaan ditanam dan pengabdian dipanen. Dalam suasana Hari Amal Bakti ke-80 Kementerian Agama Republik Indonesia, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi menggelar Kemangi Award, Senin (12/1/2026).

Acara dibuka dengan lantunan gerak dan rasa dari anak-anak madrasah inklusi. Di wajah mereka, tersimpan pesan yang jujur: bahwa pendidikan adalah hak semua insan, dan keberagaman bukan alasan untuk menepi. Persembahan itu menjadi pengingat bahwa tugas Kementerian Agama bukan hanya mengatur, tetapi juga merawat.


Ketua Panitia Hari Amal Bakti ke-80 Kemenag Banyuwangi, Dr. Fathurrahman, menyampaikan bahwa tahun ini sebanyak 30 penghargaan dianugerahkan kepada aparatur sipil negara dan keluarga besar madrasah. Mereka adalah nama-nama yang sepanjang 2025 memilih bekerja dalam sunyi, menunaikan tanggung jawab dengan setia, dan menjaga martabat pengabdian.

“Penghargaan ini bukan sekadar penilaian kinerja, melainkan ungkapan terima kasih atas ketekunan, integritas, dan kesungguhan dalam melayani,” tuturnya.

Hadir dalam acara tersebut para ASN, insan madrasah, tokoh organisasi keagamaan, serta mitra kerja Kementerian Agama. Dari Majelis Ulama Indonesia, Forum Kerukunan Umat Beragama, Badan Wakaf Indonesia, hingga Bank Syariah Indonesia, semuanya menyatu dalam satu ruang, menandai bahwa pelayanan keagamaan adalah kerja bersama.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Dr. Chaironi Hidayat, menyampaikan bahwa Kemangi Award kini memasuki pelaksanaan ketiga. Ia menuturkan, jejak prestasi insan Kemenag Banyuwangi tidak berhenti di batas administratif, tetapi melampaui daerah, menembus tingkat nasional bahkan internasional, khususnya melalui capaian peserta didik madrasah.

“Ketika anak-anak madrasah mampu berdiri sejajar di panggung dunia, di sanalah kita tahu bahwa pengabdian tidak pernah sia-sia,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, ia juga menyinggung ikhtiar penguatan integritas melalui pembinaan berkelanjutan, termasuk kerja sama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi. Baginya, integritas adalah fondasi sunyi yang menentukan kokohnya kepercayaan publik.

Menutup sambutannya, Chaironi Hidayat menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Banyuwangi apabila pelayanan yang diberikan belum sepenuhnya sempurna. Ia menegaskan bahwa di usia delapan dekade Kementerian Agama, seluruh jajaran terus berikhtiar menghadirkan layanan yang tidak hanya tertib secara administrasi, tetapi juga adil, manusiawi, dan berjiwa pengabdian.

Membaca Ulang Iman, Akhlak, dan Manusia Modern

 

Membaca Ulang Iman, Akhlak, dan Manusia Modern

Di tengah hiruk-pikuk dunia modern yang menempatkan manusia di bawah tekanan target, jabatan, dan rutinitas tanpa henti, iman kerap terdesak ke sudut sunyi kehidupan. Buku Fondasi Iman & Akhlak: Refleksi Mendalam 13 Hadis Arbain Imam Nawawi hadir sebagai pengingat bahwa nilai-nilai Madinah belum usang oleh zaman, justru semakin dibutuhkan untuk menuntun manusia profesional agar tetap berakar pada makna. Melalui bahasa reflektif dan pendekatan yang membumi, buku ini menjembatani pesan hadis dengan realitas kerja, pelayanan publik, dan pencarian ketenangan batin manusia modern.

Ada masa ketika iman tidak lagi dipertanyakan karena ia telah menjadi napas; mengalir tanpa disadari, bekerja tanpa diminta, dan menuntun tanpa perlu diumumkan. Namun zaman bergerak, dan manusia modern, yang hidup di bawah lampu neon kantor, di balik layar komputer, di tengah tumpukan berkas dan target kinerja, kerap kehilangan keheningan tempat iman biasa tumbuh. Di sinilah buku ini menemukan relevansinya: ia hadir bukan sekadar sebagai tafsir teks, melainkan sebagai jembatan ruhani antara Madinah abad ketujuh dan ruang kerja abad dua puluh satu.

Buku ini tidak berdiri di menara gading keilmuan yang tinggi dan sunyi, tetapi justru turun ke lorong-lorong kehidupan praktis, tempat manusia bekerja, berkhidmat, tergoda, lelah, dan sering kali lupa pada dirinya sendiri. Di tangan penulis, hadis tidak hanya dibaca, tetapi diajak berbincang; tidak hanya dikutip, tetapi dihidupkan kembali dalam denyut keseharian aparatur negara, pelayan publik, dan manusia profesional yang sering terjebak dalam rutinitas tanpa makna. Salah satu kekuatan utama buku ini terletak pada cara penulis memosisikan hadis. Ia tidak memperlakukan hadis sebagai teks sakral yang dipajang di etalase kesalehan, melainkan sebagai lentera, penerang jalan, yang harus dibawa masuk ke ruang gelap kehidupan modern. Hadis-hadis Arbain Nawawi, yang sejak berabad-abad lalu menjadi fondasi ajaran Islam, dihadirkan kembali dengan bahasa yang bersahabat, seolah Rasulullah SAW sedang berbisik pelan kepada pembaca: “Aku tahu zamanmu berat, tetapi jalan ini tetap sama.”

Dalam dunia kerja modern, iman sering direduksi menjadi urusan privat, sementara akhlak dipersempit menjadi etika profesional yang kering dari ruh. Buku ini menolak pemisahan itu. Iman dan akhlak dipulihkan sebagai satu kesatuan, sebagai energi batin yang semestinya menggerakkan profesionalisme, bukan sekadar melapisinya. Integritas, kejujuran, tanggung jawab, dan pelayanan publik tidak dipahami hanya sebagai tuntutan sistem, tetapi sebagai buah dari kesadaran spiritual yang hidup. Penulis dengan cermat menunjukkan bahwa nilai-nilai Madinah, yang lahir di tengah kesederhanaan, kejujuran, dan pengorbanan, masih relevan untuk membangun birokrasi yang bersih dan berkeadaban. Dalam konteks ini, buku ini bukan hanya bacaan religius, tetapi juga kritik halus terhadap kehidupan profesional yang sering kehilangan dimensi etik dan spiritualnya.

Keunggulan lain yang patut dicatat adalah gaya bahasa buku ini. Lahir dari pengajian Ramadan, bahasa yang digunakan cenderung ringan, lugas, dan komunikatif. Tidak ada upaya untuk memamerkan keilmuan secara berlebihan, tidak pula ada nada menggurui yang menjauhkan pembaca. Sebaliknya, pembaca diajak berjalan bersama, merenung perlahan, dan menemukan makna dengan kesadaran sendiri. Bahasa seperti ini penting di tengah kejenuhan manusia modern terhadap khotbah moral yang keras dan hitam-putih. Buku ini memahami bahwa nasihat yang baik bukanlah yang berteriak, melainkan yang mengetuk pelan pintu hati. Dalam banyak bagian, penulis memilih metafora, kisah, dan refleksi personal untuk menjelaskan pesan hadis, sehingga pembaca tidak merasa sedang “diceramahi”, melainkan diajak bercermin. Namun, di sisi lain, gaya ini pula yang menjadi titik rawan. Karena berasal dari tuturan lisan, alur penjelasan terkadang terasa mengalir bebas, lebih menyerupai nasihat spiritual daripada analisis tekstual yang ketat. Bagi pembaca akademik yang mengharapkan struktur argumentasi yang sistematis dan mendalam, hal ini bisa terasa kurang memuaskan. Akan tetapi, justru di situlah kekuatan sastrawi buku ini: ia memilih kehangatan daripada ketepatan ilmiah yang dingin. Salah satu aspek menarik dari buku ini adalah pendekatan interdisipliner yang berani. Penulis tidak ragu mengaitkan ajaran hadis dengan teori-teori modern, seperti psikologi humanistik Abraham Maslow. Perbandingan antara konsep ikhlas dan hierarki kebutuhan manusia membuka ruang dialog yang segar antara tradisi Islam dan ilmu pengetahuan modern.

Dalam perspektif ini, ikhlas tidak dipahami sebagai penyangkalan terhadap kebutuhan manusia, tetapi sebagai puncak kesadaran setelah kebutuhan-kebutuhan dasar terpenuhi. Ikhlas menjadi ruang di mana manusia bekerja bukan lagi semata demi pengakuan, jabatan, atau materi, melainkan demi nilai dan makna. Di tengah budaya kerja yang kompetitif dan sering menekan, pendekatan ini memberi alternatif cara memandang kesuksesan: bukan sekadar soal capaian, tetapi tentang ketenangan batin. Pendekatan semacam ini menunjukkan bahwa Islam bukan agama yang terasing dari perkembangan ilmu pengetahuan, melainkan tradisi hidup yang mampu berdialog dengan zaman. Hadis-hadis Nabi tidak diposisikan sebagai antitesis modernitas, tetapi sebagai penyeimbangnya—memberi arah di tengah kemajuan yang sering kehilangan tujuan.

Buku ini sesungguhnya bukan hanya tentang 13 hadis, melainkan tentang perjalanan ruhani manusia modern. Setiap hadis diolah menjadi cermin batin, tempat pembaca diajak bertanya: di mana aku berdiri, dan ke mana aku melangkah? Dalam konteks ini, membaca buku ini menyerupai sebuah riyadhah—latihan batin—yang halus dan tidak memaksa. Penulis berulang kali mengingatkan bahwa kehidupan profesional yang sibuk sering kali membuat manusia lupa pada dimensi terdalam dirinya. Kesalehan direduksi menjadi ritual formal, sementara akhlak dikalahkan oleh target dan kepentingan. Buku ini mencoba memulihkan keseimbangan itu dengan mengembalikan hadis ke fungsinya yang paling dasar: sebagai penuntun hidup.

Namun, karena fokus refleksi banyak diarahkan pada konteks aparatur sipil negara, buku ini memang terasa sangat spesifik. Contoh-contoh yang dihadirkan sering berkutat pada dunia birokrasi, pelayanan publik, dan tanggung jawab jabatan. Bagi pembaca di luar lingkaran tersebut—misalnya pelaku usaha kreatif, petani, atau pekerja informal—sebagian refleksi mungkin terasa kurang dekat. Di sinilah keterbatasan segmentasi buku ini tampak. Ia sangat kuat berbicara kepada ASN, tetapi belum sepenuhnya merangkul spektrum pembaca yang lebih luas. Meski demikian, nilai-nilai universal yang diusung—kejujuran, amanah, keikhlasan—tetap dapat ditransformasikan ke konteks kehidupan apa pun, asalkan pembaca bersedia melakukan penyesuaian makna.

Salah satu bagian paling menggetarkan dari buku ini adalah ketika penulis menghadirkan profil para perawi hadis. Umar bin Khattab, Hasan bin Ali, dan sahabat-sahabat lainnya tidak digambarkan sebagai tokoh suci yang jauh dari realitas manusia, tetapi sebagai pribadi yang berjuang, mengambil keputusan sulit, dan memikul tanggung jawab besar. Narasi tentang keberanian Umar dan kebijaksanaan Hasan menjadi jembatan emosional yang kuat antara pembaca dan teks hadis. Pembaca tidak hanya diajak memahami ajaran, tetapi juga meneladani manusia-manusia yang hidup dengan ajaran itu. Dalam dunia yang krisis figur teladan, kehadiran kisah-kisah ini menjadi oase yang menyejukkan. Namun, sebagaimana refleksi lainnya, bagian ini lebih menekankan inspirasi ketimbang kajian historis mendalam. Ia berfungsi sebagai penggerak hati, bukan sebagai analisis akademik. Dan mungkin memang itulah tujuan utama buku ini: membangunkan kesadaran, bukan memenangkan perdebatan ilmiah.

Secara jujur, buku ini tidak mengklaim sebagai tafsir lengkap atas Arbain Nawawi. Dengan hanya membahas 13 hadis, cakupannya jelas terbatas. Bagi pembaca yang mengharapkan eksplorasi menyeluruh atas 42 hadis, buku ini bisa terasa seperti pintu yang belum sepenuhnya terbuka. Namun, keterbatasan ini juga dapat dibaca sebagai pilihan metodologis. Penulis memilih kedalaman refleksi atas sebagian hadis, ketimbang keluasan pembahasan yang berisiko dangkal. Dalam dunia yang serba cepat, pendekatan ini justru terasa relevan: lebih baik merenungi sedikit dengan sungguh-sungguh daripada membaca banyak tanpa bekas, Fondasi Iman & Akhlak bukanlah buku yang ingin mengesankan pembaca dengan kecanggihan teori atau keluasan rujukan. Ia lebih menyerupai seorang sahabat perjalanan, yang berjalan di samping kita, mengingatkan ketika kita lelah, dan menunjuk arah ketika kita mulai tersesat.

Buku ini layak dibaca bukan hanya oleh ASN, tetapi oleh siapa saja yang ingin menjaga kejernihan hati di tengah hiruk-pikuk dunia modern. Ia mengajarkan bahwa iman bukan pelarian dari kehidupan, melainkan fondasi untuk menghidupinya dengan lebih bermakna. Dan di tengah zaman yang sering memisahkan profesionalisme dari spiritualitas, buku ini berani mengatakan: keduanya tidak hanya bisa bersatu, tetapi memang seharusnya demikian. Jika iman adalah akar dan akhlak adalah buah, maka buku ini berupaya menyiram keduanya dengan bahasa yang sederhana, refleksi yang jujur, dan niat yang tulus. Sebuah usaha kecil, mungkin, tetapi di zaman yang kering makna, setiap tetes kesadaran adalah anugerah.

Penulis adalah Ketua Lentera Sastra Banyuwangi

Konfercab XIV NU Banyuwangi Berjalan Hingga Subuh, KH Fachrudin Manan Resmi Jadi Rais Syuriyah

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Konferensi Cabang (Konfercab) XVI Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Banyuwangi masa khidmat 2025–2030 yang digelar di Universitas Kiai Haji Mukhtar Syafaat (UIMSYA) Kampus Blokagung, Kecamatan Tegalsari, berlangsung sukses dan khidmat. Konfercab yang dilaksanakan selama dua hari, Rabu–Kamis, 7–8 Januari 2026, ini menetapkan KH Fachrudin Manan, pengasuh Pondok Pesantren Minhajut Thullab Parasgempal, Desa Sumberas, Kecamatan Muncar, sebagai Rais Syuriyah PCNU Banyuwangi.

Konfercab yang dimulai Rabu (7/1/2026) pukul 13.00 WIB tersebut berakhir menjelang Salat Subuh, Kamis (8/1/2026). Proses pemilihan Rais Syuriyah sempat diwarnai penghitungan suara ulang sebanyak beberapa kali akibat perbedaan hasil pada penghitungan awal. Setelah dilakukan penghitungan ulang secara cermat dan transparan, forum akhirnya mencapai kesepakatan. 


Selain pemilihan Rais Syuriyah, Konfercab XVI NU Banyuwangi juga membahas dan menetapkan tata tertib pemilihan Ketua Tanfidziyah PCNU Banyuwangi. Tata tertib tersebut disepakati forum sekitar pukul 18.00 WIB setelah melalui pembahasan yang cukup dinamis.

Ketua Panitia Konfercab XVI NU Banyuwangi, Moh. Karyono, menjelaskan bahwa terdapat dua persyaratan utama bagi bakal calon Ketua Tanfidziyah atau Ketua Harian PCNU Banyuwangi. “Syarat pertama adalah wajib memiliki sertifikat Pendidikan Menengah Kepemimpinan (PMK) NU. Hal ini sesuai dengan AD/ART NU karena Jawa Timur masuk klaster A,” ujarnya.

Selain syarat PMK, bakal calon juga harus mengantongi dukungan minimal 30 persen dari total pemilih. Dengan jumlah 25 Majelis Wakil Cabang (MWC) NU se-Kabupaten Banyuwangi, maka bakal calon harus mendapatkan sedikitnya 9 dukungan MWC untuk dapat ditetapkan sebagai calon.

Dalam dinamika penjaringan bakal calon Ketua Tanfidziyah, sempat mengemuka sejumlah nama tokoh NU, di antaranya Haji Arif Rivai dan Achmad Turmudi, Kepala Desa Tegalarum, Kecamatan Sempu. Namun, mengerucutnya nama-nama calon sepenuhnya mengikuti ketentuan tata tertib yang telah disepakati bersama.

Konfercab XVI NU Banyuwangi diikuti oleh 25 MWC NU yang memiliki hak suara dan diharapkan mampu menghasilkan kepengurusan PCNU Banyuwangi yang solid, amanah, serta mampu memperkuat peran NU dalam bidang keagamaan, sosial, dan kebangsaan di Kabupaten Banyuwangi untuk lima tahun ke depan.

EL Grup Berbagi Kebahagiaan Bersama Lansia di Muncar

 


BANYUWANGIEL Grup menggelar kegiatan sosial dengan mengunjungi Panti Jompo Sahabat Lansia Blambangan di Muncar, Rabu (7/1/2026). Kunjungan ini menjadi bagian dari tasyakuran 13 tahun berdirinya El Hotel Banyuwangi Residence serta Banyuwangi Park yang turut mendukung sektor pariwisata Banyuwangi.

Sebanyak 30 lansia tampak bahagia menyambut kehadiran rombongan EL Grup yang datang bersama PHRI Banyuwangi dan mitra kesehatan IHC RS Bhakti Husada Krikilan. Sekitar 45 karyawan EL Grup turut hadir dalam kegiatan tersebut.

Direktur PT Mitra Buana Niaga (EL Grup), Vera Safira, mengatakan kegiatan ini merupakan wujud rasa syukur perusahaan sekaligus komitmen untuk berbagi melalui program CSR. “Tahun ini kami berbagi kebahagiaan bersama para lansia sebagai bentuk syukur atas perjalanan usaha EL Grup,” ujarnya.

General Manager EL Hotel, Wilmar Des Rizal, menyampaikan kunjungan tersebut dilakukan dengan penuh kehangatan. Ia menyapa para lansia layaknya keluarga sendiri. Pihaknya juga mengapresiasi PHRI Banyuwangi yang telah mendampingi kegiatan serta IHC RS Bhakti Husada Krikilan yang memberikan pemeriksaan kesehatan gratis bagi para lansia.

Perwakilan PHRI Banyuwangi, Hafrida, mengucapkan selamat atas ulang tahun ke-13 EL Grup. Ia berharap kegiatan sosial tersebut dapat menginspirasi anggota PHRI lainnya. “Kami mendoakan EL Grup semakin maju, usahanya lancar, dan terus berkontribusi untuk Banyuwangi,” ucapnya.

Dalam kegiatan tersebut, EL Grup menyalurkan bantuan berupa dana, sembako, pampers, dan selimut. Selain itu, para lansia juga diajak mengikuti berbagai aktivitas sederhana seperti permainan, bernyanyi lagu-lagu nostalgia, serta membuat buket bunga untuk menciptakan suasana gembira.


Ketua Yayasan Sahabat Lansia Blambangan, Indah Purwaningrum, menjelaskan bahwa yayasan saat ini mengasuh 30 lansia serta 16 anak yatim. Yayasan berdiri sejak tiga tahun lalu dan kini telah memiliki lahan sendiri di Muncar, meski pembangunan panti masih dilakukan secara bertahap.

Ia menambahkan, karena panti masih terakreditasi C, pihaknya belum menerima bantuan permakanan dari Dinas Sosial. Seluruh kebutuhan operasional selama ini berasal dari bantuan swasta dan para donatur. “Kami hanya menjadi perantara dari para dermawan yang peduli,” tutur Indah mengakhiri pembicaraan.(Aguk/AM/AW)



 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger