Pages

*Jaminan Kerja untuk Semua Pekerja: Cerita dari Sudut-Sudut Indonesia*

 *Jaminan Kerja untuk Semua Pekerja: Cerita dari Sudut-Sudut Indonesia*



Oleh Akaha Taufan Aminudin 


Di sebuah sudut pasar Among Tani Kota Batu, pukul enam pagi, Mbak Siti sudah menata bakul sayurnya. Tangannya cekatan, tapi matanya masih menyimpan kantuk. Ia tertawa kecil ketika ditanya soal libur, “Libur? Kalau saya libur, dapur ikut libur.” Siti adalah wajah dari jutaan pekerja informal Indonesia—mereka yang bekerja tanpa kontrak, tanpa kepastian pendapatan, dan sering kali tanpa perlindungan apa pun.


Namun pagi itu ada cerita lain. Siti bercerita bahwa beberapa bulan lalu seorang petugas menghampirinya, memperkenalkan Jaminan Sosial Ketenagakerjaan. “Awalnya saya tak percaya,” katanya. “Saya pikir itu hanya untuk pekerja pabrik.” Narasi ragu seperti ini jamak terjadi. Tetapi ketika seorang tetangga pasar mengalami kecelakaan motor dan biaya rumah sakitnya ditanggung BPJS Ketenagakerjaan, Siti mulai sadar bahwa jaminan itu bukan sekadar milik pekerja formal. Itu hak semua pekerja—siapa pun mereka.


1. Mereka yang Selama Ini Tak Terlihat


Human story tentang pekerja Indonesia selalu dimulai dari satu hal: ketidakterlihatan. Negara kita dibangun oleh tangan-tangan yang sering luput dari perhatian. Ojek pangkalan yang berjuang di tikungan pasar. Petani penggarap yang tak pernah masuk hitungan sebagai “pekerja tetap”. Perempuan penjaga warung yang bekerja lebih dari delapan jam tanpa pernah bertanya berapa jam kerja yang “wajar”.


Mereka bukan hanya angka statistik. Mereka manusia yang berharap hidup lebih aman.


Ketika negara berbicara mengenai pertumbuhan ekonomi, pembangunan jalan, percepatan industri, pekerja-pekerja kecil seperti Siti tetap menjadi nadi kehidupan yang membuat ekonomi lokal berjalan. Namun selama bertahun-tahun, nadi itu berdetak tanpa sabuk pengaman.


2. Ketika Risiko Menjadi Bagian dari Nafas Sehari-Hari


Tempo pernah menulis berita tentang seorang pekerja bangunan di Surabaya yang jatuh dari lantai tiga bangunan ruko. Ia selamat, tetapi lumpuh sebagian. Rekan-rekannya menggalang dana, bosnya menghilang, dan keluarga kehilangan mata pencaharian. Cerita seperti ini tersebar dari Aceh hingga Merauke.


Data menunjukkan bahwa lebih dari separuh angkatan kerja Indonesia masih berada di sektor informal. Artinya, risiko yang mereka tanggung pun tanpa mitigasi. Tidak ada pesangon, tidak ada perlindungan kecelakaan kerja, tidak ada tabungan hari tua.


Pekerjaan mereka adalah taruhan. Setiap pagi adalah lembar baru dari kemungkinan cedera, kehilangan pendapatan, bahkan kehilangan masa depan.


3. Ketika Perlindungan Menjadi Titik Balik


Human story juga bicara tentang harapan. Contoh paling gamblang: para nelayan di pesisir Banyuwangi yang kini sadar bahwa badai tidak hanya bisa merusak perahu, tetapi mengancam keluarga. Setelah mereka terdaftar sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan, istri mereka bercerita merasa sedikit lebih tenang menunggu di rumah.


Tempo pernah memotret kisah seorang nelayan muda yang meninggal saat melaut. Istri dan anaknya mendapatkan santunan kematian dan beasiswa pendidikan. “Kami kehilangan suami dan ayah,” kata sang istri, “tapi negara tidak membiarkan kami berjalan sendiri.”


Itulah turning point yang sering tak muncul dalam diskusi kebijakan: perlindungan bukan hanya skema administrasi. Ia adalah rasa aman.


4. Jaminan Kerja: Cerita Besar dari Kehidupan Kecil


Konsep jaminan kerja untuk semua pekerja berarti satu hal: setiap tenaga yang menggerakkan Indonesia, sekecil apa pun roda yang mereka putar, harus terlindungi.


Bukan sekadar isu BPJS Ketenagakerjaan. Ini isu kemanusiaan.


Ketika Siti akhirnya mendaftar sebagai peserta, ia bercerita bahwa anaknya—yang masih kelas empat SD—berkata, “Bu, kalau Ibu jatuh waktu bawa dagangan, nanti ada yang bantu ya?” Kalimat polos itu menghantam lebih keras daripada kritik pakar mana pun.


Karena di balik diskusi teknis—coverage, compliance, regulasi, dan formulir pendaftaran—ada keluarga yang menggantungkan hidup pada seorang ibu, ayah, atau anak yang bekerja setiap hari tanpa perlindungan.


5. Negara Hadir Ketika Kita Tidak Lagi Sendirian


Human story adalah cerita tentang kebersamaan. Jaminan kerja adalah cara negara berkata: “Kamu tidak sendirian.”


Apakah perlindungan kita sudah sempurna? Tentu belum. Masih banyak pelaku usaha kecil yang belum sadar, masih banyak perangkat daerah yang belum aktif menggerakkan sosialisasi, dan masih banyak pekerja informal yang bahkan tak tahu bahwa mereka berhak.


Namun artisanal perubahan dimulai dari satu orang yang terlindungi. Dari satu kisah yang menginspirasi. Dari satu pasar Among Tani di Batu tempat Siti bekerja. Dari satu kampung nelayan di Banyuwangi. Dari satu tukang bangunan di Kendari. Dari satu pedagang kaki lima di Bandung.


Setiap cerita adalah pondasi Indonesia yang lebih manusiawi.


Penutup: Indonesia yang Tidak Membiarkan Seorang Pekerja pun Tertinggal


Jaminan kerja untuk semua pekerja bukan sekadar slogan lomba jurnalistik. Ini visi masa depan Indonesia—sebuah negeri yang memastikan bahwa siapa pun yang bekerja, apa pun profesinya, berhak atas perlindungan.


Negara yang besar bukan hanya negara dengan gedung-gedung tinggi, tetapi negara yang tidak membiarkan rakyatnya runtuh ketika tertimpa risiko.


Di pasar Among Tani Kota Batu, Siti menutup obrolan dengan satu kalimat sederhana namun penuh makna:

“Saya cuma ingin bekerja dengan tenang.”


Dan bukankah itu hak paling dasar dari setiap pekerja?


Kota Batu 29 November 2025

Akaha Taufan Aminudin 

Penggerak Literasi dan Sastrawan 

KOTA BATU SATUPENA JAWA TIMUR

Bimbingan Remaja Usia Nikah di UIMSYA Tekankan Kesiapan Mental, Spiritual, dan Sosial

Banyuwangi (Warta Blambangan) Seksi Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi bekerja sama dengan Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam Universitas Kyai Haji Muchtar Syafaat (UIMSYA) Blok Agung menyelenggarakan kegiatan Bimbingan Remaja Usia Nikah (BRUS) pada Kamis, 27 November 2025. Kegiatan ini difokuskan untuk memberikan bekal komprehensif kepada mahasiswa terkait kehidupan berumah tangga, mulai dari pemilihan pasangan hingga kesiapan menjalani ikatan pernikahan dalam perspektif agama dan sosial.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi yang diwakili oleh Kepala Seksi Bimas Islam menyampaikan bahwa bimbingan remaja usia nikah merupakan langkah preventif sekaligus edukatif untuk menciptakan generasi keluarga sakinah, mawaddah, dan rahmah. “Yang paling penting adalah bagaimana bisa menentukan pilihan, mencari pasangan yang pas dan tepat untuk mewujudkan rumah tangga yang bahagia,” ujarnya. Ia menegaskan, pemahaman mendasar sebelum menikah merupakan investasi jangka panjang yang akan menentukan stabilitas rumah tangga. 


Acara berlangsung di lingkungan kampus UIMSYA Blokagung Kecamatan Tegalsari dan diikuti puluhan mahasiswa dari berbagai program studi. Para peserta mendapatkan gambaran langsung mengenai aspek-aspek dasar kehidupan berkeluarga yang sering kali luput dari perhatian generasi muda. Materi yang disampaikan meliputi pemahaman diri, kesiapan mental dan emosional, kesehatan reproduksi, aspek hukum dan agama, keuangan rumah tangga, serta keterampilan membangun keluarga sakinah. Materi tersebut disusun secara sistematis agar mudah dipahami dan relevan dengan kebutuhan mahasiswa, khususnya yang telah memasuki usia produktif.

Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam, Agus Baehaqi, memberikan apresiasi atas terlaksananya kegiatan ini. Ia menyebut kerja sama dengan Kementerian Agama Banyuwangi merupakan langkah strategis untuk membuka wawasan mahasiswa terkait nilai-nilai fundamental kehidupan berkeluarga. “Ilmu yang mereka dapatkan adalah ilmu baru yang tidak diajarkan sepenuhnya di kampus,” ungkapnya. Menurutnya, kegiatan ini bukan sekadar tambahan pengetahuan, tetapi pembelajaran praktis yang langsung menyentuh realitas sosial mahasiswa.

Bimbingan Remaja Usia Nikah menjadi salah satu upaya terintegrasi yang dilakukan Bimas Islam untuk meminimalisasi berbagai persoalan pernikahan yang dewasa ini sering muncul di masyarakat. Salah satu tujuan utamanya adalah mengurangi risiko pernikahan dini yang kerap berujung pada ketidakstabilan rumah tangga. Melalui pendekatan yang berbasis edukasi, peserta diarahkan untuk memahami bahwa pernikahan bukan hanya tentang kesiapan usia, tetapi juga kesiapan mental, finansial, dan spiritual.

Para fasilitator menekankan pentingnya pemahaman diri sebagai fondasi pembentukan keluarga. Peserta diajak merenungkan identitas personal, cita-cita, visi pernikahan, dan batasan pribadi. Kegiatan ini mendorong mahasiswa untuk menyadari bahwa pernikahan bukanlah upacara formal yang bersifat seremonial, melainkan perjalanan hidup jangka panjang yang membutuhkan ketahanan emosional dan karakter.

Aspek kesiapan mental dan emosional juga menjadi sorotan. Fasilitator menegaskan bahwa kecerdasan emosional dalam pernikahan lebih menentukan daripada kecerdasan akademik semata. Konflik antara pasangan, miskomunikasi, perbedaan latar belakang keluarga, hingga dinamika kehidupan pascapernikahan seringkali bukan karena kekurangan pengetahuan, tetapi ketidakmampuan mengelola emosi. Dalam sesi simulasi, peserta diberikan contoh kasus umum yang sering terjadi, mulai dari perbedaan karakter hingga persoalan manajemen waktu antara pendidikan atau karier dan kehidupan keluarga.

Yang paling heboh ketika Fasilitator dari lingkungan pondok pesantren yakni dr. Hj. Zuwidatul Husna menyampaikan kesehatan reproduksi, sebuah tema yang kerap dianggap tabu di kalangan remaja. Materi disampaikan secara ilmiah dan santun, mengedepankan nilai-nilai agama dan etika. Peserta diberikan pemahaman mengenai sistem reproduksi, risiko kehamilan usia muda, pentingnya menjaga kesehatan fisik sebelum menikah, serta dampak psikologis bila kesiapan reproduksi tidak terpenuhi. Di bagian ini, mahasiswa laki-laki maupun perempuan diajak untuk memahami bahwa tubuh adalah amanah, dan berumah tangga membutuhkan kesadaran biologis yang matang.

Aspek Hukum, Agama, dan Kewajiban Perkawinan

Selanjutnya, peserta diperkenalkan dengan aspek hukum dan agama dalam pernikahan. Narasumber dari para Kepala KUA Kecamatan menguraikan prosedur legal pernikahan, mulai dari pencatatan pernikahan, kewajiban administratif, hingga regulasi pemerintah yang mengatur pernikahan usia minimal. Di sisi agama, peserta diajak memahami maqashid syariah: tujuan-tujuan utama pernikahan dalam Islam yang berorientasi pada maslahat keluarga dan masyarakat.

Dalam sesi ini, peserta juga diberikan pemahaman mengenai tanggung jawab pasangan suami-istri, baik dari aspek nafkah, pendidikan anak, maupun menjaga keharmonisan rumah tangga. Materi disampaikan secara mendalam, mencegah kesalahpahaman yang biasa terjadi dalam hubungan suami-istri ketika masing-masing pihak tidak memahami hak dan kewajiban.

Masalah ekonomi menjadi salah satu faktor terbesar penyebab keretakan rumah tangga. Oleh karena itu, BRUN menghadirkan materi mengenai manajemen keuangan rumah tangga. Peserta diajarkan cara menyusun perencanaan keuangan sederhana, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta menyikapi kondisi ekonomi pasang naik maupun pasang turun. Narasumber memberikan simulasi pembukuan bulanan dalam rumah tangga, termasuk tabungan darurat, biaya kesehatan, dan pendidikan anak.

Selain itu, peserta diingatkan pentingnya keterbukaan finansial antara suami dan istri sebagai bentuk kepercayaan. Era digital memungkinkan pasangan mengelola keuangan bersama, tetapi juga membawa potensi konflik jika tidak didasari kesepakatan. Bimbingan ini mengarahkan peserta agar tidak hanya mengejar stabilitas materi, tetapi juga membangun kesadaran berbagi tanggung jawab dalam rumah tangga.

tak kalah pentingnya materi yang menitikberatkan keterampilan membangun keluarga sakinah. Konsep sakinah dijelaskan sebagai rumah tangga yang berada dalam ketenangan batin, penuh cinta, dan dijaga oleh nilai religiusitas. Peserta diberi contoh praktik komunikasi efektif, empati, dan tata cara menyelesaikan konflik tanpa menyakiti pasangan. Narasumber memaparkan strategi sederhana seperti konsep mendengarkan aktif, prioritas bersama, serta waktu berkualitas yang seimbang antara kebutuhan pribadi dan keluarga.

Para mahasiswa terlihat antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dari pagi hingga sore hari, Diskusi interaktif berlangsung dinamis, mencerminkan keinginan peserta untuk memahami pernikahan secara dewasa dan realistis. Beberapa peserta mengajukan pertanyaan mengenai kesiapan menikah saat studi, perbedaan budaya antar pasangan, hingga cara menghadapi keluarga besar dalam dinamika rumah tangga.

Kegiatan ini disambut positif oleh civitas akademika UIMSYA Blok Agung. Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam, Agus Baehaqi, menyebut BRUS bukan hanya evaluasi teori, tetapi juga pembukaan cakrawala baru bagi mahasiswa yang akan memasuki fase dewasa. Menurutnya, kampus memiliki keterbatasan dalam memberi pembelajaran praktis mengenai kehidupan keluarga, sehingga dukungan Kementerian Agama sangat berarti.

Ia berharap kegiatan ini bisa dilakukan secara berkala, mengingat kebutuhan mahasiswa akan literasi pernikahan semakin meningkat. “Para peserta yang mengikuti acara ini merasa belajar sesuatu yang berbeda, dan mereka bisa pulang dengan pemahaman baru,” ungkapnya.


Panitia pelaksana kegiatan dari Seksi Bimas Islam Kabupaten Banyuwangi menjelaskan bahwa kegiatan BRUS bukan sekadar program rutinitas. Ia merupakan bagian dari perhatian pemerintah terhadap kondisi sosial masyarakat, khususnya generasi muda. Remaja usia nikah dipandang sebagai kelompok rentan, terutama ketika pengetahuan mengenai kehidupan menikah hanya diperoleh melalui media sosial, cerita teman sebaya, atau pengalaman keluarga yang berbeda-beda.

Karenanya, kegiatan ini berusaha membumi: materi yang disampaikan tidak bertumpu pada dogma tunggal, tetapi menghubungkan nilai agama dengan realitas keseharian. Remaja diajak memahami bahwa sakinah bukanlah kondisi yang datang tiba-tiba, melainkan hasil dari proses, musyawarah, saling pengertian, dan kedewasaan. Ditempat terpisah, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi Dr Chaironi Hidayat menyampaikan harapan agar UIMSYA Blok Agung dan lembaga pendidikan lainnya terus berkolaborasi. Bimbingan seperti ini diharapkan mampu memperkuat kapasitas generasi muda dalam membangun keluarga yang sejahtera dan produktif. Ia menegaskan, tujuan bimbingan bukan mendorong mahasiswa untuk segera menikah, tetapi memastikan mereka memahami konsekuensinya secara matang ketika waktu itu tiba.

“Jika pondasi kuat, pasangan akan lebih siap menghadapi tantangan,” ujarnya. Pesan tersebut menjadi refleksi penting bagi peserta, yang sebagian besar berada pada fase peralihan menuju dunia dewasa.

Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama dan komitmen tindak lanjut dari kedua belah pihak. Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam UIMSYA menyatakan siap memberikan ruang bagi generasi muda untuk mendapatkan bimbingan serupa di masa mendatang. Sementara Bimas Islam Banyuwangi berharap ke depan sosialisasi ini dapat menjangkau lebih banyak mahasiswa dan sekolah menengah atas, mengingat dampaknya yang strategis.

Dengan semangat edukasi dan kolaborasi, Bimbingan Remaja Usia Nikah di UIMSYA Blok Agung menjadi salah satu upaya konkret membangun peradaban keluarga yang kuat. Bukan hanya menyiapkan pasangan muda dari sisi agama, tetapi juga membekali mereka dengan pengetahuan, keterampilan, dan kebijaksanaan yang diperlukan dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Ini bukan sekadar program bimbingan, melainkan investasi masa depan bagi generasi Banyuwangi — generasi yang diharapkan mampu menyeimbangkan cinta, tanggung jawab, dan akhlak dalam kehidupan berumah tangga.

Kesan Festival Kebangsaan 2025 Banyuwangi, Mahasiswa Aceh dan Papua Beri Apresiasi

 


BANYUWANGI – Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kabupaten Banyuwangi telah sukses menggelar Festival Kebangsaan 2025 di Arena Gesibu Blambangan, Sabtu (22/11/2025). Kegiatan yang meriah dan penuh makna ini tidak hanya memamerkan keragaman budaya tetapi juga mendapat apresiasi tinggi dari mahasiswa, termasuk dari Papua yang menyatakan kebanggaannya.

Kepala Bakesbangpol Banyuwangi, Drs. R. Agus Mulyono, S.Sos, M.Si., dalam wawancara dengan media menjelaskan, festival tahun ini menampilkan trilogi utama. "Pertama, lomba Band Kebangsaan untuk anak SD-SMP sebagai wadah menyalurkan bakat dan kegiatan positif. Kedua, lomba video kreatif bertema kebangsaan untuk siswa SMA yang sebelumnya dilatih langsung oleh praktisi seperti Sulaiman Ali dari Porto Production dan influencer Winona. Ketiga, pagelaran Seni Budaya hasil kolaborasi dengan Forum Pembauran Kebangsaan yang menampilkan kekayaan berbagai suku," papar Agus Mulyono.

Disamping itu kegiatan festival ini juga menjadi wujud pelayanan bagi masyarakat dengan melibatkan UMKM, menyediakan stand pemeriksaan kesehatan gratis, dan membuka layanan administrasi kependudukan gratis dari Dinas Kependudukan untuk pengurusan akta kelahiran dan KTP. "Ini adalah bentuk sinergi kami untuk mewujudkan Banyuwangi yang lebih baik," tegasnya.

Harmoni dalam keberagaman menjadi jiwa dari festival ini. Ketua Umum Forum Pembauran Kebangsaan Kabupaten Banyuwangi, Miskawi, M.Pd., menekankan bahwa festival ini adalah cerminan nyata Banyuwangi yang multi-kultural. "Festival Kebangsaan ini sebenarnya adalah merajut harmoni, tidak lagi membeda-bedakan suku dan etnis. Kita hidup rukun dan guyub di Banyuwangi," ujarnya.

Kepala Bakesbangpol Banyuwangi Drs. R. Agus Mulyono, S.Sos, M.Si

Keberhasilan festival dalam menciptakan ruang kebersamaan ini menuai pujian dari para pengunjung. Beberapa mahasiswa asal Aceh, Astri, Naiya, dan Ulfa, mengaku terkesan dengan skala dan kehangatan acara. Ulfa menambahkan, kegiatan ini membuktikan kerukunan dan persatuan berbagai suku di Banyuwangi terjaga dengan baik.

Apresiasi khusus datang dari mahasiswa asal Papua. Marni Majau asal Papua Tengah menyatakan kebanggaannya. "Karena dengan acara seperti ini, kita dapat melestarikan budaya kami di mana pun kami berada," ujarnya.  Sonia dari Papua Selatan mengaku baru pertama kali melihat acara semacam ini dan merasa sangat mudah berbaur dengan masyarakat Banyuwangi. Mereka bahkan menyatakan kesediaan untuk dilibatkan dalam acara serupa di masa mendatang.

Mahasiswa Papua turut menyaksikan dan memberikan apresiasi

Rangkaian acara ini dibuka dengan penampilan band-band pelajar terbaik dari lomba yang telah dilaksanakan sebelumnya,  yaitu  SPENSABAND dari SMP 1 Banyuwangi, SPENSA GLORY dari  SMP 1 Genteng, ALETHEIART dari SMPK Aletheia Genteng., dilanjutkan dengan atraksi barongsai dari etnis Tionghoa dan Tari Tanduk Majeng dari Sanggar Lang-Lang Buana pimpinan Maestro Tari Banyuwangi, Bapak Sabar.

Festival secara resmi dibuka oleh Wakil Bupati Banyuwangi, Ir. H. Mujiono, M.Si., yang dalam sambutannya menegaskan bahwa festival ini adalah ruang kebersamaan dan penguatan jati diri bangsa.

Acara puncak diisi pagelaran kolaborasi Forum Pembauran Kebangsaan (FPK), menampilkan tarian dari suku Mandar, Jawa, Madura, serta narasi menggunakan bahasa daerah masing-masing dan Bahasa Inggris. Keseluruhan pertunjukan mengusung pesan kuat tentang harmoni dalam keberagaman.

Salah satu finalis Lomba Band SD - SMP se Kabupaten Banyuwangi

Berikutnya adalah pengumuman pemenang lomba. Untuk kategori video kreatif, SMAN 1 Genteng keluar sebagai juara pertama, sedangkan untuk lomba band, SDN 4 Penganjuran meraih posisi puncak.

Susunan lengkap pemenang lomba sebagai berikut :

Video Kreatif mencatat SMAN 1 Genteng sebagai juara pertama, disusul SMKS Mambaul Ulum Muncar (juara 2), SMAN 1 Glagah (juara 3), SMAN 1 Giri (harapan 1), dan SMK Cordova (harapan 2).

Untuk lomba band pelajar, juara pertama diraih oleh SDN 4 Penganjuran, disusul SMPK Alethia Genteng (juara 2), SMPN 1 Banyuwangi (juara 3), SMPN 1 Genteng (harapan 1), dan SMPN 2 Banyuwangi (harapan 2).

Piala dan hadiah pembinaan diberikan langsung oleh Wakil Bupati Ir. Mujiono, M.Si.

Tari Kolaborasi Suku Etnis dari FPK

Acara kemudian ditutup dengan Sendratari "Kembang Seronce" yang kental dengan nuansa Bhinneka Tunggal Ika, menjadi penutup yang sempurna bagi festival yang meriah ini.

Festival Kebangsaan 2025 tidak hanya sukses sebagai sebuah hajatan, tetapi juga membuktikan bahwa harmoni dalam keberagaman adalah kunci menuju Banyuwangi yang sejahtera dan rukun.(AW)



Setiap Kita adalah Guru dan Setiap Rumah adalah Madrasah,

 Setiap Kita adalah Guru dan Setiap Rumah adalah Madrasah, 

Oleh: Syafaat


Ada kalimat yang tidak pernah selesai ditulis, bahkan oleh pena paling sabar: kalimat tentang guru. Kata-katanya seperti ayat-ayat langit yang turun perlahan, diperuntukkan bagi murid-murid yang masih belajar memahami tanda baca kehidupan. Tak ada jeda, tak ada paragraf terakhir. Guru bukan profesi yang dimulai pukul tujuh dan berhenti pukul dua siang. Guru adalah napas yang bertahan setelah bel usai berbunyi; ia hidup di antara harapan, luka, pengabdian, dan ikhtiar yang jarang dipahami orang-orang yang sibuk menilai.

Hari Guru Nasional memang ditetapkan dalam Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994. Penanda administrasi itu menunjuk 25 November, bertepatan dengan lahirnya Persatuan Guru Republik Indonesia, organisasi yang berdiri dari bara perjuangan, dari keinginan menyatukan anak bangsa. Tetapi peringatan itu hanyalah kalender: pintu dengan nomor yang rapi. Guru sendiri telah ada jauh sebelum kebijakan itu; ia lahir pada saat manusia pertama menunjukkan cara menyalakan api kepada manusia lain. Di situlah madrasah pertama berdiri, di antara telapak tangan, hawa dingin, dan kebutuhan bertahan hidup. 


Jika api itu adalah pengetahuan, maka rumah-rumah kita adalah perapian tempat cahaya dilahirkan. Di sana, bara kecil menyala dari telapak tangan para penghuni yang penuh cinta. Seorang ayah mengajari anaknya mengikat tali sepatu, bukan sekadar keterampilan, tetapi pelajaran tentang kemandirian, tentang bagaimana manusia merapikan hidupnya sendiri. Seorang ibu memperkenalkan doa sebelum tidur, bukan sekadar rangkaian kata, melainkan jembatan agar hati kecil tidak tersesat di kegelapan dunia.

Seorang kakak menjelaskan namanya pada adik kecil yang gemetar mengeja huruf. Ia tidak hanya mengajarkan cara membaca, melainkan cara berdiri di hadapan dunia: perlahan, gugup, namun penuh keberanian. Kita sering menyebut hal-hal itu sederhana, seakan tak berarti lebih dari rutinitas sehari-hari. Padahal di sana, peradaban sedang berlatih berdiri. Di sana, jiwa sedang dilatih untuk mengenal sabar, hormat, syukur, dan cinta, empat pilar yang akan menjadi benteng saat badai hidup datang.

Seorang ibu yang sabar mengajari anaknya menyebut nama Tuhan sebelum tidur adalah guru. Ia sedang menanam akar tauhid yang suatu hari akan menyelamatkan sang anak dari kesepian paling sunyi. Seorang ayah yang menggendong putranya setelah jatuh sambil berbisik, “bangkit lagi, Nak,” telah mendidik keberanian yang kelak membuatnya tetap tegak saat dunia tidak lagi ramah. Dan seorang kakak yang menuntun adiknya membaca huruf pertama dalam Al-Qur’an telah membuka pintu peradaban, pintu yang tak pernah ditutup oleh waktu, karena setiap huruf suci yang dipelajari akan menjadi saksi di hadapan langit.

Perjalanan hidup adalah kitab tafsir yang selalu kita baca dengan cara yang berbeda-beda. Tidak ada satu ayat pun yang turun sia-sia; setiap kejadian adalah referensi, petunjuk kecil yang kita kutip diam-diam tanpa menyadarinya. Kita belajar dari luka, dari kehilangan, dari tawa, dari keberhasilan yang sementara. Bahkan kegagalan pun menjadi guru yang mengajari kita cara bersujud lebih rendah, meminta lebih tulus, dan mencintai lebih lapang. Jika sekolah mengajarkan pengetahuan, maka rumah mengajarkan makna. Jika guru mengajarkan pelajaran, maka keluarga mengajarkan iman. Dan di antara keduanya, manusia tumbuh pelan-pelan, seperti doa yang tak pernah lelah mengetuk pintu langit.

Namun ada jenis guru yang berbeda, mereka yang memilih mengabdikan hampir seluruh hidupnya kepada anak-anak orang lain. Mereka bangun pukul lima, menyeruput kopi pahit yang tidak sempat dinikmati, menyusun rencana pembelajaran yang harus menjawab permasalahan dua puluh empat kepala yang berbeda. Mereka menghadap kelas dengan senyum yang tidak pernah dihitung dalam rupiah. Mereka meminta murid memahami bukan hanya apa, tapi mengapa? itu jauh lebih sulit daripada menghafalkan definisi.

Mungkin di malam hari seorang guru duduk menatap lembar-lembar ujian. Lampu redup, jam menunjukkan angka yang seharusnya milik keluarga, tapi tangan mereka masih bergerak. Dari halaman yang penuh coretan dan angka itu, mereka mendengar bisikan masyarakat: “Kenapa nilai anak saya rendah?” Pertanyaan yang datang seperti palu; tidak mengetuk pintu, tidak bertanya apakah ada luka, tidak peduli apakah sang murid pulang ke rumah yang sunyi. Angka tidak pernah mampu menampung air mata murid yang disembunyikan setelah jam pelajaran berakhir; ia tidak merekam otak yang pusing karena gawai, atau piring makan yang kosong.

Pendidikan bukan daftar nilai. Ia adalah perjalanan batin, pergulatan yang tak tercatat di rapor, yang tidak bisa dijelaskan oleh mekanisme kurikulum atau algoritma ranking nasional. Dan ironinya, orang tua yang pertama kali diminta Tuhan mendidik, justru paling mudah menyerahkan tanggung jawabnya. “Kami bayar sekolah,” kata mereka. “Bereskan anak kami.” Seolah pendidikan adalah bengkel, seolah anak adalah mesin. Mereka lupa bahwa anak membawa suara rumah ke ruang kelas: retakan keluarga, marah yang tak pernah selesai, kedewasaan yang dipaksa matang terlalu dini. Guru kemudian diminta menyembuhkan semuanya dengan modul yang dibuat di antara dua gelombang kantuk.

Inilah tragedi yang matang: guru disanjung dalam pidato, ditepuk di panggung, tetapi dicaci pada kolom komentar yang anonim. Dipanggil pahlawan nasional, tetapi ada yang dipaksa berurusan dengan aparat hanya karena menegur murid yang merokok. Dianggap penjaga moral, tetapi sering diperlakukan sebagai pegawai yang boleh dimaki tanpa konsekuensi. Diminta menjadi mercusuar di tengah hedonisme, padahal mercusuar pun membutuhkan dermaga dan batu fondasi.

Sebagian guru memikul beban yang tak terlihat mata: tekanan sosial, material, dan mental. Ada yang dibenturkan dengan LSM, organisasi massa, atau orang tua yang tak pernah hadir ketika anaknya pulang menangis. Pendidikan yang mestinya perjumpaan jiwa, seperti imam yang memimpin saf, bergeser menjadi administrasi konflik. Kita sibuk bertanya mengapa murid hilang hormat, padahal kitalah yang pertama mengajarkan cara merendahkan, guru membawa senyum seperti ibadah. Ia menenangkan anak yang hatinya retak, memeluk kegagalan yang tidak tercatat dalam rapor. Tidak ada modul yang mengajari cara menenangkan murid yang berduka, atau menuntun mereka yang gelap oleh gawai dan sunyi rumah. Guru menjadi tembok penahan badai sosial, sementara sebagian dari kita hanya menjadi penonton yang melemparkan batu.

Kita sering lupa: sabar bukan sekadar menahan marah. Sabar adalah dzikir yang menyembuhkan, ikatan luka dengan iman. Guru bukan malaikat tanpa lelah, melainkan manusia yang memilih berdiri di tengah malam dunia agar ada satu anak lagi yang percaya pada cahaya. Jika kita terus memperlakukan guru yang tidak mempunyai kesalahan sebagai objek yang boleh dicaci, jangan heran bila murid menirunya. Anak tidak lahir membawa nalar; mereka belajar dari contoh, dan kitalah contoh pertama.

Pada akhirnya, pendidikan bukan transaksi nilai. Ia adalah perjalanan spiritual, sebuah janji sunyi antara hati yang ingin dibimbing dan hati yang rela membimbing. Guru tidak meminta disembah; hanya ingin dihargai. Sebab masa depan bangsa ini tidak dibangun oleh suara paling keras, tetapi oleh mereka yang paling tekun menyalakan cahaya: satu anak, satu kelas, satu jiwa, tanpa pamrih.

Tugas guru, pada hakikatnya, profetik. Bukan karena mereka nabi, tetapi karena jejaknya seirama: mencerdaskan akal, membersihkan hati, menegakkan akhlak. Guru mengangkat mata murid yang redup; mereka menyalakan nalar yang tertidur; mereka mengajarkan kebaikan, bukan lembar jawaban pilihan ganda, betapa mudahnya kita lupa pada murid. Bahwa mereka bukan halaman kosong. Mereka adalah gelas cahaya yang retak. Mereka membawa luka-luka tak terlihat: kecanduan judi online yang sunyi, labilnya hormon yang bercampur gengsi, depresi yang disembunyikan dalam emoji, kemiskinan yang memalukan. 

Mereka selalu dinilai, tetapi jarang ditenangkan. Mereka adalah generasi yang tumbuh dengan suara keras dunia, tetapi jarang punya ruang untuk mendengar hatinya sendiri. Doa guru adalah pintu masa depan; pintu itu tidak dibuka dengan teriakan, melainkan dengan hormat. Ada kesalahan yang sering kita pelihara: bahwa guru adalah malaikat yang tidak pernah gagal. Padahal guru juga manusia, yang pulang dengan gaji pas-pasan, lalu tetap memikirkan murid yang tak bisa membayar uang sekolah; yang tersenyum meski hatinya patah; yang terus mengajar meski anaknya sendiri sedang demam.

Di era digital, guru bukan lagi sekadar pengajar, mereka adalah tembok penahan banjir informasi. Tetapi tembok pun retak. Tidak ada bangsa yang beradab jika menyandarkan seluruh masa depannya pada pundak yang gajinya tak cukup membeli buku yang diajarnya. Mengajar bukan hanya stamina intelektual, ia adalah stamina spiritual: keteguhan yang tumbuh dari kesadaran bahwa setiap kata yang diucapkan di kelas adalah doa yang terbang menuju langit.

Dalam kitab-kitab kuno, amal ilmu dicatat sebagai pahala yang tak pernah padam. Guru yang wafat tetap hidup dalam murid yang mengajar murid lainnya. Mereka hidup dalam kebajikan yang menyebar pelan, dalam peradaban yang terus berlanjut, tanpa nama mereka di monumen, tanpa potret dalam koridor kantor pemerintah.

Jika engkau pernah bertemu seorang guru yang menyelamatkanmu dari jurang, yang menyentuh bahumu saat dunia meninggalkanmu, maka engkau tahu Hari Guru tidak cukup satu hari. Sebab setiap rumah adalah madrasah. Setiap kita, entah sebagai orang tua atau tetangga, adalah guru dalam bentuk paling sederhana. Dan kehidupan, dengan segala putaran waktu dan robeknya perasaan, adalah referensi yang diam-diam menyusupkan hikmah pada luka, pada doa, pada keberanian.

Guru adalah doa yang berjalan. Kadang letih, kadang tersandung, kadang hampir hilang. Tetapi selalu bangkit, karena mereka tahu: masa depan bangsa tidak dibangun oleh mereka yang paling keras berteriak, melainkan oleh mereka yang paling sabar menyalakan cahaya. Satu anak. Satu kelas. Satu jiwa. Seumur hidup.

Penulis adalah ASN Kemenag / Ketua Lentera Sastra Banyuwangi

Festival Kebangsaan Banyuwangi 2025 Tegaskan Penguatan Toleransi dan Kohesi Sosial Melalui Representasi Budaya Multietnis

Banyuwangi (Warta Blambangan) Festival Kebangsaan 2025 yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Banyuwangi melalui Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) di Gesibu Blambangan pada Sabtu (22/11/2025), menjadi ruang afirmasi keberagaman sekaligus penguatan nilai-nilai toleransi dalam masyarakat multikultural. Dengan mengangkat tema “Bangga Berbeda, Bersatu Berkarya, dengan Kreativitas dan Budaya Menuju Indonesia Maju”, kegiatan ini meneguhkan peran Banyuwangi sebagai daerah yang memiliki kohesi sosial tinggi.

Kegiatan ini memperoleh dukungan penuh dari unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Banyuwangi, antara lain Wakil Bupati, Kejaksaan Negeri Banyuwangi, Kapolresta, Danlanal, Dandim, Bakesbangpol Provinsi Jawa Timur, para kepala dinas, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM), serta berbagai organisasi kemasyarakatan dan keagamaan. Partisipasi perwakilan beragam etnis yang hadir dengan menggunakan pakaian adat masing-masing menunjukkan representasi nyata pluralitas masyarakat Banyuwangi. Ketua Yayasan Lentera Sastra Banyuwangi, Syafaat, turut hadir dalam kegiatan tersebut. 


Rangkaian acara diawali dengan penampilan band pelajar yang membawakan lagu-lagu kebangsaan dan daerah sebagai bentuk internalisasi nilai nasionalisme pada generasi muda. Penampilan budaya dilanjutkan dengan atraksi barongsai dari komunitas Tionghoa serta tari Tanduk Majeng milik etnis Madura oleh Sanggar Lang-lang Buana, memperlihatkan ekspresi seni yang merepresentasikan keragaman identitas budaya lokal.

Secara simbolik, pembukaan festival ditandai dengan pemberian santunan kepada anak yatim oleh Wakil Bupati Banyuwangi Ir. Mujiono, M.Si., kemudian dilanjutkan dengan prosesi menyanyikan lagu Indonesia Raya serta pembacaan doa lintas tradisi—doa Islam oleh Kementerian Agama Banyuwangi dan doa adat Osing oleh tokoh masyarakat Osing. Kehadiran dua tradisi doa tersebut merefleksikan harmonisasi keagamaan dan budaya yang menjadi karakter Banyuwangi.

Dalam sambutannya, Pelaksana Tugas Kepala Bakesbangpol Banyuwangi, Drs. R. Agus Mulyono, S.Sos., menegaskan bahwa pelaksanaan Festival Kebangsaan tahun ini terfokus pada tiga kategori kegiatan utama, yaitu lomba band kebangsaan, lomba video kebangsaan untuk pelajar SMA/SMK, serta pagelaran tari dan kolaborasi kesenian lintas suku. Menurutnya, keberagaman tidak semestinya menjadi sumber perpecahan, melainkan potensi kolaborasi yang memperkuat persatuan bangsa.

Ketua Lentera Sastra Banyuwangi, Syafaat, menyampaikan apresiasi terhadap festival ini dan menilai bahwa keberagaman budaya, agama, dan etnis yang hidup secara harmonis di Banyuwangi merupakan indikator layak bagi daerah tersebut untuk memperoleh Harmony Award.

Pelaksanaan festival berlanjut dengan penampilan band pelajar dari SDN Penganjuran serta pemutaran lima video kebangsaan terbaik. Hasil kompetisi video kreatif menempatkan SMAN 1 Genteng sebagai juara pertama, diikuti SMKS Mambaul Ulum Muncar sebagai juara kedua, SMAN 1 Glagah sebagai juara ketiga, SMAN 1 Giri sebagai juara harapan pertama, dan SMK Cordova sebagai juara harapan kedua.
Pada kategori lomba band pelajar, juara pertama diraih oleh SDN 4 Penganjuran, juara kedua oleh SMPK Alethia Genteng, juara ketiga oleh SMPN 1 Banyuwangi, juara harapan pertama oleh SMPN 1 Genteng, dan juara harapan kedua oleh SMPN 2 Banyuwangi. Trofi dan hadiah pembinaan diserahkan langsung oleh Wakil Bupati.

Wakil Bupati Banyuwangi, Ir. Mujiono, dalam arahannya meninjau festival ini sebagai wahana penguatan jati diri bangsa dan ruang interaksi sosial yang konstruktif. Ia menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan sosial di Banyuwangi sangat dipengaruhi oleh tingginya tingkat toleransi, yang berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat, penurunan angka kemiskinan, serta naiknya Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

Acara puncak festival menampilkan pagelaran kolaborasi Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) dengan tari-tarian yang merepresentasikan suku Mandar, Jawa, dan Madura, disertai narasi dalam bahasa daerah masing-masing serta Bahasa Inggris. Kolaborasi ini memancarkan pesan harmonisasi lintas identitas sebagai implementasi nyata semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

Festival ditutup dengan Sendratari Tembang Seronce oleh Sanggar Lang-lang Buana yang mengangkat narasi perjalanan Nusantara melalui lagu “Dari Sabang sampai Merauke”. Seluruh rangkaian kegiatan diakhiri dengan sesi foto bersama antara pejabat daerah dan para pelaku seni yang terlibat, menandai berakhirnya festival yang berjalan dengan semarak dan partisipatif.

Tentang Soeharto, Gelar Pahlawan, dan Luka yang Enggan Sembuh

 Tentang Soeharto, Gelar Pahlawan, dan Luka yang Enggan Sembuh

Oleh : Syafaat

Di suatu malam yang lembut, ketika angin hanya berani menyentuh daun-daun dengan ujung jarinya, berita mengenai seorang presiden yang akhirnya dianugerahi gelar pahlawan nasional hadir seperti bisikan dari masa lampau, namanya Soeharto. Kabar itu menggugah ruang batin yang lama tak dibuka, seakan setiap huruf membawa debu sejarah yang perlu ditiup pelan agar bentuknya terlihat jelas. Malam itu memanjang seperti ruang doa, dan sejarah duduk di hadapan bangsa ini dengan wajah-wajah yang pernah tersenyum, sekaligus wajah-wajah yang hilang.

Tidak ada sejarah yang sepenuhnya suci, kecuali sejarah para nabi. Selain itu, semuanya tersusun dari tangan manusia, tangan yang gemetar, tangan yang sesekali teguh, tangan yang dapat menanam kebaikan dan sekaligus menyakiti. Mungkin karena itu perdebatan tentang Soeharto tak pernah tuntas: yang diperbincangkan bukan hanya orangnya, tetapi juga cara bangsa ini memilih mengingat, mengampuni, atau tidak mengampuni masa lalu.

Di satu sisi, banyak yang mengingat Soeharto seperti ayah tua yang bekerja dalam diam: membangun sawah, menghadirkan puskesmas, mendirikan sekolah, menciptakan stabilitas. Tahun 1984 disebut seperti tahun ketika hujan turun setelah kemarau Panjang, tahun ketika Indonesia meraih swasembada beras. Nama Soeharto juga digandengkan dengan julukan “Bunga Pertempuran” dari Jenderal Soedirman, Serangan Umum 1 Maret, serta operasi merebut Papua ketika banyak bagian negeri masih diguncang ketidakpastian. Bagi sebagian orang, figur itu hadir setiap kali republik hampir pingsan. 


Namun ada sisi lain yang menyimpan bayang-bayang panjang. Bagi sebagian rakyat, Soeharto dikenang seperti malam yang terlalu gelap: dingin, tajam, penuh ketakutan. Mereka mengingat pelanggaran HAM yang tak pernah diuji tuntas di pengadilan, penangkapan dan penghilangan, tubuh-tubuh yang tak pernah kembali, dan ibu-ibu yang menua tanpa sempat mendengar kabar anaknya. Mereka mengingat Timor Timur, operasi militer, serta fusi partai, lorong politik yang meredupkan banyak suara. Mereka juga mengingat KKN yang menjadi jaring raksasa selama berpuluh-puluh tahun.

Ketika Presiden Prabowo menganugerahkan gelar pahlawan kepada Soeharto pada 2025, perdebatan pun membara seperti bara yang lama tertimbun di bawah abu. Ada yang melihat keputusan itu sebagai bentuk penghormatan: jasa pembangunan, ketahanan pangan, stabilitas negeri yang pernah goyah. Namun seakan-akan sebagian bangsa lupa bahwa kebaikan sebesar apa pun tak pernah otomatis menghapus dosa sejarah. Cahaya tetap cahaya, namun bayangan tetap menempel pada siapa pun yang pernah berdiri di bawah matahari kekuasaan.

Negara bukan dipimpin langsung oleh Tuhan. Negara bekerja melalui prosedur, rapat, rekomendasi, tanda tangan, dan suara-suara yang disaring oleh meja pertemuan. Sedangkan luka bekerja melalui ingatan, dan ingatan tak mengenal mekanisme administratif. Luka datang seperti zikir malam, diulang, bergetar, dan tak pernah benar-benar hilang. Ia hidup di dada para keluarga korban, hidup dalam cerita yang tak sempat ditulis, hidup dalam kecemasan yang diwariskan diam-diam kepada generasi berikutnya.

Lalu muncullah suara-suara yang menentang: bagaimana mungkin seseorang yang didemo mahasiswa pada 1998 kini disebut pahlawan? Argumen itu meluncur deras, seolah sejarah dapat dilihat hanya dari satu jendela. Mereka lupa sesuatu yang sederhana: pada 1998, Soeharto belum disebut pahlawan. Seperti ketika pada akhir 1960-an demonstrasi terhadap Soekarno berkobar di jalanan; saat itu Soekarno masih hidup, masih memikul beban politiknya sendiri, dan belum menyandang gelar pahlawan. Dalam tradisi negeri ini, gelar pahlawan adalah kabar setelah kematian, sebuah doa yang diberikan saat napas telah berhenti, bukan saat riuh dunia masih mengepung.

Mereka yang turun ke jalan pada 1998 bukan sedang mendemo seorang pahlawan; mereka sedang memprotes seorang pemimpin yang sedang berkuasa, sedang membongkar tembok ketakutan yang dibangun puluhan tahun. Sama seperti mereka yang berdemo terhadap Soekarno bukan sedang mencaci seorang pahlawan, melainkan menantang seorang presiden yang masih bergerak dalam sejarah hidup. Gelar pahlawan datang kemudian, datang dengan proses yang lain, dengan penilaian yang bukan lagi pada tubuh yang bernapas, tetapi pada warisan yang tertinggal setelah keheningan.

Namun sebagaimana setiap keputusan negara, pemberian gelar ini tetap saja mengaduk-aduk ruang batin bangsa. Ada yang merayakan, ada yang menangis, ada yang terdiam karena luka lama kembali membuka pintu. Dalam agama, manusia diajarkan bahwa Tuhan menimbang amal dan dosa dengan keseimbangan yang hanya Dia yang memahami. Tetapi negara tak punya timbangan seperti itu. Negara hanya punya arsip, rapat, rekomendasi, dan tafsir kekuasaan. Di titik itulah sering terselip kegelisahan: apakah gelar pahlawan adalah bentuk penghormatan, atau justru cara paling halus untuk merapikan masa lalu?

Sejarah berjalan seperti angin sore yang lembut tetapi membawa aroma masa silam. Dan bangsa ini, mau tak mau, harus belajar membedakan antara menghormati jasa dan memutihkan luka; antara mengingat dengan jujur dan mengingat dengan tujuan. Sebab keberanian sejati bukanlah memberi gelar, melainkan berani mengakui seluruh cerita: cahaya dan gelapnya, doa dan dendamnya, jasa dan darahnya, tanpa meninggalkan satu pun dari keduanya.

Bangsa ini sering menilai tokoh sejarah seperti menilai malaikat atau setan, seolah manusia hanya boleh berdiri di dua ujung yang saling meniadakan. Padahal manusia, siapa pun dia, selalu hidup di wilayah senja: ruang tengah yang tidak sepenuhnya terang, tidak pula sepenuhnya gelap. Di sanalah kebaikan dan keburukan melekat seperti dua sisi selembar daun yang tumbuh dari batang yang sama. Sisi pertama menangkap cahaya, sisi lainnya menampung bayang; tetapi yang tumbuh tetaplah satu daun, satu riwayat, satu napas yang pernah melintasi bumi ini.

Dalam ruang senja itulah nama Soeharto mendesis dari halaman Sejarah, kadang sebagai cahaya yang menerangi jalan pembangunan, kadang sebagai bayang-bayang yang tak mudah dihapus. Ada yang mengutip Ricklefs tentang pendidikan militernya di bawah Belanda dan Jepang, seolah karakter seorang pemimpin dibentuk dari mata bajak yang diasah dua kekuatan penjajah. Ada pula yang mengingat kenaikan pangkatnya setelah G30S, tongkat Kostrad yang digenggam seperti takdir, serta lembaran Supersemar yang menjadi pintu ke arah kekuasaan yang panjang.

Langkah-langkahnya menuju puncak itu bagai langkah seorang manusia yang sedang diuji Tuhan: setiap pijakan menyimpan tanda tanya, setiap keputusan menyisakan jejak antara amanah dan ambisi. Tidak ada yang tahu dengan pasti apakah ia sedang mengangkat beban bangsa atau justru menumpukkan beban baru di punggung rakyat. Sejarah bergerak seperti sungai malam, airnya mengalir, tapi kedalamannya tidak pernah benar-benar terlihat.

Namun ada pula catatan lain yang kerap terlipat di antara debu arsip dan riuh perdebatan: bahwa pada tahun 1960-an, ketika suara untuk mengadili Soekarno menggema dari gedung MPR seperti gelombang yang mencari tebing untuk dihantam, Soeharto justru memilih diam yang penuh makna. Diam yang bukan pengecut, tetapi penyangga marwah. Ia menolak desakan itu. Alasannya sederhana namun berlapis seperti ayat-ayat yang menunggu dibaca dengan hati yang bening: menghormati Sang Proklamator, menjaga martabat seorang ayah bangsa, melaksanakan amanah leluhur (mikul duwur mendhem jero). Dalam kerapuhan zaman itu, sikap tersebut menjelma setetes embun yang jatuh di tengah badai, bening dan kecil, tetapi mampu menenangkan sekeping nurani yang belum padam.

Di tanah Jawa, para ksatria lama menjaga adab seperti menjaga pusaka: tidak menelanjangi pendahulu di hadapan zaman, tidak meruntuhkan nama yang pernah menyalakan obor pertama. Sikap itu seperti sisa cahaya dari tradisi yang percaya bahwa hormat kepada yang dahulu adalah bagian dari kesempurnaan laku, bagian dari perjalanan ruhani seorang pemimpin yang memahami bahwa kekuasaan bukan hanya soal memerintah, tetapi juga soal merawat jejak sejarah dengan hati yang bersih.

Peristiwa-peristiwa itu saling mengait seperti tasbih yang terulur. Setiap butir mengandung makna yang berbeda: ada butir jasa, ada butir luka, ada butir yang belum jelas apakah ia adalah doa atau peringatan. Sejarah tak pernah meminta manusia untuk memilih satu sisi saja; sejarah hanya meminta untuk melihat semuanya, lalu menundukkan kepala, karena yang dibicarakan bukan hanya nama, melainkan perjalanan seorang manusia yang berjalan dalam cahaya dan bayang sekaligus.

Dan bangsa ini, mungkin suatu hari nanti, akan belajar menilai tokoh sejarah tidak dengan mata yang memutihkan atau menghitamkan, tetapi dengan mata yang mampu melihat senja: wilayah di mana malaikat dan setan tak berdiri di dua kutub, melainkan menyelinap bersama-sama dalam diri setiap manusia yang pernah diberi kuasa. Namun sejarah tidak pernah sesederhana itu. Sejarah lebih mirip air wudu: kadang jernih, kadang keruh, tergantung siapa yang menampung. Ia bisa membersihkan, tetapi juga dapat meninggalkan rasa dingin yang menggigit.

Bangsa ini mungkin seperti seorang tua yang berjalan perlahan menuju masjid pada waktu subuh. Di satu tangan ada tasbih, di tangan lain ada ingatan yang berat. Ia ingin memaafkan, tetapi beberapa luka terlalu dalam untuk sekadar ditutup dengan kata “pahlawan.” Ia ingin melupakan, tetapi nama-nama yang hilang tetap terukir di batu nisan ingatan kolektif.

Pertanyaan pun muncul: apakah negara boleh memberikan gelar pahlawan ketika sebagian besar luka belum sempat diseka? Apakah penghormatan adalah bentuk kesalehan sosial atau cara paling halus untuk memutihkan masa lalu? Dalam agama, keadilan disebut sebagai cahaya, tetapi dalam sejarah, keadilan sering hanya bayang-bayang dari cahaya itu, bergerak sedikit setiap kali didekati.

Orde Baru mengajarkan bahwa stabilitas bisa dibeli, tetapi harganya mahal. Ketika Soeharto akhirnya mundur pada 1998, dentuman sejarah yang tertahan selama puluhan tahun pun pecah. Mahasiswa turun ke jalan, kaca pecah, suara-suara yang lama dikurung keluar seperti burung yang terbebas dari sangkar gelap. Soeharto telah membangun banyak hal, tetapi juga meninggalkan luka-luka besar. Gelar pahlawan mungkin bisa diberikan, tetapi ingatan tak boleh dipaksa ikut tunduk. Jasa harus dihormati, luka harus diakui, dan sejarah tidak boleh disucikan dengan tergesa-gesa.

Seperti azan dari surau kecil di ujung gang sering terdengar seperti pesan halus bahwa manusia hanya mampu melihat sebagian dari kebenaran. Tuhan Maha Melihat keseluruhannya. Tugas manusia hanya satu: jujur. Jujur pada jasa, jujur pada luka, jujur pada sejarah. Dan ketika bangsa ini lebih matang, mungkin nama Soeharto akan dipandang dengan lebih jernih, bukan sebagai malaikat, bukan sebagai setan, melainkan sebagai manusia yang meninggalkan jejak panjang yang harus dipelajari, bukan diputihkan.

Ingatan harus dijaga seperti menjaga air wudu: dengan hati-hati, karena ia mudah batal, tetapi tetap harus dijaga agar kebenaran tidak hilang ditelan waktu.

Penulis adalah ASN Kemenag / Ketua Lentera Sastra Banyuwangi

Negara yang Diselamatkan oleh Peretasnya Sendiri

 Negara yang Diselamatkan oleh Peretasnya Sendiri

Oleh : Syafaat

 Suatu hari, di tengah hiruk-pikuk ibukota yang menua oleh kebijakan, seorang menteri berdiri dengan ketenangan yang aneh, seolah baru saja memindahkan bidak terakhir dalam permainan catur yang tak pernah dimenangkan siapa pun. Purbaya Yudhi Sadewa, sang Menteri Keuangan, berbicara tentang langkah baru yang tak pernah dibayangkan oleh para birokrat masa lalu: negara akan memanggil para hacker, para penembus dinding digital, untuk menambal bocornya jantung data pajak bangsa yang bernama Coretax. Di balik nadanya yang datar terselip sesuatu yang samar: rasa bangga yang berbaur dengan kegelisahan. Sebab apa yang lebih menakutkan daripada sebuah negara yang harus diselamatkan oleh para peretasnya sendiri?

Di dunia yang lain, beberapa bulan sebelumnya, seperti ditulis Denny JA dengan judul “Dan Artificial Intelligence Pun Diangkat Menjadi Menteri” bercerita tentang sebuah berita dari Albania, negara kecil di Balkan yang tiba-tiba melompat jauh ke masa depan. Di sana, pemerintah mengangkat sosok digital bernama Diella, sebuah Artificial Intelligence yang diberi gelar menteri dan diberi tugas memberantas korupsi. Ia tidak bernafas, tidak mengenal lapar, tidak mengenal rasa takut. Tak ada darah, tapi penuh logika, tak ada kepentingan, hanya algoritma yang bekerja seperti doa yang tak bisa disuap.

Diella tampil dalam wujud perempuan berpakaian adat rakyat Albania, suaranya jernih, tidak menuntut kepercayaan, namun justru menimbulkan ketakziman baru, karena untuk pertama kalinya, janji pemberantasan korupsi diucapkan oleh sesuatu yang bukan manusia. Dunia menatapnya dengan rasa takjub bercampur gentar, seperti anak kecil yang melihat api untuk pertama kali: indah, tapi tak bisa disentuh.


Bayangan tentang Diella menimbulkan gema yang aneh di kepala, ada sesuatu yang terasa familiar, seperti deja vu dari dunia sinema dua dekade lalu. S1m0ne, film lama dari tahun 2002, berkisah tentang sutradara yang menciptakan aktris digital bernama Simulation One (Simone) sebuah ciptaan sempurna yang memikat dunia dengan pesonanya. Simone tidak pernah ada, namun dunia mengidolakannya, bahkan mencintainya. dan di situlah paradoks itu lahir: manusia selalu ingin sesuatu yang murni, tapi hanya mampu menciptakannya dalam bentuk ilusi.



Kini, ilusi itu berjalan di antara kita, dengan bentuk yang lebih halus, lebih nyata, lebih sistematis, dalam dunia yang dikendalikan data, manusia mulai bernegosiasi dengan algoritma dan berunding dengan kode. Bayangkan jika suatu pagi, di Jakarta yang masih berkabut oleh debu politik, pemerintah mengumumkan hadirnya seorang Dirjen Pajak digital, AI yang menghitung semua transaksi dengan ketepatan sempurna, yang tidak mengenal amplop, tidak mengenal kasihan, dan tidak pernah tidur. Publik mungkin akan bersorak karena merasa menemukan obat bagi penyakit lama, namun di balik sorak itu, ada rasa waswas yang menggantung: manusia selalu takut pada ciptaannya sendiri ketika ciptaan itu mulai melampaui batas tuannya.

Para hacker yang kini dipanggil oleh sang menteri bisa saja menjadi para patriot digital, penjaga baru negeri yang retak oleh kebocoran data dan korupsi yang tak pernah benar-benar mati. Mereka bekerja di sunyi, di hadapan layar yang memantulkan wajah mereka sendiri, dengan mata yang menyala oleh cahaya biru system, dalam diam, mereka memegang kunci dunia yang tak terlihat: dunia di mana uang bisa menguap tanpa jejak, dan kebenaran bisa dihapus dengan satu perintah.Namun di sisi lain, mereka juga bagian dari paradoks itu sendiri, manusia yang mampu menembus sistem, tapi tak selalu mampu menembus nuraninya.

Artificial Intelligence bisa bekerja lebih cepat dari detak jantung manusia, dan mungkin lebih akurat dari nurani yang telah lama aus oleh godaan dunia. Ia tidak mengenal lapar, tidak pernah lelah, dan tidak butuh pujian, di tangan algoritma, angka menjadi ayat yang tak bisa dibantah, keputusan menjadi sebersih logika yang tak punya selera. Mungkin jika suatu hari ia diangkat menjadi pejabat, meja birokrasi akan berhenti berdebu oleh amplop. Tak akan ada lagi tanda tangan yang gemetar oleh rasa takut kehilangan jabatan, atau laporan yang disusun dengan tinta kepentingan, di ruang-ruang kantor yang selama ini berisi bisik-bisik transaksi, hanya akan terdengar dengung mesin yang setia menghitung tanpa menipu.

Dalam sejarah negeri ini, pernah ada masa ketika para petani, santri, dan penyair menjadi penyelamat bangsa. Mereka bangkit dari tanah, dari sajadah, dari lembar-lembar kertas yang berdebu, membawa harapan dalam bentuk yang paling sederhana: cangkul yang menggali kehidupan, doa yang menegakkan langit, dan kata-kata yang menghidupkan kembali jiwa yang letih. Dari kesunyian sawah, dari pesantren di pinggir sungai, dari rumah-rumah bambu yang penuh cahaya lampu minyak, lahirlah kesetiaan pada tanah air, pada manusia, pada kejujuran yang tak bisa dijual dengan apapun. Mereka bukan pemilik algoritma, tapi mereka memahami ritme bumi dan rahasia hati.

Kini, zaman telah berpindah arah. Di tempat yang dulu berdiri lumbung dan langgar, kini menjulang menara-menara sinyal. Dunia yang dulu diikat oleh sabda, kini diatur oleh sistem. Dan mungkin, penyelamat itu datang dalam wujud yang tak pernah dibayangkan oleh para pendahulu: mereka yang hidup di dunia maya, bernafas melalui jaringan, bekerja dalam kesunyian cahaya biru layar. Mereka bukan malaikat, tidak pula nabi, namun di jari-jarinya mengalir bahasa baru—bahasa yang hanya dimengerti oleh mesin, tapi perlahan menulis ulang nasib manusia. Mereka duduk di hadapan layar seperti para rahib digital, menatap baris-baris kode seperti ayat yang terus diperbarui. Tak ada aroma tanah, tak ada denting azan, hanya suara kipas prosesor yang terus berputar, seolah zikir yang tak henti-henti. Dari balik cahaya itu, mereka mencoba menambal retak dunia—mencegah bocornya data, menjaga kejujuran yang telah kehilangan alamat.

Di tangan mereka tersimpan kemungkinan baru: masa depan yang tidak lagi digerakkan oleh tangan, melainkan oleh logika yang tak punya rasa. Sebuah dunia yang bersih tapi beku, jujur tapi sunyi, efisien tapi tanpa getar kasih. Dan entah bagaimana, manusia harus belajar hidup di dalamnya, antara rindu pada masa lalu yang hangat dan keyakinan pada masa depan yang serba pasti. Sebab zaman terus bergerak, dan penyelamat selalu berganti rupa. Dulu mereka datang dengan cangkul, tasbih, dan pena; kini mereka datang dengan algoritma, jaringan, dan layar tanpa wajah. Namun satu hal tak berubah: mereka tetap berjuang, dengan cara mereka masing-masing, untuk menjaga sesuatu yang nyaris hilang—jiwa manusia di tengah dunia yang perlahan menjadi mesin.

Diella di Albania mungkin sedang menatap ke arah selatan dunia, ke negeri yang sedang mencoba menambal lubang-lubang digitalnya dengan cara-cara lama yang dibungkus istilah baru. Jika ia mampu tersenyum, mungkin ia akan tersenyum. Karena pada akhirnya manusia memang selalu berlari di belakang ciptaannya sendiri—menciptakan mesin untuk menambal kesalahan manusia, dan menciptakan manusia untuk memperbaiki kesalahan mesin.

Negeri ini, seperti kapal tua di tengah badai, berderit di setiap sisinya. Bukan karena angin politik, melainkan karena gelombang data yang tak kasat mata, yang bergerak lebih cepat daripada logika para pengelolanya. Para hacker itu hanyalah penambal sementara, peretas bocor demi bocor, dalam kapal yang terus berlayar di tengah lautan algoritma. Mungkin di ujung perjalanan nanti, akan lahir versi Indonesia dari Diella—sebuah entitas digital yang duduk di kursi birokrasi, menandatangani kebijakan tanpa tremor, berbicara tanpa salah diksi, dan tak mengenal kampanye. Negara akan memujanya, sebagaimana dulu memuja dewa-dewa di masa lampau.

Namun di antara semua kemungkinan itu, masih tersisa satu ruang kecil yang tidak bisa dijangkau mesin mana pun: ruang di mana manusia menyimpan rasa malu, cinta, dan doa. Selama ruang itu masih ada, dunia belum sepenuhnya kehilangan jiwanya, karena ada sesuatu dalam diri manusia yang tak bisa diretas, bukan oleh hacker paling jenius, bukan oleh Diella dari Albania, dan bahkan bukan oleh Simone yang tak pernah benar-benar hidup.

Sesuatu yang tak terukur, tapi ada. Seperti keyakinan. Seperti nurani. Seperti iman.


Penulis adalah ASN Kemenag / Ketua Lentera Sastra Banyuwangi.


 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger